Sejarah Muna menurut Tradisi Lisan (Bagian I)

SELASA 13 DESEMBER 2016

Oleh: Ghani Kahir*

JAKARTA—Ada bermacam versi masalalu peradaban Muna dimulai, yang paling dikenal adalah kisah terdamparnya kapal beserta awak seorang putra raja dari negeri seberang. Konon pada awal millenium kedua masehi Sawerigading seorang putra bangsawan Luwu Sulawesi Selatan terdampar di pantai sekitaran Tanjungbatu Muna Sulawesi Tenggara. 
Danau Napabale yang dipercaya sebagai tempat terdamparnya Puteri Wetudai.
Hingga saat ini masyarakat Muna percaya bahwa kapal yang membawa Sawerigading beserta rombongannya tersebut masih ada dalam bentuk fosil batu di daerah Bahutara, tentu saja nama tersebut diambil dari kata ‘bahtera’.
Sampai di sini kisah terdamparnya kapal atau bahtera Sawerigading relatif seragam dari semua versi tradisi lisan masyarakat Muna. Namun sosok Sawerigading sendiri memiliki latar belakang yang relatif misterius, di versi yang lain, disebutkan Sawerigading adalah putra dari bangsawan Wolio atau yang sekarang dikenal dengan Buton Sulawesi Tenggara. Dalam kisah ini Sawerigading memiliki saudara kembar berjenis kelamin perempuan yang bernama Watanriabe. Dalam kepercayaan masyarakat Buton pada waktu itu bila ada sepasang bayi kembar lahir berjenis laki-laki dan perempuan maka orangtua wajib memisahkan kedua bayi tersebut demi melindungi daerahnya dari bencana.
Oleh sebab itu dikirimlah Sawerigading ke Luwu yang selanjutnya diasuh oleh seorang pedagang kaya, hingga dewasa tercetaklah Sawerigading menjadi pedagang sekaligus pelaut handal. Suatu ketika Sawerigading melakukan pelayaran ke Wolio (Buton) yang tanpa disadarinya merupakan kampung halamannya sendiri. Disanalah dia bertemu dengan sosok wanita cantik yang digilainya untuk dijadikan isteri, malang nasibnya ternyata gadis itu adalah saudara kembarnya sendiri. Alam memberi tanda berupa badai yang ganas pada saat pesta pernikahan mereka, sehingga menyadarkan para tetua dan orang bijak kampung bahwasannya Sawerigading dan Watanriabe adalah saudara sedarah.
Akhirnya perkawinan itupun dibatalkan, lalu Sawerigading dijodohkan dengan seorang wanita dari daratan Cina bernama Wetudai. Dari perkawinan ini dilahirkan seorang putera yang dikenal dengan nama I Lagaligo.
Terlepas dari perbedaan versi asal muasal Sawerigading, kisah seragam muncul tatkala Watanriabe menjadi sosok penting bagi dimulainya peradaban Muna.
Suatu ketika seorang kepala kampung ingin mengadakan pesta, beberapa pemuda ditugaskan untuk mencari bambu. Ada hal yang tidak wajar ketika para pemuda itu hendak memotong batang bambu karena dari dalamnya terdengar suara manusia yang meminta agar bambu tersebut jangan dipotong.
Bukit kapur di Bahutara Menurut kepercayaan masyarakat setempat geologis bukit batu kapur ini merupakan fosil bahtera Sawerigading.
Peristiwa misterius inipun disampaikan kepada kepala kampung, selanjutnya bambu yang bisa berbicara tersebut ditempatkan di Balai Desa (Wamelai). Selang beberapa lama secara kebetulan terjadi peristiwa misterius lainnya. Beberapa penduduk kampung dikagetkan tentang kedatangan seorang perempuan yang terdampar di daerah pantai Napabale dengan menggunakan lempengan batu. Selanjutnya dibawalah perempuan itu menghadap Kepala Kampung, ternyata perempuan tersebut sedang hamil.
Ceritanya wanita itu adalah saudara kandung Sawerigading, karena hamil tanpa diketahui siapa suaminya maka orangtuanya malu sehingga dia dibuang dengan cara dihanyutkan ke laut dengan lempengan batu. Ketakjuban para penduduk tidak cukup disitu, ketika sang wanita dihadapkan di Balai Desa, sosok misterius dari dalam bambu mengatakan kalau wanita itu adalah isterinya, akhirnya setelah sekian lama mencari wanita itupun kembali dengan suaminya yang ternyata bernama La Eli selanjutnya diberi gelar sebagai Bhetene Ne Tombula (yang muncul dari bambu).
Karena dianggap sebagai sosok yang sakti maka para tetua dan kepala kampung mengangkat La Eli sebagai Raja mereka dan Watanriabe sebagai permaisurinya. Dari sinilah awal mula terbentuknya Kerajaan Muna.
(Bersambung)

* Pimpinan Redaksi Cendana News

Editor: Irvan Sjafari /Foto: Heru Hendarto
Lihat juga...