Produk Kerajinan Berbahan Dasar Sampah Dikirim Hingga Taiwan

RABU, 14 DESEMBER 2016

LOMBOK — Meski baru dua tahun berjalan, usaha kerajinan berbahankan kertas yang dilakoni Theo Setiadi Suteja, pengerajin sekaligus pemilik The Griya Lombok terbilang sukses, banyak diminati masyarakat dan dilirik pasar.
Sebagian dinding dan beranda depan rumah Theo terbuat dari sampah kertas
Konsep yang diusung serta bahan pembuatan produk kerajinan ramah lingkungan menjadi nilai lebih dan daya tarik tersendiri kerajinan dihasilkan Theo dibandingkan hasil kerajinan umumnya yang ada di Lombok.
“Kerajinan yang saya hasilkan telah dikirim sampai ke beberapa negara, salah satunya Taiwan, konsep yang saya usung sebagai kampanye menyelamatkan lingkungan serta bahan pembuatan ramah lingkungan, bisa jadi alasan wisatawan termasuk perusahaan luar tertarik memesan kerajinan yang saya hasilkan,” kata Theo kepada Cendana News, Rabu (14/12/2016).
Meski demikian dari sekian produk kerajinan dihasilkan, yang banyak dikirim berupa kerajinan kecil berupa, plakat, gentongan, abak dan beberapa jenis kerajinan lain, sementara untuk kerajinan besar seperti kursi dan meja tidak mungkin.
Theo mengaku sejak mulai membuat kerajinan 2014 lalu sampi saat ini, jumlah produk kerajinan dihasilkan telah mencapai 200 jenis, dengan total sampah kertas dihabiskan sebagai bahan pembuatan sebesar dua ton.
“Masih banyak ide jenis produk yang ingin segera saya wujudkan dan menargetkan bisa menghasilkan lima ribu jenis produk,” ucap teo bersemangat.
Mimpi Bisa Dirikan Musium Paper Art
Selain berambisi bisa menghasilkan lima ribu jenis produk kerajinan seratus persen berbahankan sampah kertas, Theo juga memiliki mimpi bisa mendirikan musium paper art pertama dan terbesar di Indonesia sebagai tempat menampung berbagai produk kerajinan dihasilkan.
Mimpi tersebut diharapkan bisa terwujud, karena belum ada satupun pengerajin yang betul serius memanfaatkan murni sampah kertas sebagai bahan membuat produk kerajinan.
“Mimpi saya bisa memiliki musium paper art pertama dan terbesar di Indonesia, hanya saja untuk saat ini saya belum memiliki cukup modal,” katanya.
Bahkan sebagai bentuk keseriusannya mengolah dan memanfaatkan sampah kertas, Pria lulusan Universitas Maha Saraswati Provinsi Bali yang juga pernah aktif sebagai aktivis Wahana Lingkungan Hidup tersebut tidak saja wujudkan dalam bentuk produk kerajinan semata, bahkan hampir sebagian kamar dan beranda depan rumahnya terbuat dari sampah kertas dengan arsitek bernilai seni dan mengagumkan.

Jurnalis : Turmuzi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Turmuzi

Lihat juga...