KAMIS, 8 DESEMBER 2016
BANDUNG—Sejarah dan nilai budaya daerah modal penting dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Hal itu dibahas dalam seminar yang digelar di Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Jabar, Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung, Kamis (8/12/2016).
![]() |
| Seminar yang membahas upaya pendokumentasian atas Jawa Barat yang idealnya ditulis dari ragam perspektif. |
Erlina Winayarti, pemateri dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan, buku sejarah tentang Provinsi Jawa Barat (Jabar) pun sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan warganya. Mengingat Jabar adalah salah satu provinsi yang menonjol di negeri ini. Sayangnya, kata dia, keberadaan buku sejarah terkait Provinsi Jabar cukup minim. Sekalipun ada, lebih banyak berorientasi pada sejarah kota atau kabupaten sebagai unit individual.
“Aspek penting lain dari kota hampir tidak diperhatikan, antara lain aspek organisasi di mana kota tersebut dan pada status apa kota tersebut dalam tatanan organisasi negara,” ujar Erlina.
Padahal, kata dia, eksistensi Jabar memiliki multi dimensi dalam perjalanannya. Baik itu secara geografis, historis, ekonomi, budaya, sosial dan politik. Menurutnya, sudah saatnya para penulis sejarah menuliskan perkembangan kota/kabupaten di Jabar dimulai dari segi holistik, dimensi sejarah, geografis, sosial, budaya maupun politis. Andaikata masyarakat tidak tahu keadaan kota atau wilayahnya tentu mereka tak akan pernah menemukan dinamika kota.
“Yang saya pedulikan itu generasi muda, jangan sampai anak-anak muda ini tidak tahu,” katanya.
Tanpa dokumentasi, dia khawatir, sejarah Jawa Barat akan pudar. Dengan seminar singkat ini Erlina berharap warga turut andil mengabadikan sejarah Provinsi Jabar, salah satunya lewat tulisan buku.
“Jabar kan berkembang terus sejak 1980-an. 20 tahun yang akan datang kalau tidak ditulis akan hilang, nih. Provinsi Jabar itu terdiri dari 18 kabupaten, 9 kota,” tuturnya.
Jurnalis: Rianto Nudiansyah / Editor: Satmoko / Foto: Rianto Nudiansyah