Kemandirian Wanita Indonesia dalam Tabur Puja Posdaya Soka Jakarta Selatan

RABU, 4 JANUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Suratmi, Penanggung Jawab (PJ) Kelompok 2 Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) Posdaya Soka, Jakarta Selatan, sempat berkisah tentang seorang teman baiknya saat diwawancara Cendana News tentang kegunaan sistem pembagian kelompok dalam pelaksanaan Tabur Puja Yayasan Damandiri. Saat suami dari temannya masih ada, sama sekali belum memikirkan untuk berbuat sesuatu secara mandiri. Ketika suami pergi untuk selama-lamanya, teman baiknya kesulitan untuk terus bergerak maju sendirian.

Kegiatan ibu-ibu PKK Posdaya Soka membuat kue kering.
 

Hal ini sangat membekas di ingatan Suratmi sehingga saat ia aktif di Posdaya Soka dan dipercaya sebagai koordinator Kelompok 2 Tabur Puja, kisah teman baiknya itu menjadi inspirasi baginya untuk memberdayakan seluruh warga di lingkungan RT 03 RW 012 tempat tinggalnya, terutama kaum ibu anggota Posdaya Soka menuju kemandirian wanita Indonesia yang seutuhnya.

“Maksudnya begini, sebagai seorang wanita, tidak ada hal yang membatasi untuk berbuat sesuatu bagi keluarga. Jika suami masih ada, untuk membantu suami dan anak-anak. Jika suami sudah tiada, berarti untuk menghidupi diri sendiri dan anak-anak atau keluarga,” sebut Suratmi membuka perbincangan.

Salah satu upaya Suratmi untuk memberdayakan para ibu rumah tangga anggota Posdaya Soka dari Kelompok 2 Tabur Puja adalah menggiatkan mereka ikut Tabur Puja, dengan catatan adalah untuk membuka usaha kecil-kecilan secara mandiri. ,Baik untuk yang masih bersuami apalagi bagi yang sudah ditinggal pergi suami. Usaha bisa dibuka di depan rumah, menyewa lahan dagang di pasar maupun membuka usaha rumahan lainnya. Wanita Indonesia selain cantik dan anggun, juga adalah golongan wanita tegar dan kuat mengarungi kehidupan ini. Oleh karena itu, refleksi seorang wanita Indonesia yang anggun, kuat dan tegar adalah kemandirian dari wanita itu sendiri. Suratmi melakukan interaksi secara intens dengan para anggota kelompoknya baik interaksi secara personal maupun bersama-sama untuk menemukan formula mencapai kemandirian.

“Kami akhirnya sepakat untuk menggunakan Tabur Puja sebagai sarana membuka usaha kecil-kecilan, juga sebagai refleksi kemandirian seorang ibu rumah tangga Indonesia atau bisa disebut juga wanita Indonesia. Artinya wanita yang belum berumah tangga juga bisa ikut Tabur Puja, selama ia memang memiliki visi serta misi yang jelas untuk membuka usaha baik berdagang atau lain sebagainya. Jangan ada rasa malu atau sungkan, karena semua yang dilakukan itu baik dan merupakan wujud ibadah,” sambung Suratmi.

Menaklukkan megapolitan Jakarta bukan sebuah perkara mudah. Itu dialami Suratmi bersama suaminya kala pertama kali tiba di Jakarta pada 1999. Tekad keduanya dari Kuala Simpang, Aceh Timur untuk menaklukkan Jakarta benar-benar dilaksanakan keduanya dalam suka dan duka sampai akhirnya suami tercinta harus pergi mendahului Suratmi selama-lamanya.

“Indikator keberhasilan menaklukkan Jakarta itu ada dua, yakni materi dan iman. Materi adalah bagaimana keadaan orang itu setelah sekian lama di Jakarta. Jika tidak ada perubahan atau malah semakin terpuruk, itu bukan gagal, melainkan perlu usaha lebih keras lagi. Sedangkan iman itu adalah, ke mana kaki ini melangkah lalu berdiri, apakah itu di sisi kiri atau kanan kehidupan, itulah tolak ukur keimanan orang tersebut. Di Jakarta ini mau mencari apa saja ada, dari yang positif sampai negatif semua ada. Pilihan seseorang itulah tolak ukur keimanannya,” lanjut Suratmi.

Oleh karena itulah, ia tidak jemu mengingatkan semua anggota kelompoknya untuk terus berusaha giat dalam Tabur Puja. Tujuannya apa? Untuk kemandirian mereka sendiri sebagai seorang wanita Indonesia. Modal tidak perlu besar, belajar dari yang kecil itu lebih baik, karena jika bisa bertanggung jawab terhadap hal kecil, otomatis saat diberikan yang lebih besar akan bisa ditangani dengan baik. Batas kredit Rp 2.000.000 dalam Tabur Puja, menurut Suratmi, sudah baik untuk mengawali semuanya. Perlahan semua juga bisa meningkat seiring berjalannya waktu serta perkembangan usaha masing-masing anggota. Setidaknya, para ibu anggota Posdaya Soka yang ikut Tabur Puja bisa memberikan contoh bagi ibu-ibu lain yang belum memutuskan untuk ikut Tabur Puja. Istilahnya, kemana pun manusia pergi, serta dimana pun dia nantinya berdiam, di situlah bumi dipijak dan langit dijunjung. Salah satu terjemahannya adalah, tinggalkanlah kesan baik bagi orang-orang di sekitarnya.

Rahmatan lil alamin, itu saja yang dipegang sebenarnya, jika dalam Islam. Atau dalam agama lain saya tidak tahu apa istilahnya, tapi pastinya juga ada,” pungkas Suratmi. Hingga kini, dengan anggota sudah mencapai 16 orang, para wanita atau ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok 2 Tabur Puja Posdaya Soka Jakarta Selatan di bawah PJ Suratmi terus giat membuka atau melihat peluang-peluang usaha khususnya dalam tingkatan usaha mikro. Semuanya sudah satu visi dan misi, yakni bagaimana menjadikan Tabur Puja sebagai jembatan menuju kemandirian wanita Indonesia yang sesungguhnya. Sebuah kemandirian yang merefleksikan kekuatan dan ketegaran wanita Indonesia. Rajin bekerja, giat atau ulet dalam usaha, menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya serta memberikan pengabdian terbaik sebagai seorang ibu rumah tangga di dalam keluarga masing-masing.

Potret beberapa dari sekian banyak wanita Indonesia
inspiratif di Tabur Puja Posdaya Soka, Jakarta Selatan.

Banyak anggota Kelompok Tabur Puja yang sudah mulai menemukan kesejatian usahanya, seperti Ibu Raharjo yang berdagang sate, Ibu Sri yang berdagang ikan asin, Ibu Gunawan yang berdagang keripik tempe dan usaha katering serta banyak anggota lainnya dengan usaha masing-masing. Bahkan ada anggota di bawah Suratmi yang adalah bapak-bapak aktif berjualan buah di pasar tradisional.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...