DIY Angkat Budaya Plosokuning Melalui Festival Masjid Kagungan Dalem

SELASA, 28 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Upaya menggali kembali kesenian budaya dan tradisi lokal masyarakat sekitar, Dinas Kebudayaan DIY menggelar Festival Masjid Kagungan Dalem bertempat di Masjid Pathoknegoro Plosokuning, pada 28 Februari hingga 1 maret 2017. Beragam kegiatan seni tradisi religi, mulai dari sholawatan, pembacaan huruf Arab Pegon, kesenian Peksi Muda, tari saman, pengajian Kitab hingga dialog dan sarasehan budaya ditampilkan. 
Erlina Hidayati, Gus Rahullah Taqi Murwat, dan M Kamaludin Purnomo

Kepada Bidang Sejarah dan Sastra Dinas Kebudayaan, Erlina Hidayati mengatakan, Masjid Pathoknegoro merupakan salah satu kekhasan yang dimiliki DIY. Didirikan sejak zaman awal pendirian keraton Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, menjaga kewilayahan. Bukan dalam bentuk benteng, melainkan melalui sistem sosial berupa pendirian masjid di empat penjuru mata angin. 

“Mesjid Pathoknegoro ini menjadi semacam benteng sosial sekaligus benteng spiritual. Dimana di sekitar masjid muncul kelompok masyarakat yang melakukan pembangunan baik dari sisi religi, pertanian atau ekonomi, hingga kesenian dan tradisi. Kesenian dan tradisi berbasi religi ini yang kita angkat kembali,” katanya di Kantor Dinas Kebudayaan DIY, Selasa (28/0272017). 
Disebutkan, terdapat sekitar 48 masjid Kagungan Dalem yang tersebar di dalam maupun luar DIY. Hampir semua memiliki ciri bangunan dan tata ruang yang mirip, seperti Masjid Pathoknegoro Plosokuning yang telah dilakukan renovasi. 
“Festival ini bertujuan untuk melestarikan dan menjaga adat tradisi budaya religius di sekitar masjid. Diharapkan melalui kegiatan ini masjid-masjid Kagungan Dalem berkembang dengan kekhasan dan kearifan lokal yang ada di masing-masing wilayah. Selain itu juga diharapkan akan tumbuh kawasan-kawasan budaya berbasis religi yang mempunyai roh Hamemayu Hayuning Bawana, golong gilig, sawiji, dan bersama menjaga Kraton Yogyakarta,” katanya. 
Ketua Takmir Masjid Plosokuning, M Kamaludin Purnomo mengatakan, awal mula munculnya kelompok masyarakat di sekitar masjid, dimulai ketika Sultan Hamengkubuwono ke I memberi mandat pada 40 orang keturunan Mbah Nuriman yang merupakan kakak Sultan sendiri. Ke-40 orang tersebut diberikan tanah garapan berupa lahan pertanian. Dari situlah kemudian muncul buruh dari luar sehingga membentuk masyarakat dengan berbagai bidang keilmuan, mulai dari budaya tradisi, ekonomi hingga kanuragan atau beladiri. 
“Sejak zaman dahulu kehidupan baik itu terkait budaya tradisi dan religi berlangsung secara harmonis. Agama dan religi bersatu. Tidak ada pertentangan di dalam masyarakat. Dan itu berlangsung hingga saat ini. Banyak kegiatan kesenian dan religi yang masih dilestarikan oleh masyarakat sekitar masjid hingga saat ini,” katanya. 
Sementara itu, tokoh masyarakat Plosokuning, yang juga Pengurus Ponpes Qasrul Arifin, Gus Rahullah Taqi Murwat mengatakan, sebagai kawasan regili, sejak dulu hingga saat ini daerah Plosokuning dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak Pondok Pesantren. Tak hanya mengembangkan kehidupan, pondok pesantren juga berperan mengembangkan dan melestarikan tradisi di sekitar masjid. 
“Hal itu dibuktikan dengan masih banyaknya kegiatan agama yang berpadu dengan tradisi di Plosokuning. Mulai dari Shalawatan Jawa, pembacaan huruf Arab Jawa atau Arab Pegon, kesenian peksi muda, kegiatan ngaji kitab, hingga tradisi saparan, ruwahan, dan muludan,” katanya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...