Pascabanjir, Produksi dan Harga Gabah di Lampung Selatan Anjlok

SELASA, 14 MARET 2017

LAMPUNG — Pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lampung Selatan menyisakan masalah tersendiri bagi masyarakat, terutama petani. Saat bencana, sebagian padi roboh dan menyebabkan bulir susah untuk memanen dan bulir padi juga berkurang karena terbawa air.

Seorang petani sedang melakukan pengayakan

Salah satu petani di Desa Sripendowo Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan, Ahmadi (30) menyebutkan, padi yang roboh diterjang banjir mengakibatkan proses pemanenan menjadi terhambat dan lebih lama dari biasanya.

“Terjadi penurunan produksi hasil panen dari semula satu petak sawah dapat menghasilkan sekitar 50 karung ukuran 50 kilogram saat ini hanya menghasilkan sekitar 30 karung,”sebutnya kepada Cendana News, Selasa (14/3/2017).

Selain banjir, hama wereng dan walang sangit yang sempat menyerang sebagian petak sawahnya ikut menyumbang penyusutan hasil produksi padi yang memasuki masa panen pada musim tanam Oktober- Maret ini.

Seorang petani sedang melakukan pengayakan

Sementara itu, harga gabah kering panen di sejumlah kecamatan, disebutkan Ahmadi, saat penghujung masa panen padi berkisar antara Rp3.800 hingga Rp3.900 per kilogram atau mencapai Rp380ribu per kuintal.

“Harga tersebut  lebih rendah dari masa panen sebelumnya yang mencapai Rp4.400 hingga Rp4.500 perkilogram atau mencapai Rp440.000 per kuintal,”jelasnya.

Tidak hanya Ahmadi, petani lainnya, Suminah (40) juga mengalami hal yang sama, hasil panen padinya hanya dibeli pengepul Rp380ribu per kuintal atau Rp3.800 per kilogram.

“Menurut pembeli kualitas padi pada tahun ini cukup jelek karena diserang hama penyakit wereng dan sebagian gabah terimbas banjir sehingga kualitasnya jelek,”terang Suminah.

Salah satu anggota kelompok tani (Poktan) Sinar Harapan di Kecamatan Ketapang, Abdilah (40) mengatakan, musim tanam dan panen kali ini merupakan masa suram bagi petani. Sebagian lahan diterjang banjir ditambah dengan hama yang menyerang. Ia menyebut harga jual gabah diawal musim panen masih terbilang bagus namun saat panen raya padi harga padi bisa anjlok dan jauh dari harapan petani.

“Padahal jika dihitung hasil penjualan tersebut tidak sebanding dengan dengan biaya produksi baik untuk pengolahan, perawatan hingga pascapanen,”ungkap Abdilah.

Proses panen secara tradisional

Kualitas padi yang cukup jelek pada masa panen kali ini bahkan diakui Abdilah membuat sebagian petani memilih menjual karena sebagian sudah terkena penyakit wereng. Ia berharap pada masa tanam selanjutnya hasil padi yang ditanam petani memiliki harga yang cukup bagus dan berpihak kepada petani.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...