JUMAT, 31 MARET 2017
SEMARANG — Menyikapi perkembangan fenomena Rembang, Gerakan Mahasiswa Peduli Kendeng (GMPK) mengajak aliansi mahasiswa lainnya untuk ikut bergabung dalam menyuarakan aspirasi dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) yang tengah berjuang mempertahankan tanah leluhurnya.
![]() |
| Aksi GMPK di Semarang, Jumat (31/3/2017)> |
Salah satu perwakilan GMPK dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) Nico Andi Wauran, menyebutkan, mahasiswa adalah kaum intelektual yang ditempa di perguruan tinggi, dengan ilmu pengetahuannya mereka diharapkan bisa melakukan pemberdayaan, khususnya di bidang hukum.
“Mahasiswa juga harus cepat merespon permasalahan masyarakat ketika berhadapan dengan kesewenang-wenangan penguasa yang sering menggunakan kebijakan untuk menindas rakyat,” kata Nico.
Dirinya menilai bahwa sebagai seorang pemimpin, semua perkataan Ganjar Pranowo tidak bisa dipertanggungjawabkan. Apa yang sering dijanjikannya tentang pembangunan pabrik semen dipastikan akan berhenti ketika warga menempuh prosedur hukum juga tidak pernah ditepati.
Ketika Mahkamah Agung mengabulkan Peninjauan Kembali ijin amdal yang mengharuskan PT Semen Indonesia menghentikan kegiatan operasional, nyatanya Ganjar membela kepentingan pemodal dengan mengeluarkan adendum baru sehingga pabrik semen bisa beroperasi kembali
“GMPK Hadir untuk mengisi ruang kosong para mahasiswa dari berbagai kampus untuk membela perjuangan JMPPK,” terang Nico saat ditemui CDN (31/3/2017)
Menyikapi perbedaan pendapat mahasiswa mengenai pembangunan pabrik semen PT SI, Nico menyatakan sesuatu yang wajar asalkan mempunyai dasar yang tepat dan bisa dipertanggungjawabkan di ranah akademis. Menurutnya perbedaan sudut pandang tersebut berasal dari sudut pandang ekonomi, lingkungan dan budaya yang beragam sehingga menghasilkan tujuan yang berbeda pula
Sementara itu penggiat GMPK Hanindya Disha Randy Raharja menambahkan bahwa selama satu bulan penuh saat JMPPK mendirikan tenda di Kantor Gubernuran. GMPK mensupport penuh perjuangan mereka karena memang sudah dari tahun 2014 konsisten mengawal perjuangan hukum di PTUN.
Jalan yang dilakukan GMPK dalam memperjuangkan Kendeng antara lain mengadakan diskusi lewat forum-forum akademis. Karena baginya konsekuensi mahasiswa ketika berjuang adalah mempertanggungjawabkan ilmu, keahlian dan kecerdasan yang dimiliki, setelah mengaplikasikan ketiga aspek tersebut barulah kerangka tujuannya diserahkan ke personal mahasiswa tersebut, apakah buat kapital atau kemanusiaan.
“Tidak hanya mahasiswa, akademisi pun ada yang pro dan kontra tetapi jika dalam forum dialektika tidak masalah, kami akan terus melakukan propaganda dukungan sesuai sikap kami selama ini,” ujar mahasiswa Unnes tersebut
Selain melakukan propaganda di forum ilmiah, GMPK juga melakukan tindakan lainnya seperti demonstrasi jalanan maupun mengajukan surat audiensi ke pemprov, walaupun sering tidak direspon tetapi dirinya mengaku tidak gentar. Esensi perjuangan bukanlah dilihat dari hasil, tetapi jerih payah untuk melewati proses tersebut.
Sebagai tangan kanan JMPPK, mahasiswa akan menyebarkan setiap perkembangan yang terjadi di Kendeng ke seluruh Indonesia karena kekuatan utama yang dimiliki GMPK adalah jejaring sosial antar mahasiswa yang relatif independen.
“Perjuangan yang dilakukan JMPPK sangat berliku, meninggalnya Ibu Patmi menjadi bukti bahwa warga Kendeng akan mempertahankan tanah pertanian mereka sampai kapanpun,” tukas Hanindya.
Karena itu dirinya berharap dukungan dari seluruh mahasiswa yang ada di Indonesia untuk berjuang bersama-sama menyuarakan perlawanan terhadap pemerintah yang telah lalai melaksanakan tugasnya melindungi masyarakat kecil.
Apapun konsekuensi yang diterima adalah bagian yang harus dilewati, karena perjuangan melawan penguasa tidak “gratis”, ada harga yang harus dibayar ketika mahasiswa memutuskan berpihak kepada rakyat kecil.
Jurnalis: Khusnul Imanuddin/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Khusnul Imanuddin