SELASA 20 DESEMBER 2016
MALANG — Dia baru mengenal dunia anak-anak ketika baru lulus kuliah. Abyz Wigati bergabungdengan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Sidoarjo pada 1997 dan ditugaskan di daerah Ponorogo untuk mendampingi sebuah keluarga yang ibunya bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri.
![]() |
| Abyz Wigati bersama keluarga. |
“Karena saya adalah lulusan Fakultas Pertanian jurusan Sosial Ekonomi, dulunya saya berfikir di tugaskan di Ponorogo untuk menjadi penyuluh pertania, tapi sesampai di sana ternyata persoalan yang saya hadapi bukan masalah pertanian,melainkan persoalan keluarga yang ditinggalkan Ibunya bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Persoalan yang biasanya timbul yakni anak-anak yang tumbuh kembangnya tidak optimal, Bapaknya yang kurang peduli dengan kondisi anaknya dan ketidakmampuan mereka dalam mengelola uang yang dikirimkan oleh Ibunya,” jelas perempuan kelahiran Malang 20 November 1973 saat memulai obrolan dengan Cendana News, Minggu (18/12/2016).
Di tempat tersebut Abyz memiliki dua tugas yaitu memberdayakan keluarga tersebut agar bisa mengelola dana yang dikirimkan oleh ibunya. Mau tidak mau saya juga harus peduli dengan kondisi anak-anaknya. Meskipun kondisinya tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan sebelumnya, perempuan yang akrab disapa Abyz ini mengaku sejak saat itu dirinya mendapat bekal untuk masuk ke dalam urusan anak-anak dan perempuan.
Setelah bekeja selama tiga tahun di LSM tersebut, Abyz memutuskan untuk keluar dan menikah dengan M.Nur Choirullah kemudian memiliki anak. Setelah berkeluarga, secara otomatis kegiatan Abyz banyak yang dikurangi karena harus beraktivitas dengan keluarganya.
“Waktu itu saya pernah bertukar peran dengan suami. Misal saya ada aktivitas di luar, maka suami yang menemani anak-anak,” ucapnya.
Abyz juga mengaku sempat bergabung dengan salah satu lembaga sosial yang ada di Malang. Namun karena ada pemikiran-pemikirannya yang tidak bisa disalurkan di lembaga tersebut, akhirnya pada 2005 ia bersama dengan suaminya mendirikan sebuah wadah sosial yang bernama Harapan Umat (Harum).
“Sejak 2004 kami sebenarnya sudah melihat fenomena anak-anak yang membutuhkan kepedulian dari banyak orang, oleh karena itu kami mendirikan wadah Harum ini,” ungkapnya.
Mengajar Anak-anak yang Orangtuanya Butu Huruf
Melalui wadah tersebut ia mulai memberikan pembinaan kepada anak-anak di Kelurahan Samaan yang pada saat itu tidak bisa diterima masuk Sekolah Dasar (SD) karena tidak bisa membaca, menulis dan berhitung (Calistung). Ia menceritakan, dulu untuk masuk SD ada ujian Calistung jadi banyak anak-anak di daerah Samaan yang tidak di terima di SD karena mereka sebelumnya tidak pernah sekolah di Taman Kanak-kanak (TK) yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak murah, sehingga pada waktu itu mereka tidak bisa Calistung. Bagaimana mau masuk TK, penghasilan orangtua mereka saja setiap hari hanya berkisar Rp5-10 ribu.
Dari situ kemudian ada salah satu warga namanya Bambang yang memberi amanah untuk membuat TK di rumahnya yang kemudian diberi nama TK Alternatif karena tidak terdaftar di dinas, sehingga anak-anak yang datang ke TK Alternatif hanya untuk belajar tanpa mendapatkan ijazah.
“Pada waktu itu saya melihat bahwa anak-anak itu sebenarnya bukan bodoh dan bukan tidak bisa, tapi karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk belajar yang lebih layak. Ditambah lagi dengan kondisi orang tuanya yang buta huruf sehingga mereka tidak bisa mengajari anak-anaknya,” ungkapnya.
Akhirnya kami membuat kesepakatan dengan orangtua mereka agar anak-anak ini bisa beajar dengan target pada saat itu hanya untuk lolos masuk SD, tandasnya. Tidak hanya anak-anaknya saja yang belajar, orangtuanya juga harus belajar agar nantinya mereka bisa mendidik anak-anaknya dengan benar. Jadi para orangtua ini selain belajar membaca, mereka juga kita ajarkan bagaimana cara mendidik dan mengajar anak dengan baik.
“Alhamdulillah bulan Januari anak-anak ini belajar, bulan Juli mereka lolos ujian masuk SD,” kenangnya bangga. “Sedangkan Ibu-ibunya tetap belajar terus dengan kami sampai sekarang, setiap hari Jumat mereka berkumpul untuk belajar, pengajian, parrenting, dan memasak.”
Tidak sampai disitu saja, pada 2006 Abyz kembali mencoba membina anak-anak di daerah Muharto Gang V. Di tempat tersebut, ia menemui banyak anak-anak yang turun ke jalanan untuk mengamen atau mengemis, dan mereka ini juga ditarget oleh orangtuanya. Menurut mereka, anaknya tidak sekolah tidak apa-apa yang penting mereka dapat uang, cerita Abyz.
