RABU, 1 JUNI 2016
JAKARTA — Bertempat di Ruang Raffles, Gedung Balai Kartini, Jalan Jendral Gatot Subroto, Jakarta Selatan, saat ini sedang berlangsung pelaksanaan Simposium Nasional Mengamankan Pancasila Dari Kebangkitan PKI dan Ancaman Ideologi Lain. Simposium Nasional tersebut rencananya akan digelar selama 2 hari, Rabu-Kamis (1-2/6/2016) sebagai sebuah bentuk simposium “tandingan” terhadap pelaksanaan Simposium Nasional Membedah Tragedi PKI 1965 yang lebih dulu diadakan beberapa waktu yang lalu di Hotel Arya Duta, Jakarta Pusat.

Jendral TNI (Pur) Try Soetrisno, mantan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia didaulat menjadi Keynote Speech sekaligus membuka secara resmi acara Simposium Nasional Mengamankan Pancasila. Kemudian dilanjutkan dengan acara Diskusi Sesi 1 dengan materi Partai Komunis Indonesia (PKI) dari tinjauan aspek ideologi yang dihadiri oleh beberapa pembicara antara lain Letjen TNI (Pur) Sayidiman Soerjohadiprodjo, H. Habieb Riziek, Lc. , Prof. Dr. Sri Edi Swasono dan sebagai moderator H. Tarman Azam.
Dalam pidato pembukaannya, Try Soetrisno mengatakan “pelaksanaan Simposium Nasional Mengamankan Pancasila Dari Ancaman PKI dan Ideologi Lain sangat penting untuk menjaga kemurnian Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 serta untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), supaya kedepannya para generasi muda penerus Bangsa dan Negara Indonesia tidak salah paham tentang sejarah dan sepak terjang PKI di Indonesia, sehingga informasi yang mereka dapatkan benar dan jelas serta tidak simpang-siur” katanya di Balai Kartini, Rabu (1/6/2016).

“Terkait dengan korban tragedi PKI Madiun 1948 dan G30/S/PKI 1965, Negara dan Bangsa Indonesia tidak perlu meminta maaf kepada para korban dari pihak PKI, justru PKI lah yang sebenarnya meminta maaf kepada Bangsa dan Negara Indonesia, ingat mereka telah 2 kali mencoba melakukan pemberontakan dan kudeta, yaitu Peristiwa PKI Madiun 1948 dan Pemberontakan G30/S/PKI 1965 di Jakarta, maka dari itu kita harus mewaspadai kebangkitan PKI, untuk itu maka marilah kita semua kembali kepada Pancasila dan UUD 1945” demikian dikatakan Letjen (Pur) Try Soetrisno.
Pantauan Cendana News hingga pukul 11:30 WIB, suasana di Ruang Raffles, Gedung Balai Kartini Jakarta Selatan “bergemuruh” saat Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) H. Habieb Riziek berbicara dengan penuh semangat terkait pandangannya tentang sepak terjang PKI di Indonesia. Sementara itu semua kursi tamu undangan yang berjumlah sekitar 300 an terlihat penuh sesak. Para tamu undangan tampak terlihat sangat antusias mendengarkan jalannya pelaksanaan Diskusi Sesi 1 dengan bahan materi diskusi tinjauan PKI dilihat dari aspek ideologi.(Eko Sulestyono)