![]() |
| Dede Yusuf. |
Tren
- Kekawatiran Abstrak RUU Perampasan Aset
- Prabowo: Dari Stabilitas-Kompromistis Menuju Akuntabilitas
- Kompetisi Pemberantasan Korupsi
- Penyebaran LGBT Ancaman Non Militer
- Ketika Sekolah Tidak Menolak MBG
- KDMP Bukan Minimart
- Koperasi: Alamiah atau Ditumbuhkan?
- Sebelum Azab Datang: Presiden Prabowo dan MUI Bersatu Menghadapi Proxy War Film LGBTQ, Aplikasi Drama Layar Vertikal Asusila, dan Kampanye Seksualitas Menyimpang Digital
- Sebuah Gazebo di Kebun Waluh
- “Ibu dan Anak” Pelukan Diam yang Menjaga Kehidupan
SENIN 23 JANUARI 2017
JAKARTA—Belasan warga Purwosari, Kecamatan Girimulyo di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta terserang virus yang berasal penyakit antraks yang berasal dari daging sapi yang telah terinfenksi bacillus anthracis (Anthrax).
Menyikapi hal ini, Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Dede Yusuf meminta pemerintah agar merespon cepat penyakit tersebut.
Pemerintah dalam hal ini, kata Dede, wajib memberikan informasi tentang cara penanganan, penanggulangan, dan pengobatan terhadap wabah virus sapi gila, mengingat pemerintah dengan segala aspek pengetahuan, kemampuan, dan kewenangannya tidak boleh lambat dalam memberikan informasi.
“Apapun informasi yang beredar yang telah menyebabkan keresahan, harus gerak cepat,” ujar Dede, di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (23/1/2017).
Untuk itu, Komisi IX DPR mengimbau pemerintah untuk secepatnya membentuk posko pengendalian penyakit antraks dengan melibatkan seluruh tenaga medis dan minta dinas peternakan setempat harus terus mengawasi setiap perkembangan kasusnya.
Pemerintah diminta tidak hanya fokus pada daerah wabah, namun juga memantau secara menyeluruh penyakit tersebut. sehingga dapat diantisipasi sedini mungkin terhadap wilayah-wilayah lainnya.
“Saya kira itu yang harus dilakukan oleh pemerintah,” pungkasnya.
Jurnalis: Adista Pattisahusiwa/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Adista Pattisahusiwa
Lihat juga...