RABU 18 JANUARI 2017
KEDIRI—Salah satu perempuan korban keganasan PKI pada 13 Januari 1965 di Kanigoro itu bernama Sunarsih. Kini, usinya telah senja, genap 65 tahun pada 2017 ini. Masa mudanya telah sirna, tapi ingatan tragedi Kanigoro terus awet dalam benaknya. Saat Pemuda Islam Indonesia (PII) Jawa Timur mengadakan mental training di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Sunarsih merupakan peserta termuda sekaligus panitia seksi konsumsi.
![]() |
| Sunarsih. |
Malam hari sebelum terjadinya penyerangan oleh PKI, Sunarsih bersama kakaknya menyempatkan diri pulang ke rumahnya yang berada tidak jauh dari desa Kanigoro. Ia pulang dengan maksud untuk menanyakan kembali kepada Ayahnya yang berjanji membelikan kambing untuk dimasak pada acara penutupan mental training.
Selama perjalanan pulang tersebut, di salah satu sudut jalan, Sunarsih melihat beberapa orang PKI dan BTI yang dikenalnya, berpakaian hitam, sedang mengasah arit dan golok. Karena ia tidak tahu senjata tajam tersebut akan digunakan untuk apa, Sunarsih pun tidak menghiraukannya dan melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampai di rumah, Sunarsih sudah melihat ketua pemuda rakyat berada di rumahnya sedang menemui ayahnya. Saat itu, ayahnya menjabat sebagai kepala desa. Sunarsih mendengar dari balik pintu rumah, para pemuda rakyat minta sumbangan ke Ayahnya. Katanya, akan dipakai untuk rapat. Pada saat itu juga, Ayahnya memberi mereka uang 600 Rupiah. “Jika dibuat kurs jaman sekarang, sekitar 6 juta rupiah,” ujar Sunarsih.
Ternyata, setelah kejadian tragedi Kanigoro, Sunarsih baru paham, uang itu justru digunakan untuk biaya menyerang PII keesokan harinya. Saat di rumah, Sunarsih mendapat kabar dari salah satu keluarganya, tempat mental trainingnya akan segera digrebeg PKI. Ayahnya sempat melarangnya untuk kembali ke Kanigoro.
Bagaimanapun, Sunarsih merasa punya tanggung jawab untuk menyiapkan makanan bagi teman-temannya. Sunarsih tetap kembali ke Kanigoro. Sesampainya di sekretariat panitia training, Sunarsih pun langsung menyampaikan kabar kepada Seksi Keamanan bahwa kegiatan mental training akan segera di gerebeg PKI. Sunarsih juga memberikan masukan untuk minta bantuan ke Polsek Pare untuk keamanan.
Sayangnya, informasi yang disampaikan Sunarsih tidak mendapat tanggapan apa-apa dari seksi keamanan. Hanya dianggap bercanda. Setelah tidak mendapatkan response, Sunarsih langsung ke dapur untuk menyiapkan makanan bagi teman-temannya.
Usai Salat Subuh, sambil menunggu nasi matang, ia dan tiga orang teman menyapu jalan. Ketika ia baru mulai menyapu, terlihat ribuan pemuda rakyat bersenjata sudah berdatangan ke lokasi mental training. “Mereka menyergap semua anggota PII sambil membawa senjata tajam dan senjata api. Bahkan, mereka sempat membunyikan senjatanya tiga kali, dor…dor…dor…,” kenangnya, sambil menirukan suara letusan senjata.
Sunarsih dan temannya kemudian diikat. Ia sempat meronta, lalu lari menuju ke sekretariatan untuk memberi tahu seksi keamanan. Sayangnya, langkahnya sudah didahului oleh orang-orang PKI. Semua berkas-berkas yang ada disana diobrak-abrik dan dirampas. Sunarsih pun kembali ditangkap, serta diikat dan dibawa menuju ke Masjid.
Para Kyai Ditempeleng dan Disiksa oleh PKI
Dalam perjalanan digelandang ke Masjid, Sunarsih melihat para Kyai-kyai di tempeleng, ditampar, dan disiksa oleh PKI. Sunarsih menangis sejadi-jadinya melihat kejadian tersebut.
Sesampai di Masjid, ketua Pemuda Rakyat bilang ke anggotanya untuk melepaskan Sunarsih. Mereka membiarkan Sunarsih menunggu di sekretariat dan tidak di bawa ke kantor polisi. Mungkin, Ketua Pemuda Rakyat itu tahu ayah Sunarsih.
Sunarsih tahu, di rumah Ketua Pemuda Rakyat sudah disiapkan lubang-lubang besar. Rencananya, lubang-lubang besar akan digunakan untuk mengubur jasad PII jika perlu dilakukan pembunuhan. Sunarsih sangat bersyukur, tidak ada satu pun korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Lubang-lubang pembantaian tak jadi digunakan.
Ketika teman-temannya dilepaskan oleh para Polisi, Sunarsih lega. Tapi, uang para peserta training sudah dirampas oleh PKI. Tanpa uang, tidak ada yang bisa pulang. Untung saja, Panitia bisa minta bantuan kepada simpatisan PII agar bisa memulangkan peserta training.
Atas kekejaman PKI tersebut Sunarsih pada 13 Januari 1965 tersebut, Sunarsih sebagai bagian dari keluarga besar PII berharap, PKI dan ideologi komunisme jangan sampai bangkit dan ada lagi di Indonesia. “Sebisa mungkin, kita harus menjaga NKRI sampai mati,” pungkasnya dengan semangat.
Jurnalis: Agus Nurchaliq/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq