Gelar Macapat, Upaya Lestarikan Puisi Tradisional Jawa

SELASA, 21 MARET 2017

YOGYAKARTA — Sebagai upaya melestarikan puisi tradisional Jawa atau biasa disebut macapat, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta akan menyelenggarakan acara gelar macapat di 2017, ini. Gelar macapat merupakan kegiatan rutin bulanan berupa pementasan macapat di setiap kecamatan yang ada di Kota Yogyakarta.

Safrin Nur Asrini 

Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Bidang Pelestarian dan Pengembangan Sejarah dan Bahasa, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Safrin Nur Asrini, mengatakan kegiatan gelar macapat 2017 rencananya akan mulai dilangsungkan pada April, mendatang. Acara yang biasanya digelar setiap malam minggu ini akan melibatkan paguyuban macapat di setiap kecamatan. “Kegiatan gelar macapat ini akan kita galakkan kembali sebagai bagian nguri-uri budaya Jawa. Karena, sebelumnya kegiatan ini sempat terhenti. Selain gelar macapat, kita juga merencanakan sejumlah kegiatan lain seperti  lomba langen carito atau cerita berbahasa Jawa, lomba penulisan legenda Jogja, hingga lomba penulisan sastra Jawa,” katanya, Selasa (21/3/2017).

Melalui sejumlah kegiatan tersebut, diharapkan juga bisa mengajak masyarakat, khususnya, generasi muda, agar lebih tertarik untuk mengenal, mempelajari dan menggali kesusastraan Jawa, yang saat ini kegiatan semacam itu semakin terpinggirkan dan jarang digelar di masyarakat. “Menumbuhkan minat generasi muda untuk mau mengenal apalagi mempelajari bahasa dan karya sastra Jawa memang tidak mudah. Apalagi, di zaman yang serba terbuka seperti saat ini. Selain mendorong upaya pelestarian, kapasitas kita sebenarnya lebih pada upaya memfasilitasi dan menggugah saja. Karena karya sastra Jawa seperti macapat ini, bila dipelajari mengandung banyak sekali nilai-nilai falsafah hidup yang sangat tinggi,” katanya.

Macapat merupakan tembang atau puisi tradisional yang berasal dari kebudayaan Jawa. Setiap bait tembang macapat memiliki baris kalimat yang disebut dengan istilah gatra, dan setiap gatra memiliki sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu dan yang berakhir pada bunyi sajak akhir disebut sebagai guru lagu.

Karya-karya kesusastraan klasik Jawa pada masa Mataram, biasanya ditulis dalam bentuk macapat. Misalnya, Serat Wulangreh, Serat Kalatidha, Serat Wedhatama, dan banyak lagi. Macapat biasanya juga digolongkan dalam beberapa kategori. Tembang macapat sering diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yang berarti cara membacanya setiap empat suku kata.

Ada banyak jenis tembang macapat, di antaranya Mijil, Maskumambang, Sinom, Asmarandana, Kinanthi, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Mêgatruh, hingga Pocung. Setiap jenis tembang macapat tersebut memiliki ciri sendiri-sendiri, yang biasanya mengandung berbagai pesan maupun ajaran tentang falsafah hidup orang Jawa, mulai dari masa kelahiran, remaja, jatuh cinta, dewasa, tua, hingga menjelang ajal dan setelah kematian.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...