RABU, 1 MARET 2017
YOGYAKARTA — Peringatan Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949 tak dapat dipungkiri menjadi fakta sejarah bangsa Indonesia di kancah dunia. SO juga dipercaya sebagai titik awal adanya perencanaan serangan militer yang sangat matang hingga melahirkan operasi gabungan pertama dari berbagai element masyarakat bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI).
![]() |
| Jendral Purn TNI, Djoko Santoso saat menerima cendramata dari Titiek Soeharto |
Hal inilah yang dituangkan Mantan Panglima TNI, Djoko Santoso saat memberikan materi dalam seminar peringatan SO 1 Maret 1949, melihat dari sejarah dari sisi strategi perang militer dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.
“Secara aspek militer, saya sangat mengagumi bahwa SO 1 Maret benar-benar gagasan brillian yang mendekati operasi gabungan,” papar Jendral Purnawirawan TNI, Djoko Santoso di Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Rabu (1/3/2017).
SO 1 Maret yang merupakan pengerahan pasukan militer di tengah proses Diplomasi Antar Bangsa-Bangsa memiliki kemampuan dan strategi militer yang sangat jitu. Bahkan, dalam waktu singkat, SO 1 Maret memiliki perencanaan, konsolidasi dan evaluasi.
“Hebatnya, SO 1 Maret itu hanya direncanakan dalam waktu tiga hari mampu menyatukan serangan dari berbagai elemen. Memang sehari sebelum serangan ada sedikit yang sempat mengganggu. Tapi kenyataannya seluruh prajurit komit dan termotifasi oleh beliau Jendral Besar H.M Soeharto,”sebutnya.
![]() |
| Narsum Seminar Serangan Oemom 1 Maret |
Strategi brillian SO 1 Maret, lebih jauh lagi dampaknya hingga saat ini masih dirasakan oleh bangsa Indonesia. Bahkan, perencanaan operasi gabungan kembali dipraktekkan Presiden Republik Indonesia kedua dalam mempertahankan Irian Barat. Oleh karena itu, ia meminta agar sejarah SO 1 Maret dijadikan agenda nasional.
“SO 1 Maret ini perlu dinasionalkan. Seminar ini jangan hanya di Jogja saja, di Jakarta juga harus digelar. Misalnya TMII,” imbuhnya di depan peserta seminar.
Jurnalis : Harun Alrosid / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Harun Alrosid
