Menangkap Makna Natal, Umat Katolik di Lampung Membuat Kandang Natal Berbahan Bambu

JUMAT, 23 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Ada beragam cara memaknai peringatan kelahiran Isa Al-Masih atau Yesus Kristus yang dirayakan sebagai Hari Raya Natal. Salah-satunya dilakukan dengan membuat Kandang Natal berukuran nyaris sama dengan aslinya berbahan kayu bambu. Hal demikian dilakukan umat Kristiani di wilayah Gerejawi Stasi Panutan Paroki Pringsewu, Lampung, yang memiliki umat dengan beragam pekerjaan seperti peternak dan petani.
Umat Katolik Stasi Panutan Paroki Pringsewu membuat Kandang Natal dari bambu.
Salah-satu ciri khas pembuatan Kandang Natal tersebut, menurut salah-satu penggagasnya yang juga merupakan umat Katolik di Stasi Panutan, John Tomas Conis, memang sengaja dibuat dengan bahan bambu. Pasalnya, bambu merupakan sebuah simbol kearifan lokal, sekaligus memaknai Gereja yang mewujudkan inkulturasi sebagaimana terlihat dari asal kata Pringsewu yang berasal dari kata bahasa Jawa, ‘Pring’ yang berarti bambu, dan ‘Sewu’ yang berarti seribu.
Bambu yang digunakan untuk pembuatan ornamen Kandang Natal tersebut bahkan dipilih yang istimewa, yakni dari jenis bambu kuning yang banyak tumbuh di wilayah Pringsewu.
“Semangat umat Katolik adalah membumikan kehadiran Kristus yang lahir di dunia dan di tengah kehinaan-Nya sebagai manusia lahir di kandang. Sebagai bagian dari warga Pringsewu, kita menggunakan kearifan lokal membuat kandang seukuran aslinya,” ungkap  John Tomas Conis, saat ditemui di Stasi Pagelaran, Jumat (23/12/2016).
Selain bambu kuning, kerangka kayu yang dibuat oleh umat Katolik yang terlibat dalam pembuatan Kandang Natal tersebut, beberapa orrnamen Natal lainnya juga akan dibuat seperti aslinya. Di antaranya dengan menggunakan Pohon Cemara sebagai Pohon Terang. Selain itu, replika seperti para gembala, domba para gembala, para tokoh dalam peristiwa kelahiran Yesus Kristus di antaranya para majus dari Timur pun dibuat dengan ukuran yang nyaris menyerupai detail aslinya.
Kandang Natal dari kayu bambu.
Proses pembuatan Kandang Natal tersebut bahkan dibahas secara detail dari perencanaan, proses pembuatan yang dilakukan dengan musyawarah hingga disepakati untuk membuat kandang seukuran aslinya tersebut.
John Conis mengaku, selama ini pembuatan ornamen Natal selalu berbeda setiap tahunnya, menyesuaikan konsep yang digagas oleh panitia. Jika tahun-tahun sebelumnya penggunaan bahan-bahan bekas untuk pembuatan ornamen Natal dominan digunakan, pada Natal 2016 ini panitia memutuskan menggunakan bahan-bahan asli, di antaranya kerangka kayu, bambu kuning, atap dari bambu-bambu serta beberapa bahan lain yang menyerupai aslinya, meski beberapa ornamen lain juga hanya menggunakan patung berukuran kecil.
“Kita buat sengaja di dalam bangunan gereja, namun ukurannya sangat riil untuk lebih memberi kesan suasana asli seperti di Betlehem, tempat Yesus dilahirkan. Keprihatinan akan situasi negara ini juga tergambar dalam suasana kelahiran Yesus di kandang,” jelas John Tomas.
Ornamen Natal yang dibuat oleh umat Katolik di Pringsewu, menurut John Tomas Conis, sekaligus juga menjadi penanda bagi umat Katolik yang ‘pulang kampung’ dari berbagai daerah saat Natal untuk menghargai kesederhanaan. Selain itu, dengan kondisi yang ada saat ini, umat Katolik harus tetap prihatin dan tidak merayakan Natal dengan sikap hura-hura, karena makna Natal yang sesungguhnya adalah keprihatinan dalam kesederhanaan, seperti Yesus yang lahir di kandang yang hina.
Sementara itu, rencananya Kandang Natal tersebut akan semakin diperindah dengan lampu-lampu dan akan diselesaikan pada malam hari ini, Jumat (23/12/2016). Kesederhanaan Natal lengkap dengan lilin-lilin menyala, lampu terang sebagai simbol kehadiran IMANUEL (Allah Menyertai Kita) ke dunia baru akan terasa saat malam Natal yang akan dilangsungkan oleh umat Katolik di Paroki Pringsewu Stasi Pagelaran, pada malam Natal, Sabtu (24/12/2016) malam, dengan perayaan Ekaristi meriah oleh pastor Paroki Pringsewu dihadiri oleh ribuan umat setempat.
Selain memberi makna bagi umat Katolik secara keseluruhan, pembuatan Kandang Natal yang dibuat dengan ukuran riil tersebut diharapkan memberikan pemahaman kepada anak-anak Katolik yang masih belajar di Sekolah Minggu.
Meski Kandang Natal tersebut hanya sebagai sarana untuk memaknai Natal, namun John Conis berharap anak-anak muda, khususnya, bisa lebih memaknai Natal dengan lebih khusuk, meski zaman telah berubah modern dan semangat kehadiran Yesus yang hadir dalam kesederhanaan masih bisa membawa semangat bagi umat Katolik.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Koko Triarko / Foto : Henk Widi

Lihat juga...