Sepanjang Tahun 2016, Pendirian Rumah Pangan Kita di Yogyakarta Belum Maksimal

RABU, 21 DESEMBER 2016

YOGYAKARTA — Pendirian outlet Rumah Pangan Kita (RPK) sebagai bentuk kemitraan antara Perum Badan Urusan Logistik (BULOG) Divisi Regional DI Yogyakarta dengan masyarakat di wilayah Yogyakarta, tahun ini belum bisa berjalan maksimal. Dari sebanyak 500 outlet RPK yang ditargetkan berdiri sepanjang 2016 ini, ternyata hanya 56 persen atau sebanyak 281 RPK saja yang telah terealisasi. Jumlah tersebut mayoritas terkonsentrasi di wilayah Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta.
Salah-satu RPK di Yogyakarta.
Padahal, outlet penjualan produk pangan berupa RPK ini diharapkan mampu menjadi salah-satu strategi memotong rantai distribusi produk pangan, sekaligus menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok di tengah masyarakat sehari-hari.
Kepala BULOG DIVRE DIY, Miftahul Adha, mengakui masih adanya sejumlah kendala yang mengakibatkan belum terpenuhinya target pendirian RPK itu. Ia menyebut, setidaknya ada dua hal yang menjadi faktor utama minimnya minat masyarakat mendirikan RPK.
Pertama, adalah masih belum maksimalnya sosialisasi terkait pendirian RPK di tengah masyarakat hingga saat ini, sehingga tak banyak masyarakat yang mengetahui keberadaan RPK, termasuk manfaat maupun prosedur pendiriannya. Sementara faktor lainnya adalah terkait selisih harga produk pangan yang dijual antara RPK dan di pasaran yang tidak terpaut jauh.
“Memang sampai saat ini belum memasyarakat, karena ini kan masih tahun pertama. Kedua, selisih harga belum menarik minat masyarakat. Ekspektasi masyarakat besar. Tapi, kita belum bisa memenuhi harapan itu,” ujarnya, saat ditemui Cendana News di sela acara Operasi Pasar dan Pasar Murah bertempat di halaman Kantor BULOG DIVRE DIY, Jalan Suroto, Kotabaru, Yogyakarta, Rabu (21/12/2016).
Menurutnya, hal itu terjadi lantaran pihak BULOG juga harus menjaga kualitas produk pangan yang dijual di setiap RPK. Sehingga, tidak hanya semata-mata menjual produk dengan harga lebih murah dari pasaran, namun tanpa memperhatikan kualitas setiap produk bersangkutan. Meski begitu, BULOG DIY mengaku terus berupaya mendorong pendirian RPK.
“Memang sampai saat ini belum bisa efektif. Namun, harus juga dilihat situasi pasar seperti apa. Saat harga kebutuhan pokok melambung tinggi, seperti misalnya waktu lebaran, keberadaan RPK ini tentu akan banyak membantu. Karena itu, kita akan terus berupaya meningkatkan jumlah RPK.  Tahun 2017 mendatang, kita menargetkan total ada 600 RPK di DIY, ” katanya.
Sementara itu, salah seorang warga pemilik RPK di Jalan Kemetiran Kidul, Pringgokusuman, Gedongtengen, Yogyakarta, Agus, mengakui tingginya antusias masyarakat di sekitar wilayahnya untuk membeli produk pangan di RPK miliknya.  Selain lebih murah dari harga pasaran, harga bahan pokok yang dijual di RPK juga selalu stabil. Dirinya mengaku mampu menghabiskan sedikitnya 100 kilogram gula pasir, 100 kilogram tepung terigu serta 50 kilogram beras setiap minggunya.
“Minat masyarakat membeli di RPK lumayan tinggi. Bahkan, stok saya selalu habis dalam beberapa hari saja, sehingga harus ambil barang lagi. Mayoritas pembeli adalah masyarakat sekitar. Ada yang hanya untuk keperluan rumah tangga, ada pula yang untuk usaha kecil, ” pungkasnya. 

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana  / Editor : Koko Triarko / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...