Tekwan dan Mpek-mpek, Menu Tradisional Lampung di Perayaan Natal

MINGGU, 25 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Perayaan Natal sebagai hari kelahiran Isa Al-Masih atau Yesus Kristus, dimaknai umat Katolik di Lampung Selatan dengan kebahagiaan dan kebersamaan, berkumpul bersama keluarga, saling mengunjungi setelah merayakan Malam Natal dan ibadah Natal pagi. Kebersamaan antar keluarga dengan saling berkunjung tersebut sekaligus menjadi momen bertemu antar saudara yang lama tak bertemu dalam waktu yang lama, karena bekerja di tempat yang jauh, menuntut ilmu atau karena berbagai aktivitas lainnya di luar daerah.
Tekwan mpek-mpek dan bakso ikan dan ikan pindang patin.
Momen kebersamaan dalam perayaan Natal sekaligus menjadi kesempatan untuk menyantap hidangan secara bersama-sama dengan anggota keluarga, dan kerabat yang datang berkunjung. Salah satu umat Katolik, Yustinus Sugiyono dan Frasnisca, yang tinggal di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, yang masuk di wilayah gerejawai Unit Pastoral Bakauheni, Keuskupan Tanjungkarang, terlihat sibuk sejak pagi hari.
Seusai merayakan ibadah Natal pada pagi hari, seluruh keluarga berdoa bersama dan bersyukur bersama karena bisa berkumpul kembali, setelah setahun berlalu dan masih bisa merayakan Natal bersama. Ungkapan syukur tersebut ditandai dengan makan bersama dengan menu-menu istimewa yang bisa acapkali hanya disediakan satu kali dalam setahun untuk menyambut hari istimewa.
“Kami selalu bersyukur setiap Natal tiba dan sebagai rasa syukur, kami selalu membuat menu-menu yang mungkin tak disajikan di keluarga kami, dan juga akan disajikan untuk para tamu yang hadir berkunjung,” ungkap Yustinus Sugiyono didampingi sang istrinya, Suyatinah, saat ditemui Cendana News, Minggu (25/12/2016), siang.
Makan bersama keluarga di hari Natal.
Dirayakan dengan sederhana, namun istimewa, berbagai persiapan dilakukan dengan membuat kue-kue tradisional di antaranya keripik pisang, keripik singkong, roti bolu serta berbagai makanan tradisional ringan lainnya. Selain itu, hidangan yang lebih berat untuk makan bersama di antaranya semur ayam, pindang ikan patin, tekwan serta mpek-mpek, dan bakso ikan. Salah-satu makanan yang disiapkan oleh keluarga Sugiyono yang banyak disukai oleh kerabat dan tamu yang berkunjung ke rumahnya adalah tekwan, mpek-mpek serta bakso ikan dan pindang ikan patin.
Proses pembuatan tekwan, mpek-mpek dan pindang ikan patin yang merupakan menu khas dari Sumatera Selatan dan sebagian wilayah Lampung yang menghasilkan banyak ikan, merupakan resep dari salah-satu keluarga yang pulang kampung. Mengolah bahan-bahan dari ikan yang dibeli di pelelangan ikan, makanan khas tersebut bahkan menjadi pilihan favorit para tamu, meski disantap menggunakan mangkuk-mangkuk kecil lengkap dengan kuah cuka dan kuah ikan.
Bahan-bahan pembuatan tekwan dan mpek-mpek tersebut di antaranya tepung kanji, ikan giling dari jenis tenggiri dan ikan parang. Selain itu, bumbu-bumbu penyedap lain termasuk kuah cuka yang digunakan untuk menambah cita-rasa sudah disiapkan sejak sepekan lalu, dan disimpan di kulkas. Bakso ikan, tekwan serta mpek-mpek bahkan telah dibuat dan disimpan di freezer dan dihidangkan saat para tamu berkunjung.
“Kalau tamu yang hadir saat open house ingin makan besar, disediakan nasi lengkap dengan lauk semur ayam. Tapi, kalau hanya ingin makanan ringan mengenyangkan bisa makan tekwan atau mpek-mpek,” terang Fransisca.
Makna Natal menurut tuan rumah bukan sekedar perayaan keagamaan bagi keluarga. Sebagai keluarga besar yang memiliki keluarga dari berbagai agama di antaranya Islam, Hindu dan Katolik, momen Hari Raya Natal menjadi saat berkumpul bersama keluarga besar dari nenek, anak bahkan hingga cicit. Hal yang sama juga berlaku saat Hari Raya Idul Fitri, karena kebersamaan sebagai keluarga dirasakan lebih penting daripada melihat simbol-simbol agama. Keberagaman dan kebersamaan tersebut terlihat bahkan saat mereka berbaur dan saling berbahagia bersama untuk berkumpul bersama keluarga yang dimulai dengan kunjungan dari pagi hingga malam.
Salah-satu keluarga muslim yang berkunjung ke keluarga Franisca, Aminah, mengaku sebagai anggota keluarga dirinya memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Ia tak memandang agama saudaranya tersebut, sebab sebagai bagian dari keluarga yang masih memiliki ikatan darah persaudaraan dan keberagaman tersebut, semakin mempererat tali silaturahmi di antara mereka yang terjadi setiap Hari Raya baik Natal maupun Idul Fitri.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Koko Triarko / Foto : Henk Widi

Lihat juga...