SELASA, 20 DESEMBER 2016
LAMPUNG — Berada di daerah terisolir dengan akses yang sulit menjadi bagian dari keseharian masyarakat Kecamatan Marga Sekampung di antaranya di Desa Giri Mulyo, Kecamatan Marga Sekampung. Menurut salah satu warga di kawasan tersebut, Joni (45), kondisi jalan yang masih rusak berlangsung selama bertahun-tahun belum mendapat perhatian dari pemerintah setempat sehingga warga masih menggunakan jalanan sepanjang puluhan kilometer dengan jalan penuh kubangan air saat musim penghujan. Kondisi tersebut, menurut Joni, diperparah dengan akses jalan yang juga dipergunakan sebagai sarana mengangkut hasil bumi kelapa sawit dan singkong hasil pertanian masyarakat.
![]() |
| Warga yang menggunakan Jalan Marga Sekampung yang terisolir. |
Menurut Joni, jalan penghubung antarkecamatan tersebut akan mendapat perbaikan pada tahun ini. Namun hingga kini belum terealisasi. Warga yang tinggal di beberapa desa di Kecamatan Marga Sekampung bahkan masih harus menggunakan jalan onderlagh, jalan tanah untuk menuju ke Kota Bandar Sribawono dan Sukadana yang merupakan ibu kota Kabupaten Lampung Timur. Sepanjang 20 kilometer jalan penuh kubangan lumpur, harus ekstra hati-hati melintasi jalanan penuh dengan kubangan air untuk menghindari kerusakan kendaraan dan kecelakaan.
“Pernah kendaraan truk pengangkut singkong patah as di jalanan ini. Namun kondisinya masih tetap seperti ini sejak puluhan tahun lalu. Belum memperoleh perhatian dari instansi terkait,” ungkap Joni, warga Desa Girimulyo, Kecamatan Marga Sekampung, saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (20/12/2016).
Jalan penghubung antara Kecamatan Melinting dan Kecamatan Marga Sekampung tersebut, menurut Joni, merupakan akses utama warga setempat menuju Sribawono. Warga bahkan enggan menggunakan jalan lain karena harus berjalan memutar puluhan kilometer jika harus melewati daerah Pugung Raharjo.
![]() |
| Kondisi jalan yang tak layak dilewati. Masih menunggu perbaikan. |
Akses jalan yang masih dalam kondisi memprihatinkan dan belum mendapat upaya perbaikan hingga penghujung tahun 2016 tersebut, dibenarkan warga Marga Sekampung lainnya, yakni Andi. Andi mengaku, sebagian masyarakat bahkan harus melakukan upaya perbaikan secara swadaya dengan menggunakan material kerikil dan batu untuk menghindari lubang semakin menganga. Namun, akibat kendaraan bertonase berat sering melintasi jalan tersebut, kerusakan semakin parah. Warga berharap pemerintah kabupaten bisa memprioritaskan perbaikan jalan di wilayah tersebut untuk memudahkan warga.
Terakit anggaran yang dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur, salah satu tokoh di Desa Marga Sekampung, Hastono, mengungkapkan, penggunaan anggaran di tingkat desa melalui Anggaran Dana Desa (DD) masih difokuskan ke pembangunan infrastruktur di desa. Bahkan Hastono mengungkapkan, seharusnya pembangunan jalan antarkecamatan tersebut menjadi wewenang pihak kabupaten untuk perbaikan.
“Kalau anggaran dana desa memang untuk prioritas pembangunan sarana di desa. Meski jalan yang rusak tersebut ada di wilayah desa, namun jalan itu adalah jalan penghubung antarkecamatan,” ungkap Hastono.
Berdasarkan informasi, menurut Hastono, upaya perbaikan akan diusulkan dalam tahun anggaran 2017. Harapan prioritas pembangunan untuk jalan penghubung antarkecamatan tersebut segera direalisasikan agar masyarakat tidak mengeluarkan biaya besar guna proses distribusi dan transportasi barang. Kondisi tersebut bahkan telah ditinjau anggota DPRD Lampung Timur terkait kondisi jalan yang memprihatinkan.
“Sudah ditinjau oleh anggota DPRD Lampung Timur namun terkait perbaikan, menurut anggota DPRD yang meninjau, akan diusulkan pada anggaran tahun depan agar diprioritaskan,” ungkap Hastono.
Biaya yang tinggi untuk distribusi tersebut, di antaranya dikeluhkan masyarakat. Karena beberapa kebutuhan masyarakat akan material bangunan harus dibayar mahal jika dikirim ke wilayah mereka. Selain akses jalan yang sulit, penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dipastikan melonjak dengan kondisi jalan yang penuh dengan lubang dan berlumpur. Belum lagi jika terjadi insiden patah as pada kendaraan pengangkut.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
