KPI Nila Makmur, Rintis Percontohan Budi Daya Nila Sistem Mina Padi

JUMAT, 3 MARET 2017

SLEMAN — Sebagai upaya mengembangkan usaha kelompok, Kelompok Petani Ikan (KPI) Nila Makmur, di Dusun Klampok, Karangasem, Sendangtirt, Berbah, Sleman, mencoba mengembangkam sistem pertanian tumpang sari mina padi. Bekerjasama dengan kelompok tani dusun setempat, KPI Nila Makmur melakukan pembesaran ikan nila dengan memanfaatkan lahan pertanian yang ada.

Ketua KPI Nila Makmur, Haris Wibowo (kanan).

Ketua KPI Nila Makmur, Haris Wibowo, mengatakan, mulai mencoba mengembangkan sistem mina padi sejak 6 bulan terakhir. Pada tahap awal, KPI Mina Makmur masih memanfaatkan satu petak lahan pertanian seluas 1500 meter persegi untuk pembesaran ikan nila, baik dari larva ke bibit maupun dari bibit ke konsumsi. Upaya ini merupakan rintisan percontohan program Minapolitan khususnya untuk sistem mina padi di wilayah Berbah, Sleman.

“Kita mencoba mengembangkan sistem mina padi ini karena melihat potensi dusun dengan ketersediaan sumber air yang melimpah sepanjang tahun. Sehingga sangat cocok untuk menerapkan sistem mina padi. Memang ini masih tahap awal. Namun kita harapkan nantinya ini bisa menjadi percontohan di wilayah Berbah, ” katanya kepada Cendana News, Jumat (03/03/2017).

Bekerjasama dengan Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, KPI Nila Makmur telah melakukan dua kali penebaran bibit ikan nila. Dikatakan Haris, penebaran pertama sistem mina padi ini berupa larva ikan nila untuk dipanen berupa bibit. Sementara pada penebaran kedua berupa bibit ikan nila untuk dipanen berupa ikan konsumsi.

“Dari hasil percobaan pertama, memang masih banyak ikan yang mati di awal. Ini lebih karena pengaruh kondisi bibit yang kurang baik. Sementara untuk pertumbuhan padi sangat bagus dan tumbuh subur. Hanya saja karena waktu panennya tidak berbarengan dengan yang lain, maka menjadi sasaran empuk hama burung. Jadi kendala lebih pada persiapan yang kurang matang. Sementara untuk percobaan kedua ini sudah semakin baik,” katanya.

Haris mengatakan, salah satu kendala KPI Mina Makmur dalam mengembangkan usaha kelompok adalah keterbatasan lahan kolam yang hanya seluas 7000 meter persegi. Sehingga melalui sistem mina padi dengan memanfaatkan lahan pertanian, luasan lahan diharapkan akan bisa bertambah. Terlebih di Dusun Klampok, masih banyak lahan pertanian yang bisa dimanfaatkan untuk menerapkan sistem mina padi.

“Selain bisa menghemat pupuk karena sudah ada pakan alami, dengan sistem mina padi ini, para petani juga akan bisa mendapatkan hasil dari perikanan. Sehingga kita terus mengajak kelompok tani untuk bersinergi. Nantinya selain mina padi, kita juga berencana menerapkan sistem udang galah padi atau udagi di lahan seluas setengah hektar. Karena dibanding nila, udang galah memiliki harga jual yang lebih baik,” katanya.

Haris berharap rintisan pengembangan sistem mina padi tersebut dapat berjalan konsisten sehingga akan menjadi percontohan bagi kelompok lain di wilayah Berbah. Dengan begitu akan semakin banyak petani yang mau bekerjasama dan bersinergi untuk mengembangkan sistem mina padi.

Budi daya ikan nila dengan sistem mina padi di Dusun Klampok, Karangasem, Sendangtirto, Berbah, Sleman.

“Tanpa ada contoh yang sudah berhasil tentu sulit mengajak petani atau kelompok lain. Tapi jika percontohan ini berhasil pasti otomatis akan ada yang mengikuti,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...