Perawatan Mahal, PAMSIMAS Mangkrak

SELASA 14 FEBRUARI 2017
MARABAHAN—Satu unit instalasi Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) setinggi 20-an meter tampak kusam tanpa perawatan. Instalasi air bersih yang dibangun sejak tahun 2012 itu berdiri di lingkungan Desa Panca Karya, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Kondisi PAMSISMAS tampak memprihatinkan.
Di depan instalasi, dua pancuran tidak meneteskan air sedikit pun alias mampat. Instalasi air berbasis komunitas yang dibiayai lewat anggaran negara justru saat ini mangkrak. 
“Terkendala mesin rusak dan anggaran perawatan terbatas,” kata seorang perangkat Desa Panca Karya, Timbul Pujianto kepada Cendana News, Selasa (14/2/2017).
Menurut dia, warga desa kurang antusias memanfaatkan instalasi PAMSIMAS di sana. Walhasil perawatan yang seharusnya berasal dari iuran langganan tidak mencukupi untuk menutupi biaya operasional. “Saluran Rumah (SR) masih minim, baru ada 50 rumah yang berlangganan di desa ini,” ujar  Timbul.
Timbul mengatakan bahan baku air PAMSIMAS berasal dari sungai desa yang mengandung kadar asam tinggi. Bahan baku air semacam ini justru mempercepat proses korosi mesin instalasi PAMSIMAS. Pemerintah desa setempat akhirnya membiarkan PAMSIMAS mangkrak di tengah cekak biaya perawatan dan proses korosi yang cepat.
“Kalaupun dibelikan mesin baru, pasti enam bulan rusak lagi. Sia-sia saja beli mesin tapi pelanggan masih sedikit,” kata Timbul. Padahal, pemerintah membangun PAMSIMAS bertujuan melayani kebutuhan air bersih di wilayah pelosok yang belum tersentuh layanan PDAM.
Air baku yang sudah diolah lantas disalurkan ke tandon-tandon penampungan yang disebar ke sejumlah titik. Masyarakat yang berlangganan berhak memanfaatkan air bersih ini untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Nasib serupa menimpa satu unit instalasi PAMSIMAS di Desa Puntik Dalam, Kecamatan Marabahan. Di sana, pemerintah desa kesulitan menutupi biaya perawatan yang tak sebanding dengan sedikitnya pelanggan.
“Iuran kerusakan enggak ada, sementara uang pembelian pulsa listrik masih minim,” kata Sekretaris Desa Puntik Dalam, Purwadi. Menurut dia, pelanggan PAMSIMAS cuma menyentuh 38 Saluran Rumah dari potensinya sebanyak 100-an unit rumah di Desa Puntik Dalam.
Itu sebabnya, kedua pemerintahan desa tadi menolak mengaktifkan PAMSIMAS setelah dihadapkan pada persoalan pelanggan dan biaya perawatan. “Kami biarkan saja sekarang.”
Kerusakan PAMSIMAS memaksa warga kedua desa membeli air bersih lewat pedang air. Sebagian warga memanfaatkan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih. 
Jurnalis: Diananta P. Sumedi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Diananta P Sumedi
Lihat juga...