Gelombang Tinggi di Selat Sunda, Nelayan Pilih Tak Melaut

SABTU, 11 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Sejumlah nelayan di pesisir pantai Timur dan Barat Lampung memilih tidak melaut karena gelombang tinggi dan angin kencang serta terang bulan yang berimbas gelombang pasang cukup tinggi. 

Seorang nelayan sedang memperbaiki jaring

Salah seorang nelayan di dermaga Muara Piluk Kecamatan Bakauheni, Ujang (40) menyebutkan, selama sepekan terakhir kondisi cuaca mengakibatkan sebagian nelayan memilih meminggirkan perahu dan memperbaiki bagian mesin perahu serta peralatan tangkap lainnya. Waring atau jaring bagan congkel banyak yang rusak akibat diterjang gelombang tinggi selama seminggu.

“Kalau tidak segera diganti takutnya hasil tangkapan teri yang kami lakukan dengan bagan congkel tidak maksimal bahkan justru akan memperbesar biaya operasional jika memaksakan tetap mengoperasikan waring yang rusak,”ungkap Ujang salah satu nelayan bagan congkel di dermaga Muara Piluk Desa Bakauheni saat ditemui Cendana News sedang memperbaiki waring miliknya,Sabtu (11/2/2017)

Bagan nelayan ditambatkan di dermaga

Kondisi cuaca yang tak bersahabat tersebut menurut nelayan lainnya, Budi (35) membuat hasil tangkapan nelayan berkurang. Terutama untuk nelayan tradisional yang menggunakan perahu kecil.

Budi yang memiliki kapal tangkap ikan jenis bagan mini mengungkapkan kondisi cuaca tak bersahabat membuat tangkapan jenis teri jengki dan teri nasi berkurang signifikan.

“Beberapa pengrajin teri terpaksa libur karena tidak ada bahan baku untuk pembuatan teri kering dan harga ikan menjadi lebih mahal karena pasokan ikan berkurang di sejumlah tempat pendaratan ikan”ungkap Budi.

Akibat cuaca yang masih kurang bersahabat tersebut beberapa jenis ikan mengalami kenaikan diantaranya ikan tongkol yang semula Rp25.000 menjadi Rp27.000 perkilogram, ikan Tanjan semula dari Rp15.000 menjadi Rp18.000, ikan Tengkurungan Rp17.000 menjadi Rp19.000 perkilogram. Beberapa jenis ikan bahkan tidak tersedia diantaranya ikan cumi dan ikan kakap serta jenis ikan lainnya karena sulit diperoleh.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...