Abyz mengaku, awal-awal ia masuk ke daerah tersebut banyak di antara mereka yang tidak percaya, karena sebelumnya juga sudah banyak lembaga sosial yang datang kesana dan memberi bantuan tapi semuanya tidak ada yang bertahan lama. Dampaknya, saat dirinya masuk ke daerah tersebut banyak warga yang ragu dan menganggap bahwa ia sama saja dengan lembaga sosial lainnya yang tidak bisa bertahan lama. Akhirnya kita ajak anak-anak mereka untuk belajar, sedangkan orang tuanya kami ajak untuk melakukan kegiatan yang mereka suka.
“Pada awalnya saya masih harus menjemput satu persatu dirumah mereka masing-masing, dan anaknya juga masih takut untuk ikut belajar karena mereka tidak bisa memberikan uang kepada orang tuanya,” akunya.
Tapi setelah berproses selama tiga tahun, mereka baru sadar kalau anak-anaknya memang butuh pendidikan dan para orangtua juga harus belajar. Dari yang awalnya saya ajak mereka untuk belajar bersama satu bulan sekali, mereka justru minta tambah satu bulan dua kali. Awalnya yang saya harus menjemput mereka, sekarang mereka datang dengan sendirinya.
“Pada 2011, mereka berinisiatif untuk membuat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sendiri, karena mereka sudah merasa bisa membaca dan mengajari anak-anak. Padahal orang-orang ini SD saja tidak lulus, yang punya ijazah SMP saja hanya satu orang, tapi mereka mau belajar dan berusaha. Bahkan ibu-ibu ini mau ikut kejar paket agar dapat Ijazah,” kenang perempuan yang kini tinggal di perumahan Pesona Singosari tersebut.
Jadi selama satu semester, Abyz ikut mengajar di PAUD tersebut dan mendampingi. Sampai sekarang PAUD nya masih ada dan sudah mandiri dalam artian sudah terdaftar. Tapi tetap setiap hari Jumat pagi mereka masih mau belajar dengan Abyz, dan setiap dua minggu sekali ia ajarkan mengenai parenting.
Dari kegiatannya bersama masyarakat, Ibu tiga anak ini kemudian membukukannya dan diterbitkan. Dari situ, mulailah namanya dikenal oleh masyararakat yang mampu dan para donatur. Ia pun mulai sering diundang ke beberapa daerah di Indonesia untuk mengajarkan mengenai parenting yang kemudian sampai sekarang terus berkembang. Pada 2013 perempuan asli Malang tersebut mendapat penghargaan dari salah satu tabloid sebagai perempuan inspiratif.
“Usai mendapat penghargaan tersebut kami lebih percaya diri dan kami juga lebih berani untuk memiliki unit usaha parrenting berbayar bernama ‘Pondok Parenting’, dimana nanti hasilnya digunakan untuk membiayai kegiatan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Harapan Umat (Harum) dan untuk memenuhi perlengkapan belajar anak-anak. Harapan saya, dari Ibu-ibu yang menjadi member Pondok Parenting ini nantinya bisa menjadi orang tua asuh untuk anak-anak LKSA Harum jika dibutuhkan,”terangnya.
Sementara itu ditengah kesibukannya tersebut, Abyz tidak lupa menyediakan waktu untuk keluarganya. Dalam membagi waktu antara kesibukannya dan keluarga, Abyz mengaturnya dengan menggunakan jadwal.
“Jadi misal untuk kegiatan bulan Desember ini, kita sudah menandai dan merencanakan sebulan sebelumnya yaitu November. Kami juga punya jadwal pergi rekreasi dengan anak-anak dan setiap sebulan sekali ada jadwal pergi ke toko buku. Nanti misal ada jadwal parenting yang bentrok dengan jadwal rekreasi anak-anak, ya kita ajak sekalian anak-anak ke lokasi parenting sekalian rekreasinya di sana,” ucapnya.
Selain itu, kami juga melibatkan semua anggota keluarga. Jadi tidak hanya saya sendiri, tapi anak-anak juga ikut dilibatkan. Seperti halnya perpustakaan yang ada di rumah ini, yang mengelola ya anak-anak sendiri, tandasnya.
Menurutnya, dengan proses pengasuhan anak yang tepat, Insyaallah bisa menjadikan anak-anak lebih baik daripada orangtuanya. Tidak salah jika ketiga anaknya yang masih remaja tersebut memiliki potensi masing-masing.
“Anak saya yang pertama M.Dzikri (15) hobi membuat komik, anak yang kedua Ihsan (12) kesukaannya membuat film bersama teman-temannya dan anak yang ketiga Bening (9) ini multi talenta, ia bisa bermain biola, mendongeng, juara lomba menulis hingga pernah ikut terseleksi ke Jakarta untuk mengikuti Konferensi Penulis Cilik Indonesia, gambarnya juga bagus,” terangnya.
Jadi kami tidak hanya fokus ke akademik saja, tapi kita lebih fokus kepada potensi anak ehingga kita mengupayakan untuk memfasilitasi potensi mereka, pungkasnya.
Jurnalis: Agus Nurchaliq/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq