Titiek Soeharto Pertanyakan Keberhasilan Program Gertak Birahi di Bantul

JUMAT, 29 JULI 2016

YOGYAKARTA — Dalam rangka mewujudkan swasembada daging, dokter hewan di Pusat Pelayanan Kesehatan Hewan (Puskeswan) memegang peranan penting. Namun, sayangnya begitu banyak kendala dan keterbatasan dialami sehingga tak bisa maksimal. Kondisi tersebut terungkap dalam kunjungan kerja Wakil Komisi IV DPR RI, Titiek Hediati Soeharto di Puskeswan Jetis, Bantul, Jumat (29/7/2016).
Peran para dokter hewan di sejumlah Puskeswan dalam upaya turut menyukseskan program swasembada daging yang dicanangkan Pemerintah, selama ini dirasa kurang mendapat perhatian. Padahal, di tangan para dokter hewan itulah berbagai kendala penyakit hewan ternak akan ditangani. Sayangnya, beberapa Puskeswan di banyak daerah masih saja mengalami kendala klasik berupa minimnya sumber daya manusia.
Hal demikian setidaknya dialami oleh Puskeswan Kecamatan Jetis, Bantul, yang hanya memiliki 6 orang dokter hewan berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), yang harus mengampu sebanyak 17 Kecamatan dengan populasi ternak rata-rata 51.000 ekor. 
Kepala Puskeswan Jetis, Drh. Sri Ida Sulistyorini, MMA mengatakan, dengan kondisi tersebut pihaknya terpaksa harus memberdayakan Tenaga Harian Lepas yang kini jumlahnya ada 18 orang. Namun, dengan masa kontrak 10 bulan dan status kerja yang tidak jelas serta sarana prasarana kerja yang tidak memadai, 18 THL itu pun juga tak bisa bekerja maksimal.
Ida mengatakan, 18 THL yang telah bekerja selama bertahun-tahun merasa tak diperhatikan nasibnya dan menuntut agar segera bisa diangkat sebagai PNS. Hal ini, kata Ida, menjadi kendala tersendiri, di samping juga minimnya sarana dan prasarana lain dan fasilitas kerja para dokter hewan. Hal itu masih ditambah dengan beban kerja 10 Puskeswan yang harus mengampu 17 Kecamatan dengan medan kawasan peternakan yang bergunung-gunung.
Terhadap berbagai keluhan itu, Titiek Soeharto menyatakan, jika pihaknya melalui Komisi IV DPR RI sudah berupaya memperjuangkan nasib para THL. Selain karena sudah bekerja dan mengabdi selama bertahun-tahun, keberadaan THL memang sangat diperlukan dalam upaya menyukseskan swasembada daging.
Sementara itu, dalam kunjungan kerja di Puskeswan Jetis yang diikuti pula oleh Bupati Bantul, Suharsono, Kepala Dinas Pertanian Dan Kehutanan Bantul dan Satuan Kerja Perangkat Daerah serta Muspika setempat, Titiek Soeharto juga mempertanyakan keberhasilan program gertak birahi di Bantul. 
“Saya menanyakan ini, karena banyak keluhan kegagalan program gertak birahi yang dialami peternak di banyak daerah”, kata Titiek.
Terhadap pertanyaan itu, Ida mengungkapkan jika keberhasilan program gertak birahi sangat tergantung kondisi wilayah di suatu kawasan peternakan. Menurutnya, gertak birahi memang kurang berhasil diterapkan di daerah pegunungan yang panas dan jauh dari Puskeswan. Sementara, Puskeswan Jetis belum memiliki Mobil Ambulance Hewan yang diperlukan dalam penanganan cepat. Ida mengatakan, daerah yang bergunung-gunung dan panas, membuat kualitas semen beku atau kehidupan sperma menjadi menurun sehingga gertak birahi kurang berhasil.
“Tetapi di beberapa wilayah seperti Piyungan, Pleret dan Banguntapan, keberhasilan program gertak birahi mencapai 60 Persen”, ujar Ida. 
[Koko Triarko] 
Lihat juga...