Djoko Santoso Sebut Demokrasi Saat ini Kebablasan

RABU, 1 MARET 2017

YOGYAKARTA — Mantan Panglima TNI, Jendral Purn TNI Djoko Santoso menilai tingkat kesenjangan sosial di Indonesia sangat tinggi dan demokrasi saat ini sudah kebablasan. 

Jendral Purn TNI Djoko Santoso [kanan]

“Demokrasi tidak mungkin berjalan dengan baik apabila kesenjangan sosial tinggi. Hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Ini yang tidak boleh,”sebut Panglima TNI periode 2007-2010 di sela-sela seminar Serangan Oemoem 1 Maret “Membuka Mata Dunia” di Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Rabu (1/3/2017).

Jenderal Purnawiran juga melihat situasi perpolitikan saat ini tak nenentu dan ada upaya untuk memeceh belah TNI. Tidak stabilnya perpolitikan salah satunya dipicu karena tidak tegaknya keadilan.

“Kalau kekuasaan dipegang segelintir orang, itu pasti tidak stabil,”ucapnya mengutip perkataan Aristoteles

Disebutkan juga, ia yang sudah purna tugas dengan bangga turun menjadi aktivis untuk menyelamatkan NKRI.

“Kita bikin gerakan untuk selamatkan NKRI, tidak ada yang melanggar hukum. Eh malah diperiksa polisi. Saya sebenarnya nunggu apakah sekalian ditahan. Kalau saya ditahan justru pangkat saja jadi jendral lagi, Jendral Aktivis,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam mempertahankan kedaulatan NKRI. Diantaranya, meningkatkan kewaspadaan nasional, memilih pemimpin yang pancasialis, relegius, dan cerdas serta rekontruksi Konstitusi.

“Ini kenapa harus rekontruksi, karena sekarang ini konstitusi kita sudah banyak yang diubah,” pungkasnya.

Ia juga mengkritik Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) yang dirasa kurang maksimal dalam pertahanan laut, dibuktikan dengan banyaknya kasus penawanan terhadap kapal Indonesia oleh gerakan sparatis Filiphina.

Jurnalis : Harun Alrosid / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Harun Alrosid

Lihat juga...