Hutan Bakau dan Pantai Ndete di Sikka Ramai Disambangi Saat Liburan

MINGGU, 26 FEBRUARI 2017

MAUMERE —  Salah satu destinasi wisata yang selalu ramai disambangi wisatawan lokal dan terkadang wisatawan asing di kabupaten Sikka yakni hutan bakau dan pantai Ndete desa Reroroja kecamatan Magepanda.

Hamparan pantai berpasir putih

Hutan bakau yang terkenal berkat jembatan bambunya sejauh 450 meter ini selalu ramai disambangi saat hari minggu dan hari libur. Biasanya pengunjung selalu datang dalam rombongan besar apalagi dari luar kabupaten Sikka.

Jaraknya yang hanya sejauh 30 kilometer sebelah barat kota Maumere, kawasan Mangrove Ndete bisa ditempuh menggunakan ojek sepeda motor seharga 25 ribu rupiah atau menumpang angkutan kota dengan biaya 10 ribu rupiah sekali jalan.

Saat ditemui Cendana News di lokasi pantai Ndete, Minggu (26 /2/2017) Ina Margaretha seorang remaja yang tinggal di Maumere mengaku datang bersama teman-teman sekolahnya berjumlah 15 orang ke kawasan hutan bakau.

“Kalau kesini kami bisa menikmati suasana menyusuri jembatan bambu di tengah hutan bakau, menaiki menara bambu sekalian bersantai di pantai berpasir putih sambil mandi air laut,” ujarnya.

Dikatakan Ina, kebetulan seorang teman sekelasnya berulang tahun sehingga mereka mengumpulkan uang membeli ikan dan singkong untuk dibakar di pantai sambil bersantai dan beryanyi dengan iringan gitar yang dibawa.

“Tempatnya sangat indah apalagi menjelang senja dan saat bulan purnama sehingga wajar bila lokasi ini dipilih untuk konser jazz bulan November tahun kemarin,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Yusuf  Mansyur salah seorang warga Maurole yang datang bersama anggota keluarganya setelah mendapatkan informasi lokasi ini dari tetangganya yang datang menonton konser jazz waktu itu.

“Kami lihat juga di televisi ternyata tempatnya indah sehingga kami tertarik datang kesini dengan menyewa mobil pick up dengan lama perjalanan sekitar dua jam dari Maurole,” tuturnya.

Dikatakan Yusuf, hutan bakau ini sangat indah sebab pengunjung bisa jalan di atas jembatan bambu yang berada di tengah hutan bakau. Apalgi lanjutnya, pantainya juga sangat indah dan berpasir putih dan tempatnya tidak terlalu ramai dikunjungi sehingga sangat cocok buat bersantai sambil mendengar kicauan burung yang terbang di hutan bakau.

Viktor Emanuel Rayon pemilik hutan bakau mengakui, dirinya baru setahun menerapkan biaya masuk bagi pengunjung wisatawan lokal sebesar lima ribu rupiah sementara wisatawan asing sebesar 10 ribu rupiah seorang.

Selain itu, untuk pemotretan pre wedding, Baba Akong sapaannya mengenakan tarif 200 ribu rupiah. Dirinya mengakui, biaya yang dipungut tidak terlalu besar sebab banyak pengunjung yang datang merupakan anak-anak sekolah dan masyarakat berpenghasilan rendah.

“Kami juga tidak menerapkan biaya parkir sebab kasihan bila orang kita sendiri harus dibebani biaya besar karena mereka juga berpenghasilan pas-pasan,” tuturnya.

Hutan bakau

Peraih Kalpataru terkait penyelamat lingkungan ini pun senang sebab saat ini hutan bakau yang sudah dirintisnya sejak tahun 1993 sudah mulai banyak dijadikan orang sebagai salah satu destinasi wisata dan terkenal.

“Uang yang dipungut saya pakai untuk membeli bambu untuk memperbaiki jembatan bambu sebab saya tidak pernah mendapat bantuan dan perhatian dari pemerintah meski sudah mengembangkan pariwisata dan melestarikan lingkungan,” pungkasnya.

Jurnalis : Ebed de Rosary / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary

Lihat juga...