Keberadaan Buku Digital Tidak Mempengaruhi Pengunjung Perpustakaan di Makassar

SELASA, 14 MARET 2017

MAKASSAR — Perkembangan internet boleh semakin maju,  salah satu produk internet ialah adanya buku digital. Namun meski perubahan zaman telah berubah tetap saja perpustakaan menjadi tetap menunjukan eksistensinya.  Mulai dari perpustakaan di bawah naungan Kemendikbud. Pada  2008 menjadi badan Perpustakaan dan Kearsipan Wilayah Daerah. 
Suasana Perpustakaan dan Kearsipan Wilayah Daerah
Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perpustakaan Kota Makassar, Firman NM jumlah pengunjung tetap tinggi. Rata-rata  pengunjung  mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Makassar.

Hal ini ditunjukkan dengan jumlah pengunjung yang banyak.  “Pengaruh terhadap IT itu tidak berubah terhadap buku dan itu terbukti dari jumlah pengunjung yang semakin meningkat,” ungkap Firman kepada Cendana News Selasa (14/03/2017).

Perpustakaan yang terletak di Jalan Sultan Alauddin Ini, semejak berdiri perpustakaan ini telah melakukan 3 kali perubahan nama. Mulai dari perpustakaan di bawah naungan Kemendikbud. Pada  2008 menjadi badan perpustakaan dan Kearsipan Wilayah Daerah.

Memasuki Januari 2017, perpustakaan ini memisahkan diri dan berdiri sendiri menjadi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Saat ini perpustakaan memiliki 44 pegawai. 

Firman menjelaskan pihaknya pernah mengadakan buku digital, tetapi sekarang sudah tidak lagi karena terkendala dengan penolakan sejumlah penulis buku. Pengadaan ini juga akan melanggar hak cipta.

“Bisa saja buku digital diadakan di perpustakaan. Tetapi ini perlu dibeli dan ini sangat bertolak belakang bahwa perpustakaan itu sebagai pelayanan publik,” cetus Firman.  

Kelengkapan Buku Menentukan 
Hal senada di ungkapkan oleh Nurul Pratiwi mahasiswi Fakultas Ilmu keguruan dan Pendidikan Jurusan  Matematika dari Universitas Muhaamadyah Makassar (Unismuh).  Dia lebih suka datang ke perpustakan daerah dibandingkan perpustakaan yang ada di kampusnya.

“Saya lebih konsentrasi membaca di perpustakaan ini dibandingkan perpustakaan kampus. Di perpustakaan kampus juga sangat terbatas mulai dari tempatnya dan waktunya,” kata  Nurul pada Cendana News pada kesempatan yang sama.

Maria selaku kepala seksi layanan perpustakaan menjelaskan, walaupun ada buku digital dan anak muda sekarang juga cenderung mengambil literatur dari internet. Sayangnya,  penjelasan di internet itu dinilai tidak terlalu mendalam dan lengkap.

“Ini perlu kerjasama oleh segala pihak seperti guru. Mereka juga harus tahu apakah pernyataan dari sebuah situs di internet benar atau tidak,”  jelas Maria.

Diharapkan bahwa perpustakaan ke depannya terbatas. Satu perpustakaan di pusat  (Jakarta) dan satu di setiap kota  sehingga koleksi buku yang tersedia dapat dikontrol pengadaanya.  

“Percuma kalau banyak tetapi pengunjungnya sepi, karena koleksi buku kurang,” cetus Maria.
Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah
Lihat juga...