Non Performing Loan Posdaya Jingga Mampu Bersaing

MINGGU, 25 DESEMBER 2016

JAKARTA — Non Performing Loan atau NPL adalah tidak mampunya seseorang membayar tagihan pinjaman kepada sebuah lembaga keuangan. Bisa juga dikatakan NPL itu sebagai angsuran tertunggak, demikian kata Abdul Jaelani, petugas Koperasi Sudara Indra yang menangani program Tabur Puja Yayasan Damandiri untuk Posdaya wilayah III Jakarta Selatan.
Buku Simpan Pinjam Tabur Puja
NPL untuk Posdaya Jingga ada dalam ukuran 0,1 persen. Artinya, sangat kecil sekali. Hal ini bisa tercapai berkat kerja keras pengurus Posdaya dalam mengedukasi anggotanya mengenai betapa penting menjaga angsuran kredit agar tetap lancar. Di samping itu, jika harus terbentur masalah kredit macet, ada mekanisme Tanggung Renteng yang bisa menjadi solusi.
“ Tanggung Renteng itu konsep menyelesaikan sebuah tagihan macet secara bersama-sama. Bukan berarti orang itu terbebas, tetapi kelompoknya yang menutupi itu dan ia harus berusaha agar bulan berikutnya tidak terulang lagi,” papar Jay, panggilan akrab Abdul Jaelani.
Selama ini, program Tabur Puja yang dijalankan Posdaya Jingga sudah mampu melakukan edukasi pemahaman serta menyadarkan warga akan pentingnya kelancaran pembayaran angsuran kredit. Implikasinya adalah masyarakat menjadi aktif memberdayakan diri mereka untuk meningkatkan usaha mikro, yang dijalani agar terus bergerak maju.
Proses Pembayaran Angsuran Tabur Puja di Posdaya Jingga.
“Sasaran Tabur Puja memang usaha mikro. Artinya, usaha yang lebih kecil dari usaha kecil. Tabur Puja mencoba melakukan edukasi kepada masyarakat bagaimana membangun kerjasama sekaligus bertanggung jawab terhadap hal kecil sebelum meningkat ke hal yang lebih besar,” tambah Jay, lagi.
Selain Posdaya Jingga, ada juga Posdaya Kasih Ibu di wilayah Jakarta Selatan III yang memiliki NPL cukup mengagumkan, yakni 0 persen. Selama empat periode, Tabur Puja belakangan ini, Posdaya Kasih Ibu berturut-turut memiliki NPL 0 persen. Hal tersebut bisa diraih berkat edukasi pengawas Tabur Puja dan Posdaya bersangkutan kepada anggotanya, untuk terus bergerak maju menjalankan usahanya masing-masing. Singkatnya, para anggota harus lebih giat bekerja dan berusaha.
“Ibu-ibu di Posdaya Kasih Ibu termasuk luar biasa juga. Pukul 05.00-07.00 WIB, pagi mereka banyak yang menjadi buruh cuci di kompleks perumahan intelijen negara yang berada di sekitar wilayah mereka. Pukul 07.00-12.00 WIB, mereka berjualan makanan di sekolah melalui kantin sekolah. Dan, pukul 12.00 WIB hingga sore hari mereka berjualan lauk-pauk entah di rumahnya atau di Posdaya. Dengan kerja keras seperti itu, dari 188 peminjam, dalam kurun waktu 4 tahun terakhir NPL mereka 0 persen,” ungkap Jay.
Baik Posdaya Jingga maupun Posdaya Kasih Ibu, sama-sama sudah berdaya tawar tinggi bagi pelaksana program Tabur Puja untuk selalu mendukung kegiatan apapun yang mereka lakukan. Kedua Posdaya tersebut membuktikan, bahwa kerja keras disertai moral yang baik dan mentalitas memberdayakan diri sekaligus masyarakat sekitar bisa membawa baik Posdaya Jingga maupun Posdaya Kasih Ibu sebagai bagian dari Posdaya Terbaik dalam program Tabur Puja selama ini. 

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Koko Triarko / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...