SELASA, 20 DESEMBER 2016
ENDE – Dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa, sebutan orang gila tidak dipakai lagi dan diganti dengan sebutan yang lebih manusiawi, yakni Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Orang Dengan Gangguan Jiwa selalu ada di mana-mana. Tidak kecuali di Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Banyak orang-orang seperti ini disepelekan dan dikucilkan, baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Hanya segelintir orang saja yang peduli dengan orang-orang seperti ini.
![]() |
| Irma Sinour bersama orang-orang dengan gangguan jiwa yang ditolongnya. |
Maria Aloysima S. Sinour, warga Kabupaten Ende, termasuk salah-satu orang yang peduli dengan orang-orang terpinggirkan ini. Kepada Cendana News, Selasa (20/12/2016), Irma, sapaan karibnya, terlihat bersemangat berbincang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). “Saya tertarik membantu orang-orang dengan gangguan jiwa, sebab mereka juga manusia, sama seperti saya yang butuh perhatian dan kasih-sayang,” tuturnya.
Irma memaparkan, awal kegatan ini, Pater Avent Saur (SVD), bersama beberapa orang melakukan kegiatan mendatangi orang-orang dengan gangguan jiwa dan memberi mereka makan dan minum. Sementara, banyak sekali orang yang perlu dibantu, sehingga dibentuk komunitas Peduli Kasih Insani.
Awal-awal terlibat, kenang perempuan kelahiran Ende 31 Oktober 1978 ini, dirinya tidak terjun langsung. Hanya sekedar memberi makan dan minum kepada orang dengan masalah kejiawaan yang ditemuinya di jalan atau di pasar.
Lama-kelamaan, perempuan Irma merasa terpanggil dan terjun langsung bersama beberapa teman di komunitas. Memberi makan dan bila ada yang dipasung, mereka mendatanginya dan memberikan obat serta memandikan dan memberikan pakaian. “Bila keluarganya bersedia, kami akan bawa mereka ke panti rehabilitasi Renceng Mose di Ruteng Manggarai atau ke Panti Dymphna, khusus perempuan di Maumere,” tuturnya.
Irma mengenang, saat awal terjun, langsung bersemangat dan bersama para bruder dirinya memberi para penderita gangguan jiwa tersebut makan dan sempat meneteskan air mata.
Perempuan lajang ini mengaku kasihan melihat para penderita tidak diperhatikan dan dikucilkan keluarga. Pemerintah Daerah di Flores dan NTT juga lewat Dinas Sosial terkesan masa bodoh dengan orang-orang seperti ini. “Saat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, kami menyurati bupati, dinas soial, kesehatan dan lurah setempat bersama pastor paroki, dan kami membuka pasung seseorang yang mengalami gangguan jiwa,” kenangnya.
![]() |
| Irma dengan tulus membantu orang-orang dengan gangguan jiwa yang ditelantarkan. |
Irma memaparkan, bersama teman-teman komunitas mereka mulai bergerak bulan Februari 2016, dengan mendatangi keluarga pasien, memandikan dan memberi pakaian serta memperlakukan mereka seperti layaknya orang normal, sehingga mereka tidak merasa terkucil. “Ada yang dikucilkan dan dilepas di satu kamar khusus, bahkan di Woloare di Kabupaten Ende, ada yang diletakkan di kandang babi. Saya sedih sekali dan langsung menangis saat pertama melihatnya,” tuturnya, trenyuh.
Perempuan energik ini mengatakan kepada Ibu si pasien, Mama punya anak, tapi Mama perlakukan seperti ini. Dia kan punya perasaan. Tiap kali didatangi, pasien tersebut selalu tersenyum dan senang serta meminta rokok.
Selama mendampingi orang dengan gangguan jiwa, Irma merasa paling berkesan saat melihat dua orang pasien yang selalu berkeliaran di sebuah pasar di Kota Ende, bernama Rafael dan Theo, yang selalu kompak. “Kalau satu orang ada makan atau minum, mereka selalu berbagi. Saya sampai trenyuh. Orang gila saja bisa berbagi, kenapa kita yang normal tidak bisa melakukannya?,” ungkapnya.
Pertama melakukan kegiatan sosial ini, Irma mengatakan, jika Ibundanya tidak menyukainya. Tapi, saat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, setelah melihat sendiri kegiatannya dan membaca berita di media, akhirnya Sang Ibunda merestui dan bangga dengan kegiatan sosial yang dilakukannya. “Saya katakan, saya tidak butuh Mama bangga dengan saya, namun Mama membantu saya dengan membiarkan saya tetap melakukan kegiatan sosial ini saja sudah membuat saya mengagumi Mama,” ucapnya.
Dalam melakukan aksi sosialnya, Irma mengaku sering ditertawai dan diejek. Saat sedang memberi makan orang dengan gangguan jiwa, dirinya selalu ditertawai. Namun, Irma tetap cuek, bahkan justru bertanya kepada orang-orang tersebut apakah ada yang salah. Akhirnya orang-orang tersebut pun malu dan pergi.
Perempuan murah senyum ini ingin, agar orang dengan gangguan jiwa bisa diperlakukan secara normal. Kita sebagai keluarga harus memperhatikan mereka dengan baik. “Mimpi terbesar saya, suatu saat bisa memiliki rumah semacam panti untuk menampung orang-orang dengan gangguan jiwa ini,” sebutnya.
Bukan hanya di Kabupaten Ende, Irma juga sering datang ke Maumere di Kabupaten Sikka untuk membantu orang-orang seperti ini. Dirinya pun sering dihubungi oleh orang-orang yang menemukan Orang Dengan Gangguan Jiwa, serta ingin dia bisa datang ke Maumere.
“Saya sering ditelepon dari Maumere oleh keluarga pasien atau teman-teman untuk datang dan membantu orang dengan gangguan jiwa di sana. Namun, saya masih mencari waktu yang pas untuk ke sana,” ujarnya.
Situasi sekarang, terang perempuan energik ini, pihaknya mengalami kesulitan mendapatkan obat bagi orang-orang dengan gangguan jiwa. Beberapa dokter dan rumah sakit sudah dihubungi, namun stok obat tidak tersedia, sehingga mereka masih mencarinya.
Di Kabupaten Ende sendiri, hingga saat ini menurut data Dinas Kesehatan Ende, ada 139 orang dengan gangguan jiwa. Namun, menurut Irma, masih banyak yang belum terdata dan berada di desa-desa dan daerah terpencil yang tentunya diperlakukan tidak manusiawi.
Sudah banyak penderita yang diselamatkan dan diantar ke panti, dan beberapa di antaranya dirawat hingga sembuh. Namun, ada juga yang diambil pulang keluarganya dan dibiarkan berkeliaran lagi di Kota Ende, dan pihaknya pun menjemputnya lagi.
Ada juga satu pasien yang sudah sembuh total, dan saat ini sedang mengikuti pelatihan di Jawa Barat dengan biaya dari Pemerintah Daerah. Dukungan dari keluarga sangat penting, agar penderita bisa cepat kembali sembuh dan hidup normal. “Saya lakukan ini bukan untuk dipuji dan dapat penghargaan. Tapi, saya melakukan dengan tulus dan iklas bagi sesama, sebab mereka tidak pernah ada yang memperhatikan,” pungkasnya.
Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Koko Triarko / Foto : Ebed De Rosary
