SENIN, 13 MARET 2017
SOLO — Kasus tewasnya tiga mahasiswa dalam kegiatan pendidikan dasar (Diksar) Mapala Universitas Islam Indonesia (UII) Yogayakarta, hari ini (13/3/2017) dilakukan rekontruksi di Tlogodringo, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Sayangnya, dalam rekontruksi yang berlangsung dari pagi hingga sore itu, tidak diikuti dua tersangka dan hanya diperankan saksi pengganti.
| Suasana Rekontruksi Diksar Mapala UII Yogyakarta |
“Karena pertimbangan penyidik, kedua tersangka tidak dilibatkan dalam rekontruksi ini. Yang pasti ada alasan tersendiri,” terang Wakapolres Karanganyar, Kompol Prawoko di sela-sela rekontruksi.
Wakapolres enggan berspekulasi alasan tidak diikutkan kedua tersangka. Termasuk kemungkinan terganggunya jalannya rekontruksi karena adanya pihak keluarga korban dan sejumlah masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut.
“Kalau kendala keamanan mungkin tidak, karena pihak keamanan juga disiagakan,” jelas dia.
| Wakapolres Karanganyar Kompol Prawoko |
Rekontruksi dihadiri seluruh peserta Diksar Mapala UII, yakni berjumlah 34 mahasiswa. Rekontruksi diawali dari kedatangan seluruh peserta ke lokasi berkumpul, yakni di lapangan Dusun Tlogodringo, Desa Gondosuli, Tawangangu.
Rekontruksi yang memeragakan 55 adegan itu dilakukan di empat lokasi berbeda. Diantaranya dua di lapangan yang berbeda, dengan jarak yang cukup jauh, di hutan Tlogodringo yang dijadikan kegiatan Diksar, dan lokasi tebing yang digunakan repling.
“Rekontruksi ini ada dua lokasi yang dijadikan satu, karena lokasinya hampir sama dan jaraknya cukup jauh. Sedangkan untuk lokasi tebing dan hutan yang diduga banyak terjadi tindak kekerasan tetap kita sasar,” tambah Kompol Prawoko.
Jalannya rekontruksi sempat terhenti karena hujan deras, yakni saat adegan ke 38. Dari lokasi pertama dan kedua, terlihat seluruh peserta Diksar sudah mendapat tindak kekerasan dari dua tersangka. Baik tamparan, pukulan, tendangan ke arah perut, hingga bantingan yang cukup ektrem.
Sementara itu, keluarga korban mengaku kecewa dengan tidak dilibatkannya dua tersangka dalam rekontruksi kasus yang menewaskan tiga mahasiswa tersebut. Mereka mengaku, jauh-jauh sampai di lokasi kejadian, hanya untuk mengetahui wajah kedua tersangka.
“Saya sebenarnya kecewa, karena tidak bisa melihat secara langsung wajah tersangka yang membuat anak saya meninggal,”ungkap Syafii, yang tak lain ayah dari Ilham Nur Padmi yang menjadi korban dalam Diksar tersebut.
Jurnalis : Harun Alrosid / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Harun Alrosid