JUMAT, 31 MARET 2017
LAMPUNG — Harga gabah kering panen yang hanya mencapai Rp380.000 per kuintal atau Rp3.800 per kilogram dan maksimal Rp390.000 per kuintal atau Rp3.900 per kilogram di tingkat pengepul gabah, membuat sejumlah petani padi menyimpan padi yang mereka miliki di rumah dan sejumlah tempat penggilingan padi.
![]() |
| Sutopo, pemilik gabah yang memilih menyimpan padi di rumah saat harga gabah rendah. |
Salah satu pemilik padi, Sukandar (45), mengungkapkan, memiliki sebanyak 1 ton padi yang sebagian sudah dijual ke pengepul padi dengan harga Rp380.000 per kuintal. Namun sebagian padi yang masih dimilikinya dikeringkan terlebih dahulu dan disimpan di penggilingan padi sekaligus sebagai tabungan dan sebagian disimpan di gudang rumah. Harga yang cukup murah pada masa tanam Oktober-Maret ini diakuinya lebih rendah dibanding sebelumnya, harga gabah bisa mencapai Rp4.000 per kilogram atau sekitar Rp400.000 per kuintal.
Menyimpan gabah dan menggiling saat dibutuhkan, diakui Sukandar, lebih menguntungkan dibandingkan menjual semua gabah miliknya dan membeli beras untuk keperluan sehari-hari. Sistem titip atau menyimpan gabah di gudang penggilingan padi di Desa Klaten, Desa Pasuruan serta beberapa desa di wilayah Kecamatan Penengahan, merupakan sebuah kearifan lokal yang masih dilestarikan hingga kini akibat keberadaan lumbung padi yang kini sukar ditemui. Ia menyebut, meski sudah ada lumbung padi yang dibuat di desa, namun sebagian petani memilih menitipkan, menyimpan gabah di penggilingan padi.
“Kalau menyimpan di lumbung desa kami harus kesulitan mengoper dari rumah ke lumbung. Selanjutnya, dibawa ke penggilingan padi baru dibawa ke rumah. Tapi kalau disimpan di penggilingan kami tinggal menggiling saat butuh beras karena beras sudah disimpan dalam bentuk kering. Kalau akan digiling tinggal menjemur beberapa jam,” terang Sukandar, salah satu petani yang menjemur gabah saat ditemui Cendana News di Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), Jumat (31/3/2017).
Sistem pencatatan dilakukan oleh pemilik penggilingan baik nama pemilik, jumlah gabah dalam karung yang dititipkan, dan saat proses penggilingan sehingga diketahui jumlah terpakai dan jumlah tersisa. Selama ini, proses penggilingan padi di wilayah tersebut menggunakan sistem bagian dimana untuk lima kilogram beras hasil giling pemilik penggilingan mendapat bagian satu kilogram. Sistem “bawon” dengan bagian tersebut juga berlaku saat masih masa panen di sawah sehingga pemilik sawah dan penggarap sama-sama mendapatkan hasil.
Beberapa kuintal gabah kering yang sudah disimpan di penggilingan padi, menurut Sukandar, baru akan digunakan saat padi tersebut akan digunakan. Keperluan pembelian pupuk pada masa tanam selanjutnya, keperluan makan sehari-hari pun tetap dipenuhi dengan menjual gabah dalam bentuk beras karena saat ini harga beras bisa mencapai Rp9.700 hingga Rp10.500 untuk jenis padi varietas Ciherang. Ia mengaku, memilih menyimpan gabah daripada menjual semua gabahnya dan membeli beras terutama saat harga gabah di tingkat petani sedang turun.
Hal yang sama juga diakui petani lain di desa yang sama, Sutopo (40) yang terlihat menjemur padi bawon miliknya. Ia mengaku, saat ini selain harga yang turun saat musim panen, petani direpotkan dengan kerap mendung dan bahkan turun hujan. Membuat ia harus menunggu gabah yang dijemur karena sewaktu-waktu turun hujan tiba-tiba. Akibat cuaca mendung dan hujan, ia bahkan harus menggunakan penutup terpal dengan masa penjemuran gabah normal mencapai dua hingga tiga hari, sementara saat mendung bisa mencapai lima hari.
“Kualitas gabah saat musim hujan memang rendah sehingga harganya juga rendah. Daripada dijual saya simpan sendiri karena jumlahnya sedikit saya simpan di rumah. Kalau yang hasil panennya banyak menyimpan di tempat penggilingan,” ungkap Sutopo.
Selain hasil beras yang terkadang hitam saat digiling, ia mengaku, beras banyak yang pecah sehingga saat dijual harganya murah. Ia memilih menggunakan gabah yang sudah dijemur untuk digiling menjadi beras dan dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari hingga masa panen musim berikutnya.
Sistem penyimpanan gabah di tempat penggilingan padi tersebut dibenarkan oleh Mikun (43), pemilik tempat penggilingan padi di desa setempat. Selain memiliki lokasi luas untuk penyimpanan, bersih dan aman, sistem penyimpanan tersebut bisa menguntungkan kedua belah pihak. Bagi pemilik gabah yang disimpan, selain menghemat tempat di rumah masing-masing, saat kebutuhan akan beras sewaktu-waktu tinggal meminta digilingkan dan akan dicatat gabah tersimpan yang digiling.
“Bagi kami pemilik penggilingan menyimpan berarti menjadi pelanggan tetap kami, karena kami tak perlu repot mengambil gabah di rumah warga yang gabahnya akan digiling,” terang Mikun.
![]() |
| Mikun (baju biru) dan sang anak melakukan proses penggilingan padi. |
Mikun mengungkapkan, untuk proses mengambil gabah dari warga, ia menggunakan sistem keliling dari kampung ke kampung menggunakan mobil. Setelah gabah diambil dibawa ke penggilingan, sesuai catatan dan nama di karung masing-masing beras diantarkan ke rumah warga pemilik gabah. Harga beras yang kini berkisar Rp9.700 dan bahkan bisa lebih, membuat sebagian pemilik gabah memilih menjual dalam bentuk beras. Terutama untuk keperluan sehari-hari dan kebutuhan mendesak dibandingkan menjual gabah yang harganya masih rendah.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
