Damandiri Sukses Gali Potensi Pisang Batu di Setu Cipayung

RABU 18 JANUARI 2017
JAKARTA—Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri—Program pemberdayaan masyarakat yang dipelopori Yayasan Damandiri melalui pembentukan Pos Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya sejak 21 tahun yang lalu adalah langkah penyelamatan terhadap rakyat dari keterpurukan dan ketidakberdayaan. Siapa yang menyangka keberhasilan sebesar itu berasal dari edukasi terhadap masyarakat mengenai potensi-potensi kecil di sekitarnya. Contohnya, edukasi pemanfaatan tanaman Pisang Batu yang tumbuh liar di kebun-kebun milik warga.
Buah Pisang Batu untuk bahan rujak.
Posdaya Kenanga Setu RW05 Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung Jakarta Timur berada di lingkungan kearifan lokal Betawi yang sangat luar biasa. Warga memiliki kecenderungan bercocok tanam kemudian kerap memberikan keleluasaan bagi siapapun yang membutuhkan bisa memanfaatkan apa yang telah ditanam. Hal ini terjadi dengan begitu sempurna di lingkungan RW05, Setu, Cipayung, Jakarta Timur.
Kebun pisang batu milik warga RW05 Setu bertebaran di mana-mana. Awalnya ditanam warga lalu dibiarkan tumbuh secara alami untuk dimanfaatkan bersama. Posdaya Kenanga Setu mengambil inisiatif untuk mengedukasi beberapa warga yang dulunya menanam pohon-pohon pisang tersebut agar memanfaatkan potensi yang ada untuk pertumbuhan ekonomi keluarganya, tanpa mengurangi kearifan lokal masyarakat setempat yang sudah terbina begitu baik selama ini.
“Kami memberikan pencerahan bagi warga untuk merawat pohon pisang batu baik yang tumbuh liar maupun tumbuh karena ditanam warga menggunakan pupuk hasil mini komposting. Setelah tanaman bertumbuh lebih sehat, untuk pohon pisang biasanya berdampak pada keadaan daun pisang dengan tekstur bagus serta berbuah secara rutin,” terang Akustika Widiastuti, Ketua Posdaya Kenanga Setu, Senin (16/01/2017).
Setelah mendapatkan pencerahan baik pengembangan tanaman berpotensi ekonomi maupun pertumbuhan secara baik, banyak warga yang terbantu. Buah pisang batu sekarang banyak dijual pemiliknya kepada pedagang rujak di sekitar wilayah Setu, Cipayung. Pedagang rujak tumbuk (dikenal masyarakat Betawi dengan sebutan rujak bebeg) adalah yang paling meminati buah pisang batu. Sedangkan daun pisang batu dimanfaatkan untuk bahan pembungkus kuliner pepes (ikan, tahu, ayam atau sejenisnya yang dikukus).
“Daun pisang batu teksturnya lembut, sehingga tidak perlu dipanaskan di atas api untuk melemaskan agar mudah dilipat saat membuat ikan pepes. Warga bebas mengambil daun pisang batu untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya keinginan mereka. Bagi pemilik kebun pisang, kerap menjual daun pisang tersebut jika memang ada orang luar daerah ini yang berminat,” tambah Ida, Bendahara Posdaya Kenanga Setu, menimpali Akustika.
Saat ini, cara pemberdayaan sederhana yang diterapkan berhasil mencerahkan warga untuk lebih memanfaatkan pisang batu baik daun sekaligus buahnya. Bukan sebatas pisang batu, beberapa warga lansia juga diedukasi memanfaatkan tanaman pohon jeruk limo yang kerap berjatuhan secara alami. Jeruk limo yang jatuh dikumpulkan dalam satu plastik, lalu dijual ke pasar. Satu plastik diarahkan seharga 50 ribu rupiah atau tergantung kesepakatan penjual dan pembeli saja. Bahkan seorang pengurus Posdaya Kenanga Setu yang membuka warung sate di sekitar Jalan raya Setu menjadi langganan tetap jeruk limo tersebut.
Pantas saja Yayasan Damandiri bisa berhasil melakukan pemberdayaan besar skala nasional di seluruh wilayah nusantara, karena mereka memulainya dari hal paling kecil yang pastinya pihak lain tidak akan berpikir sampai ke situ. Memberdayakan bukan sebatas memberikan uang sebanyak-banyaknya untuk dihabiskan warga, akan tetapi bagaimana mencerdaskan warga mencari celah potensi lokal untuk dijadikan mata pencaharian. Setelah berjalan dengan baik, barulah Yayasan Damandiri melengkapinya dengan Tabungan Kredit Pundi Sejahtera atau Tabur Puja.
Daun Pisang Batu untuk pembungkus kuliner Pepes.
Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw
Lihat juga...