Tren Gunakan Saung Bambu, Tingkatkan Pesanan Perajin Bambu

JUMAT, 6 JANUARI 2017

LAMPUNG — Tren penggunaan saung atau gubuk sebagai hiasan atau digunakan fungsional untuk berteduh memberi dampak positif perajin bambu di Desa Kalirejo, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan di antaranya dirasakan Sudaryanto (60). Sebagai salah satu perajin bambu yang masih tetap bertahan di tengah semakin banyaknya peralatan rumah tangga yang dibuat secara modern, alat-alat dan kerajinan tangan buatannya masih diminati masyarakat. Selain menggunakan bahan baku bambu sebagai bahan pemanis dan pelengkap ia pun menggunakan rotan untuk proses pembuatan kerajinan fungsional maupun hiasan.

Bahan bambu pembuatan saung yang akan dirakit.

Saat ini, ungkap Sudaryanto, permintaan akan saung di sejumlah wilayah terutama para pemilik rumah mewah berkonsep alam, restoran berkonsep alam, serta beberapa warung tradisional mulai melirik penggunaan saung untuk strategi bisnis. Penggunaan saung yang terkesan tradisional tersebut, selain menarik, juga menciptakan kesan alami alam pedesaan sehingga permintaan akan saung menjadi berkah tersendiri bagi Sudaryanto.

“Selain bambu, saya membutuhkan alang-alang dan kayu untuk perlengkapan membuat saung serta alat-alat rumah tangga yang masih banyak dipesan dari saya. Namun di penghujung tahun lalu hingga tahun baru ini, saya masih banyak mengerjakan pesanan saung. Sebagian sudah dikirim ke pemesan,” ungkap Sudaryanto kepada Cendana News, Jumat (6/1/2017).

Saung-saung yang dibuatnya pun rata-rata seragam dengan ukuran 2×3 meter atau memanjang, tergantung selera dan kebutuhan. Untuk ukuran kecil saung-saung tersebut banyak dikerjakan di rumah dan yang berukuran besar akan dibuat kerangka. Selanjutnya akan dirakit di tempat pemesan. Dalam satu bulan, dirinya mengaku, bisa mengerjakan beberapa saung dengan tingkat kecepatan menyesuaikan ukuran. Semakin besar ukuran saung, maka akan semakin lama proses pengerjaannya. Saung yang dibuat, ungkapnya, dijual mulai harga Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta, menyesuaikan ukuran dan tingkat kerumitan pembuatan.

Proses pembuatan saung dengan bahan utama bambu, diakuinya, membutuhkan bambu dengan kualitas yang cukup baik. Ia bahkan mengaku bambu-bambu tersebut dibeli secara satuan dengan harga Rp 13.000 per batang hingga Rp 15.000 sesuai kualitas yang biasanya dibeli dengan jumlah sekitar 100 batang hingga 200 batang. Bahan bambu yang dipilih berdasarkan bambu yang sudah cukup tua, kering, dan ditandai dengan ciri fisik mengerak, berlumut, bahkan berwarna cukup hitam yang biasanya ditebang pada saat tanggal tua pada penanggalan Jawa.

“Pemilihan jenis bambu yang akan kita buat harus tepat karena ini berkaitan dengan kualitas barang kerajinan yang akan dibuat. Semakin bagus bambu yang dipilih maka akan semakin awet,” ungkap Sudaryanto.

Setelah dibeli dan dibawa ke rumahnya, bahan baku bambu tersebut kemudian dikumpulkan dan akan diberi obat Dekasidin yang merupakan bahan pengawet untuk pembuatan furnitur kayu dan bambu. Selain itu, pada tahap penyelesaian akhir (finishing) bambu yang sudah terbentuk menjadi bahan kerajinan masih akan diberi pelitur untuk pemanis serta sebagai pengawet agar tidak dimakan bubuk.

Selain kerajinan jenis saung bambu, ia juga mengaku membuat kerajinan berupa meja, kursi, meja makan, meja rias, tudung saji, ayunan, kursi malas, dipan, serta beberapa keperluan rumah tangga lainnya yang banyak dipesan masyarakat.

Bahan saung yang telah dirakit dan akan dibawa ke pemesan.

Proses pemasaran yang dilakukan dengan sistem pesanan juga dibantu oleh sang anak dengan melakukan promosi dengan menggunakan media sosial dan jejaring sosial Facebook. Hingga kini, ia mengaku, pemesanan terhadap barang-barang kerajinan dari bambu masih terus dikerjakannya terutama permintaan masyarakat untuk mempercantik rumah dengan perabotan yang terkesan tradisional meski saat ini furnitur modern sudah banyak membanjiri pasar.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...