Alim dan Kampung Hijau, Gang Abah Posdaya Jingga

KAMIS, 22 DESEMBER 2016

JAKARTA-JEJAK PEMBERDAYAAN YAYASAN DAMANDIRI — Pemetaan wilayah yang dilakukan Sumargo untuk menggagas Kampung Hijau Posdaya Jingga sudah terbentuk di tiga wilayah dengan masing-masing penggeraknya. Bagian selatan dengan Ketua Sumargo, bagian tengah dengan Ketua Zaini, dan bagian utara dengan Ketua Alim. Bagian utara yakni Gang Abah RT 04 memulainya dengan kegiatan sederhana berupa menanam tumbuh-tumbuhan yang mudah perawatannya, seperti  jahe, kunyit, dan palem. Pada dasarnya, semua tanaman bisa tumbuh jika dirawat teratur.  Akan tetapi untuk menggerakkan penghijauan kepada warganya Alim tidak mau terburu-buru. Ia memakai metode belajar sambil menghijaukan.

Alim yang tekun menggerakkan warganya agar menghijaukan lingkungan.

“Saya memulai semuanya terlebih dahulu. Mulai dari pembibitan sampai pertumbuhan tanaman dilakukan di pekarangan rumah saya untuk kemudian dibagikan kepada warga secara berkala,” terang Alim, asli Betawi, Ketua RT 04/RW 05, Gang Abah, Kelurahan Ragunan kepada Cendana News saat ditemui di kediamannya.

Alim yang juga aktif dalam kegiatan sosial Posdaya Jingga ini mendapat rak tanam paralon dari Sumargo. Rak itulah yang ia gunakan sebagai pembibitan tanaman kangkung, selada, dan sawi. Selain itu, ia juga membeli sendiri tanaman lain seperti kelapa, jahe, pandan, kunyit, sirih, pohon puring sampai markisa. Tanah ia dapatkan dengan berkeliling wilayah sekitar kelurahan ragunan bersama Sumargo maupun Zaini. Sedangkan pupuk yang digunakan tetap pupuk kompos yang menurut Alim lebih bagus untuk menanam secara alami terbebas dari bahan kimia.

Kangkung milik Alim baru-baru ini sudah melakukan panen sebanyak 30 pot dengan masing-masing pot paralon menghasilkan 30 batang kangkung. Selanjutnya, kangkung hasil panen itulah yang dibagi-bagi kepada warga untuk ditanami, baik di pekarangan maupun di depan pagar rumah dengan memanfaatkan tembok luar rumah atau lahan-lahan sempit lain di atas selokan.

“Tanggapan warga sejauh ini positif dengan gerakan yang saya canangkan di wilayah RT 04/RW 05 Kelurahan Ragunan. Ada juga yang pernah bertanya, ‘Lim lu ngape sekarang ngurusin pu’un sih?’ Jawaban saya singkat saja, ini gerakan kampung hijau. Mereka perlahan mengerti dan akhirnya mengikuti gerakan ini dengan senang hati demi kepentingan bersama, yaitu menghijaukan tempat tinggal kami semua,” lanjut Alim lagi dalam dialek dan intonasi Betawi yang kental.

Program Kampung Hijau Posdaya Jingga yang cukup berbasis lahan di lingkungan terdekat untuk mengembangkan ragam tanaman.

Lorong gang kediaman Alim terdiri dari kontrakan atau rumah-rumah kos milik Alim. Semua tembok maupun jalan di depan rumah-rumah kontrakan miliknya disulap menjadi lahan-lahan sempit penuh tanaman hijau. Alim memberi contoh kepada warganya, betapa ia rajin dan tekun merawat semua tanaman hijau tersebut. Dengan begitu warga di luar lorong tempat tinggal maupun penghuni rumah-rumah kos miliknya ikut melakukan kegiatan menanam untuk penghijauan.

Menurut Alim, pintu masuk Gang Abah atau jalan utama dari Gang Abah adalah sepanjang wilayah RT 05, RT 06 sampai RT 07. Sehingga sangat penting pengurus-pengurus RT bersangkutan ikut masuk dalam program Kampung Hijau yang digagas Sumargo dari Posdaya Jingga serta dirinya. Sudah dibangun komunikasi dan kembali tanggapan positif yang didapat membuat baik Alim maupun Sumargo optimis Kampung Hijau segera terealisasi di wilayah RW 08 Kelurahan Ragunan.

“Kalau bukan masyarakat sendiri lalu siapa lagi yang memulai gerakan penghijauan ini. Masyarakat butuh penggerak untuk memberdayakan peran mereka, kami para Ketua RT inilah yang harus menjadi contoh awal. Ke depan, mau saya coba kembangkan lagi tanaman markisa, karena menurut saya bagus untuk merimbunkan jalan sekaligus jika berbuah bisa dikonsumsi beramai-ramai oleh warga,” pungkas Alim.

Satu hal yang menjadi impian Alim dan terus diperbincangkan dengan Sumargo maupun Zaini adalah mendapatkan lahan besar di pinggir jalan raya untuk kegiatan pembibitan tanaman, baik itu tanaman hias, buah, maupun sayuran. Jika impian ini terwujud, semua kegiatan penghijauan semakin berjalan lancar dalam hal pengadaan bibit tanaman secara mandiri. Bisa menyentuh aspek ekonomi berupa jual-beli bibit maupun tanaman.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...