UKWMS Ciptakan Alat Komposer Elektrik Tenaga Surya

KAMIS, 9 JUNI 2016

SURABAYA—Universitas Katolik Wijaya Mandala Surabaya (UKWMS) tak hentinya berinovasi. Kali ini tim peneliti yang terdiri dari mahasiswa dan dosen membuat ‘Komposer Elektrik Tenaga Surya’. Komposer ini berguna untuk mengolah sampah organik sehingga bisa berubah menjadi kompos.

Proses pembuatan kompos dengan menggunakan alat komposter
 

Ada yang berbeda dengan komposer ini, jika biasanya dilakukan manual kali ini dilakukan dengan memanfaatkan cahaya matahari yang dirubah menjadi tenaga listrik guna memberikan tenaga untuk mesin pengaduk.

Tim ini terdiri dari empat orang yaitu Andrew Joewono selaku dosen teknik elektro, Lanny Agustine dosen biomedik, Alvian Nugroho dan Pandyapratita mahasiswa fakultas teknik elektro. Alat komposer ini bahkan berhasil menyabet juara 3 dalam lomba seleksi Teknologi Tepat Guna (TTG) yang diselenggarakan dalam tingkat Kota Surabaya Tahun 2016.

“Sampah bisa dimanfaatkan, seperti kompos, lalu dijual nanti hasilnya bisa diberikan ke petugas DKP (Dinas Kebersihan Kota),” jelasnya saat ditemui di UKWMS, Kamis (9/6/2016).

Proses pembuatan kompos dimulai dengan memasukkan sampah organik mulai dari nasi basi, sayur basi, daun-daun dan seterusnya dikeringkan ketika dirasa cukup kering dicampur dengan bakteri e-Coli dan ‘bolking agent’ yang terbuat dari campuran batu kapur dan pakan ayam (dedak.red) lalu dimasukkan kedalam alat pemutar, bisa memakai mesin cuci bekas sebanyak 8 kilogram dengan menggunakan sumber listrik dari panel surya yang disimpan pada batere. Setelah itu setiap hari selama 5 hari mesin tersebut berputar selama 5 menit. Hasil akhir didapatkan kompos kering seberat 5 kilogram.

“Setelah 5 hari bisa diambil dan digunakan sudah jadi kompos yang berguna sebagai pupuk organik,” cakapnya.

Anggota tim sekaligus dosen Biomedik, Lanny Agustine menambahkan, proses yang digunakan saat membuat kompos yakni proses anaerob, artinya tidak memerlukan oksigen di dalamnya. Sehingga tidak memerlukan tempat yang lapang untuk mendapatkan oksigen.

“Alat ini sendiri menghabiskan dana sekitar Rp 6 juta, namun dengan berbagai keuntungan bisa menutup biaya operasional awal,” tukasnya.

Menurut Lanny, jika proses pembuatan kompos secara manual membutuhkan waktu hingga 1 bulan lamanya dengan adanya keberadaan alat ini bisa menghemat lebih cepat waktu. Pasalnya hanya dalam 5 hari saja, kompos sudah siap digunakan.

“Hasil tenaga listrik dari panel surya sebesar 800 watt per hari, sedangkan mesin ini hanya butuh 300 watt. Sehingga jika 1 panel terhubung dengan 2 mesin bisa menghemat waktu dan biaya,” pungkasnya. (Charolin Pebrianti).

Lihat juga...