YOGYAKARTA—Dalam peringatan ketujuh tahun perusahaannya, Nurul Atik (51) menggelar wayang dua budaya dengan dalang kondang dari Tegal, Ki Enthus Susmono, sukses membangun bisnis resto cepat saji ayam goreng krispi ala Amerika beromzet jutaan rupiah. Tetapi, banyak khalayak tak menduga dan sulit percaya, jika warga asli Jepara, Jawa Tengah, itu meniti karir hidupnya dari bekerja sebagai karyawan Cleaning Service di sebuah resto ayam goreng krispi.
![]() |
| Nurul Fikri. |
Ditemui di sela kesibukannya, Nurul Atik yang karena ketiadaan biaya hanya mampu sekolah hingga tingkat Mengah Atas itu, berkisah, setamat dari SMA pada sekitar tahun 1986, ia yang merupakan anak bungsu dari 9 bersaudara dari pasangan ayah dan ibu yang hanya bekerja sebagai petani dan buruh bangunan di Jepara, Jawa Tengah, mengaku ingin sekali mengubah nasib dengan menempuh pendidikan tinggi. Namun, apa daya, orangtua yang hanya buruh dan petani tak sanggup membiayainya.
Selama setahun Nurul menganggur, dan pada akhirnya mendapatkan pekerjaan di sebuah resto cepat saji ayam goreng krispi di kawasan Jalan Pemuda, Semarang, Jawa Tengah. Saat itu, lowongan pekerjaan yang tersedia hanya sebagai cleaning service. Nurul pun bersedia, sembari bertekad dan berharap, bisa bekerja sambil kuliah dengan biaya sendiri. Namun, ternyatapekerjaannya itu jauh dari yang dibayangkan.
Gaji yang diterimanya hanya Rp35.000 per bulan. Sama sekali jauh dari harapan, dan untuk biaya sehari-hari dan bayar sewa kost saja kurang. Tak jarang, ia sering pinjam uang kepada teman, dan setiapkali pulang kampung di Jepara, sekembalinya ke Semarang ia membawa beras dari orangtuanya. Saat itu, Nurul pun hanya mampu menyewa sebuah kamar kost seluas 3 x 3 meter, tanpa kasur dan perabotan apa pun. Namun, karir pekerjaan Nurul cepat menanjak, berkat kinerja dan kejujurannya selama bekerja.
Setelah 3 bulan bekerja sebagai CS, Nurul yang dinilai baik kinerjanya diangkat sebagai karyawan tetap, dan menjadi tukang cuci piring selama 4 bulan. Sudah itu, ia diangkat lagi menjadi juru masak selama 4 bulan, lalu diangkat sebagai kasir selama 6 bulan, dan menjadi supervisor selama 1 tahun. Karena kekosongan jabatan, Nurul kemudian diangkat lagi sebagai auditor, dan setelah itu menjadi manajer area selama 2 tahun.
Jabatan sebagai manajer area, membuat Nurul harus sering bepergian keluar kota untuk memberikan pelatihan kepada para karyawan baru di berbagai kota di Jawa Tengah, seperti Semarang, Magelang, Solo dan Yogyakarta. Dan, seiring pekerjaannya yang meningkat itu, pada usia 29 tahun, ketika menjadi manajer area sebuah resto ayam goreng krispi di Yogyakarta, ia menikah dengan Emy Setyawati, seorang karyawati toko swalayan di Yogyakarta yang saat itu dipacarinya selama 2 bulan.
Namun, meski jabatannya sudah manajer, gajinya tetap dirasa kurang. Apalagi, tak lama setelah menikah itu, pada 1997, Nurul dikaruniai anak. Emy lalu membantu ekonomi dengan membuat roti. Hidup pas-pasan tak membuat Nurul patah arang. Namun, hempasan ekonomi pada 1998, dengan terjadinya krisis moneter, hidup semakin dirasa berat. Saat itu, Nurul memutuskan keluar dari pekerjaannya dan berniat membangun bisnis sendiri.
“Saya merasa, sepuluh tahun lebih bekerja sudah cukup memberi pengalaman bagi saya untuk membuka usaha sendiri. Kebetulan, beberapa rekan juga berpikiran sama, sehingga kami bersama-sama membuka sendiri bisnis waralaba ayam goreng krispi. Bisnis ayam goreng krispi pada saat itu memang sedang tren,” katanya.
Tak butuh waktu lama, bisnis waralaba yang didirikan Nurul bersama rekan itu cepat berkembang dengan puluhan cabang di banyak kota. Namun, pria kelahiran 25 Juni 1966 itu kembali gelisah, karena ingin mandiri. Lalu, pada 21 Februari 2010, dengan tekad yang kuat, Nurul pun mendirikan bisnis waralaba ayam goreng krispi dengan bendera sendiri, Rocket Chicken.
Saat pertama, Nurul membuka gerainya di Jalan Wolter Monginsidi, Semarang, Jawa Tengah. Setahun kemudian, usahanya berkembang pesat dengan puluhan cabang di banyak kota. Nurul mengaku, dengan sistem waralaba itu ia mengembangkan bisnis tanpa mengeluarkan banyak modal. “Semua hanya didasarkan pada kepercayaan,” ujarnya.
Kini, setelah 7 tahun membangun bisnisnya, Rocket Chicken telah memiliki 276 cabang yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, dengan jumlah staf dan karyawan sebanyak 2.764 orang. Beberapa cabang antara lain ada di beberapa kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sumatera, Jawa Barat dan Tangerang. Sementara di Yogyakarta ada 8 cabang tersebar di berbagai kawasan.
Tetapi, Nurul mengaku belum membuka cabang di Sulawesi dan Jakarta. “Saya belum berani masuk Jakarta, karena biaya produksi yang diperkirakan sangat tinggi, sementara omzet tak bisa dipastikan karena banyak persaingan,” ungkapnya.
Nurul yang kini tinggal di Dusun Dukuh, Sidomoyo, Godean, Sleman, dikaruniai tiga anak, Gita Amirul Destisari (20), dan dua anak kembar, Salma Amirul Azizah (14) dan Salsa Amirul Karimah (14). Dia mengatakan, kunci suksesnya adalah pengetahuan dan pengalaman, serta niat baik, tekun, jujur, semangat kerja keras dan tetap hidup sederhana.
Jurnalis : Jatmika H Kusmargana/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana