Janji Kosong Berbuah Kekecewaan Sastrawan Papua

KAMIS, 23 MARET 2017
 
JAYAPURA — Penghargaan, piagam, sertifikat atau apalah itu terus dijanjikan pemangku kebijakan di lingkungan pendidikan Kota Jayapura. Tak peduli dapat atau tidak, pelajar itu tetap berkarya dengan menulis buku keduanya berjudul Black Brothers Musik dalam Sastra. Melihat hal itu, Sastrawan Papua, Igir Al-Qatiri, tuangkan kekecewaannya.

Kepala SMA Negeri 2 Jayapura, Christina D. Widyastuti.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Jayapura, I Wayan Mudiyasa, mengaku, akan memanggil siswa-siswi SMA Negeri 2 yang telah menulis buku tersebut. Menurut Wayan, pencapaian itu jarang sekali dilakukan pelajar tingkat SMA dan itu membawa nama baik sekolah, Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura bahkan Provinsi Papua.

“Nama baik untuk kepunahan burung Cenderawasih yang ditulis itu luar biasa sekali. Nanti tanggal 20 (Maret) saya akan panggil mereka dan kami Pemerintah Kota akan berikan penghargaan buat mereka,” kata I Wayan Mudiyasa, Senin (13/3/2017), lalu.

Kini, Igir Al-Qatiri sastrawan satu-satunya di Papua angkat suara lantang. Dirinya dengan sukarela tanpa permintaan apap un melatih menulis kepada 10 (sepuluh) pecinta sastra dari SMA Negeri 2 Kota Jayapura tahun lalu kecewa atas janji manis kepala sekolah yang selama ini menjadi salah satu sekolah unggulan jajaran SMA. Sementara, diakuinya buku Punah itu adalah sejarah literasi dunia sastra pertama yang ditulis anak SMA di Papua.

“Buku itu ditulis anak muridnya sendiri. Kok hari ini, baru Kepseknya kaget terjaga dan hendak memberikan penghargaan kepada 10 siswa tersebut selama ini di mana saja beliau? Padahal usia buku itu nyaris setahun semenjak diterbitkan hingga hari ini. Apa ada yang salah dengan Kepseknya?” demikian kekecewaan Igir saat ditemui Cendana News, Kamis (23/3/2017), malam.

Dirinya sempat mendengar, kepala sekolah sudah janji dari beberapa bulan lalu setelah buku tersebut terbit, dengan janji akan memberikan penghargaan pada saat upacara bendera. Akan tetapi, lanjut Igir, pada kenyataannya itu hanyalah kabar angin tanpa nyata hingga detik ini.

Igir Al-Qatiri.

“Mungkinkah beliau benar-benar sibuk di sekolahnya. Sehingga tertelan kelupaan yang dalam? Ataukah jangan-jangan Kepseknya mulai ketakutan ketika ada media yang mengekspos berita buku Punah dan berita itu sempat menjadi berita terpopuler di Indonesia? Kebingunganku hampa jawab,” tuturnya dengan nada bertanya.

Dinas Pendidikan Kota Jayapura sendiri pernah memberi janji berikan penghargaan kepada sepuluh anak murid sekiranya tanggal 20 Maret 2017. Kekecewaan yang sama juga harus diterima pelajar-pelajar pecinta sastra itu.

“Kenyataannya, nol besar! Sekali lagi atas nama kebingungan dari latah pejabat yang rajin mengobral janji aku muak! Ini saya yang bicara atas nama keprihatinan dari perkembangan dunia sastra di Papua,” katanya dengan tegas.

Kalau pejabat-pejabat di jajaran dinas pendidikan semuanya seperti ini, lanjut Igir, maka selamanya Papua tak akan pernah maju di bidang literasi. “Kenapa? Karena pejabat-pejabat seperti tak mendukung adanya perubahan bagi inovasi,” demikian ditegaskan Igir yang berdarah campuran Ternate, Cina, Arab dan Sorong itu.

Kepala SMA Negeri 2 Jayapura, Christina D.Widyastuti, saat ditemui mengaku kelompok sastra di lingkungan sekolahnya, terus eksis menulis. Dikatakannya, kelompok itu digagas langsung Guru Geografi, Vonny  Aronggear yang menjadi pentolan sekolah tersebut dalam dunia sastra. “Mereka bisa buat sastra dan menuliskannya ke sebuah buku Punah yang isinya ada cerita rakyat, puisi. Juga ada kelompok teater,” kata Widyastuti, Kamis (23/3/2017).

Penghargaan dalam bentuk lisan, pihaknya terus memberikan apresiasi dengan mengumumkan pencapaian anak-anak ini kepada murid-murid di lingkungan sekolah yang ia pimpin. Hal itu dilakukan, lanjtunya, agar anak-anak pecinta sastra mendapatkan kepercayaan diri serta rasa bangga atas apa yang mereka raih dan harumkan nama sekolah.

“Sekolah selalu memberikan waktu dan ruang untuk mengekapresikan apa yang mereka inginkan. Dukungan dari sekolah selalu ada. Hanya namanya sekolah negeri ya kita keterbatasan dana,” tuturnya.

Buku Punah.

Dalam proses pembuatan buku Punah pihaknya memberikan sejumlah dana sekitar lima juta rupiah sebagai bentuk dukungan dari sekolah terhadap anak muridnya. Tak hanya itu, pihaknya juga membuat proposal ke Bank Papua dan disetujui.

“Karena untuk buat buku kan perlu dana besar, sesuai dengan sekolah miliki ya kita bantu lima juta sebagai modal awal. Buku Punah yang sudah dicetak waktu itu, silakan dijual, silakan diatur kalau ada uang yang masuk, silakan dikembangkan,” ujarnya.

Sebagai bekal untuk di perguruan tinggi atau tanda bukti mereka telah berkarya, dirinya berjanji akan berikan piagam atas nama sekolah. Kebetulan sekolah yanf ia pimpin mendapat juara umum Olimpiade Sains sehingga dirinya akan menyatukan pernghargaan tersebut pada satu momen.

“Saya mau jadikan satu momen, nanti saat upacara, khusus kemungkinan dua minggu ke depan itu saya akan berikan di depan teman-temannya dalam satu upacara, termasuk yang buat buku sastra,” kata Widyastuti yang memimpin sekolah itu sejak Juli 2014 hingga kini.

Kesepuluh pelajar itu masing-masing Annisa Infandi, Hilbrand Tuanakotta, Kintan Adhelvyana Dwiguna Fabanyo, Laura Elsa Kabuare, Nila Margi Jihani, Nilawati Dwiputry, Sundari, Takdir, Wilfred Palangan, dan Yuliana Aksamina Siriyey telah dijanjikan dapat penghargaan dari Dinas Pendidikan Kota Jayapura.

Buku terbitan bulan Juli 2016 dan laris manis 3000 buku, beredar di kota-kota besar se-Indonesia bulan Agustus di tahun yang sama. Buku Punah itu sempat menjadi perbincangan di dunia media sosial (medsos) tentang anak-anak pelajar yang mampu menghasilkan karya sastra. Masuk delapan bulan sudah, pelajar-pelajar ini hanya dapat pujian lisan, bukan tulisan yang nantinya menjadi dorongan berkarya untuk bangsa di bidang sastra.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta

Lihat juga...