YOGYAKARTA — Di hadapan ratusan santri Pondok Pesantren Assalafiyah, Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Jumat (17/6/2016), Titiek Hediati Soeharto menyatakan, arah pembangunan saat ini dirasa tak berkesinambungan. Setiap pergantian presiden, kebijakan dan prioritas pembangunan pun berganti, sehingga pembangunan di era reformasi terkesan hanya mewakili kepentingan eksekutif.
Hal demikian, lanjutnya, menunjukkan pentingnya Garis Besar Haluan Negara (GBHN) seperti di zaman Pak Harto, sehingga arah pembangunan baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang bisa terarah dan berkesinambungan. Saat ini, katanya, GBHN memang mulai banyak dibahas kembali, namun masih banyak kalangan yang merasa keberatan.
Sejalan dengan amanat reformasi, kata Titiek, beberapa perubahan undang-undang telah dilakukan sehingga memungkinkan presiden berhak menentukan arah dan prioritas pembangunan. Karenanya, ketika presiden berganti, kebijakan dan prioritas pembangunan pun berubah.
Hal tersebut, menurut Titiek, menjadi salah satu hal yang juga penting untuk dikupas kembali dalam setiap diskusi kebangsaan, sebagai upaya mencapai tujuan pembangunan yang tidak lain adalah kesejahteraan seluruh masyarakat.
Dalam kunjungan ke Ponpes Assalafiyah tersebut, selain membuka diskusi kebangsaan bersama para santri, Titiek Soeharto juga menyempatkan diri membagikan paket sembako kepada ratusan warga sekitar Ponpes. Pembagian sembako ini merupakan awal dari serangkaian kegiatan sosial bagi-bagi sembako sebanyak 5.000 paket, yang juga akan digelar dua hari ke depan di banyak wilayah di empat kabupaten dan satu kota di DI Yogyakarta. (koko).