SENIN, 26 DESEMBER 2016
LAMPUNG — Makanan tradisional dari kedelai yang difermentasi menjadi tempe masih menjadi sajian tradisional warga di Lampung Selatan yang digemari masyarakat. Menurut Astuti (40), salah satu warga yang masih menjadikan tempe sebagai makanan untuk lauk selain daging dan ikan laut, tempe dengan bungkus daun pisang masih banyak dijual di wilayah tersebut. Tempe tersebut dibuat perajin di Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang. Astuti mengungkapkan, bagi masyarakat Jawa yang tinggal di Lampung, penggunaan daun pisang menjadi pembungkus tempe masih dipertahankan, meski kini bungkus tempe sudah bergeser menggunakan plastik.
![]() |
| Astuti menyiapkan tempe daun pisang untuk dimasak dengan digoreng. |
Astuti bahkan mengaku nyaris jarang membeli tempe yang akan dikonsumsi anggota keluarga jika tempe tersebut menggunakan bungkus plastik. Selain memiliki kekhasan, kelebihan tempe dengan dibungkus menggunakan daun pisang juga memiliki bau lebih harum saat digoreng dan tak berbau tengik. Selain itu, ia beralasan, membungkus tempe dengan daun pisang menjadi bagian dalam pemanfaatan pohon pisang yang banyak terdapat di wilayah tersebut.
“Saat ini tempe masih menjadi makanan favorit, karena harganya relatif murah dan mengandung protein yang kaya akan manfaat. Terutama bagi kami warga desa yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli ikan atau daging,” ungkap Astuti saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (26/12/2016).
Harga tempe dengan bungkus daun pisang yang dikonsumsi Astuti untuk selingan lauk setiap beberapa hari sekali dibelinya dengan harga Rp 1.000 setiap 6 bungkus. Meski tak mau menyebutkan alasan lebih menyukai mengkonsumsi tempe bungkus daun pisang dibanding plastik, namun dalam kondisi terpaksa saat perajin tempe sedang tak berproduksi, sesekali ia tetap membeli tempe dengan plastik meski dengan jumlah terbatas.
![]() |
| Para perajin yang membuat tempe berbasis daun pisang. |
Salah satu perajin tempe daun pisang yang masih berproduksi di antaranya Mbok Yatun (46) yang tinggal di Desa Bangun Rejo Kecamatan Ketapang. Meski sudah membuat tempe daun pisang sejak tahun 1973, namun ia mengaku, produksi tempe yang dibuatnya masih dikerjakan dengan cara tradisional. Rata-rata per hari membuat tempe kedelai sebanyak 50 kilogram. Jumlah sebanyak 50 kilogram tersebut, bisa menghasilkan tempe dengan jumlah sekitar 100 bungkus yang dikerjakan sang anak dan dirinya secara bersama-sama. Proses pembuatan dilakukan Mbok Yatun selama empat kali dalam sepekan di antaranya hari Selasa dan Rabu, serta Sabtu dan Minggu. Waktu pembuatan tersebut sekaligus menyesuaikan hari pasaran pasar tradisional setempat. Selain menyesuaikan hari pasaran, proses pembuatan dengan peragian (laru: Jawa) membutuhkan proses selama satu hari sehingga perlu menunggu untuk pembuatan tempe hingga jadi dan siap dijual. Tingginya permintaan tempe daun pisang membuat pembuatan tempe menggunakan daun pisang yang ditekuninya menghabiskan kedelai sebanyak 500 kilogram dalam satu bulan.
“Sebagian konsumennya merupakan pedagang eceran yang akan berkeliling, warung makan dan juga penjual gorengan,” ungkap Mbok Yatun.
Mbok Yatun mengaku, selain tempe masih menjadi makanan favorit bagi masyarakat pedesaan di Lampung, pembuatan tempe dengan menggunakan daun pisang, diakuinya, karena keterbatasan modal. Penggunaan daun pisang yang bisa diperoleh dari kebun miliknya, dirasa lebih efisien dan murah dibandingkan harus membeli plastik. Terkait sisi gizi dan efek dari penggunaan plastik untuk pembungkus tempe, Mbok Yatun pun mengaku, banyak konsumen lebih menyukai tempe yang dibungkus daun pisang.
“Rasanya lebih gurih jika dibungkus daun pisang dan selama bertahun-tahun membuat tempe, konsumen juga tidak pernah mengeluh tempe saya cepat busuk,” ungkap Mbok Yatun.
![]() |
| Proses penggorengan tempe dengan bungkus daun. |
Pembuatan tempe daun pisang yang ditekuninya, kini bahkan telah diteruskan ke generasi kedua. Pembuatan yang dikerjakan dengan cara tradisional tersebut, diakuinya, masih menjadi mata pencaharian bagi keluarganya sekaligus sematan nama baginya yang dikenal sebagai “Mbok Yatun Tempe” karena keahliannya membuat tempe daun pisang digemari masyarakat pedesaaan.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

