MAKASSAR—Sekitar 40 siswa tampak antusias mengikuti pelajaran Bahasa Arab ketika Cendana News berkunjung ke Lembaga Pendidikan Islam dan Bahasa Arab Ma’had Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar Jumat 24 Februari 2017. Kelas tempat mereka belajar memakai tiga kipas angin untuk menggantikan AC. Kelas yang disebut Kelas Tamhidi ini diisi oleh perempuan berusia ini 18 sampai 25 tahun. Mereka belajar dari pagi pukul 08.00 sampai siang 12.00.
![]() |
| Mahasiswa Kelas Tahmidi Ma’Had Al- Birr. |
Nurlina Burhan,21 tahun adalah seorang di antara mereka yang antusias. Mahasiswi Magister Universitas Negeri Makassar, Jurusan Pendidikan. Baginya dia belajar Bahasa Arab dan pelajaran Agama adalah kesukaannya di luar pendidikan formal.Dia tergugah memperdalam pelajaran agama karena kebutuhan spirtualnya, tetapi juga pendidikan formalnya tetap berjalan.
“Sayangnya dulu saya punya keterbatasan waktu dan saya harus menyelesaikan kuliah di Jurusan Matematika, Universitas Negeri Makassar saya terlebih dahulu,” ujar Nurlina.
Haus akan ilmu juga mendorong B. Marwah Nahumarury, 23 tahun. Perempuan asal ambon ini juga memilih Ma’had Al-Birr mempelajari Bahasa Arab sekaligus meningkatkan lagi ilmu agamanya. Sebelumnya dia pernah belajar di pesanteren dan juga bersekolah di MAN 2 Ambon. “Saya juga pernah belajar Bhaasa Arab di Universitas Muhamadyah, tetapi karena merasa tidak efektif saya berhenti,” kata Marwah.
Menurut Ustazah Rosdiana sejak pertama berdiri, Ma’had Al Birr diperuntukan untuk akhwat (perempuan). Perempuan sudah mengajar sejak 2013 ini memilih mengajar orang yang sudah agak berumur dan yang masih muda. Tetapi hal ini relatif karena biasanya juga kalau muda tapi kadang tidak serius dalam belajar Bahasa Arab. Ada juga yang tua walaupun lambat dalam mengerti materi pembelajaran.
“Untuk yang sekarang saat ini kita terima yang lulusan sma yang masih baru untuk kelas reguler sedangkan yang sudah tua kita pindahkan ke Sabtu dan minggu,” ungkap Rosdiana. Di kelas itu para siswa datang dari berbagai profesi yang tidak berhubungan secara formal bidang keagamaan. Bahkan ada yang datang dari kalangan jurnalis hingga wiraswasta .
Pada awalnya, Ma’had ini didirikan pada 1996, sebagai hasil kerjasama PP Muhammadiyah dengan Yayasan Dar el-Birr yang berkedudukan di Dubai, Uni Emirat Arab. Setelah lembaga ini resmi berdiri bernama: Lembaga Pendidikan Islam dan Bahasa Arab Ma’had Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar. Belakangan, Ma’had Al-Birr kemudian dikelola oleh AMCF (Asia Muslim Charity Foundation) atau Yayasan Muslim Asia. Baik Yayasan Dar el-Birr yang merupakan cikal-bakal berdirinya, maupun Yayasan Muslim Asia (AMCF) yang mengelolanya hingga sekarang; tidak lepas dari kiprah seorang dermawan dari Dubai bernama Dr. Muhammad Thayyib Khoory hafizhahullah.
AMCF yang didirikan oleh Syekh Khoory adalah murni organisasi sosial non-profit dan non politik. Yayasan ini telah berjalan sejak 1992 dan didirikan secara resmi di Jakarta pada tahun 2002. AMCF telah memiliki surat rekomendasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Departemen Kehakiman, Departemen Agama, Departemen Sosial, Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. AMCF aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, dakwah, kesehatan, dan pendidikan serta bidang usaha.
“Pendirian Al-Birr berangkat dari keprihatinanan karen Indonesia merupakan penganut muslim terbanyak namun tidak tahu dan mengerti Bahasa Arab,” kata Rosdiana.
Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah