RABU, 7 DESEMBER 2016
MALANG—Untuk pertama kalinya Program Studi (Prodi) Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) menggelar Pameran Artefak bertajuk Puppet Theatre sebagai Refleksi Kebudayaan. Dalam gelaran pameran yang dihelat di Hall FIB UB tersebut, turut dipamerkan berbagai jenis wayang yang ada di Indonesia.
![]() |
| Pertunjukan Wayang Suket Mbah Karjo. |
“Kegiatan pameran ini merupakan program kerja dari Prodi Antropologi FIB UB sebagai bentuk komitmen melestarikan kebudayaan lokal di Indonesia, khususnya di Jawa Timur,” jelas koordinator pameran, Irsyad Martias kepada Cendana News, Rabu (7/12/2016).
Menurutnya, diangkatnya tema puppet show atau pertunjukkan boneka (wayang) karena ia menilai bahwa terdapat ajaran moral atau budaya yang terkandung dalam setiap seni pertunjukan terutama dalam pewayangan.
“Kami memilih wayang untuk dipamerkan karena ternyata di daerah Jawa Timur khususnya di wilayah Malang memiliki variasi wayang yang cukup banyak dan kami menilai hal tersebut perlu kita informasikan kepada masyarakat khususnya civitas akademika UB,” ungkapnya.
![]() |
| Kreasi Wayang Wahyu yang biasanya mengambil cerita dari kitab suci agama Katolik. |
Selain memamerkan berbagai jenis wayang, dalam acara pembukaan pameran juga ada pertunjukan wayang Suket oleh Mbah Karjo.
Lebih lanjut pria yang juga berprofesi sebagai dosen di prodi Antropologi ini mengatakan, karena acara pameran tersebut baru pertama kali diselenggarakan, ia mengaku akan segera melakukan evaluasi setelah acara tersebut selesai dihelat.
![]() |
| Kreasi wayang suluh yang biasanya mengambil cerita mengenai permasalahan dalam keluarga maupun permasalahan di pedesaan. |
“Nantinya usai dilakukan evaluasi jika ternyata kegiatan pameran ini dinilai memberikan manfaat yang besar terhadap masyarakat, ke depannya akan kami selenggarakan lagi,” ucapnya.
Ia berharap pesan-pesan seperti nilai tradisi, moral maupun kearifan lokal yang terkandung dalam pameran maupun seni pertunjukan yang ditampilkan bisa tersampaikan kepada masyarakat.
Disebutkan pula, ada sekitar tujuh jenis wayang yang turut dipamerkan, di antaranya Wayang Suket yang terbuat dari rerumputan dan biasanya dibuat untuk permainan anak-anak, Wayang Suluh yang biasanya mengambil cerita mengenai permasalahan dalam keluarga maupun permasalahan di pedesaan, Wayang Wahyu yang biasanya mengambil cerita dari kitab suci agama Katolik, Wayang Beber yang biasanya dipentaskan pada acara ruwatan, dan Wayang Krucil maupun Wayang Purwa.
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Satmoko / Foto: Agus Nurchaliq

