JAKARTA — Akhirnya Menteri Pertahanan Republik Indonesia Jendral TNI (Pur) Raymizard Ryacudu memenuhi janjinya menghadiri Simposium Nasionala Mengamankan Pancasila di Ruang Raffles, Gedung Balai Kartini, Jalan Jendral Gatot Subroto, Jakarta Pusat.
Rencananya Ryamizard Ryacudu didaulat membuka acara Simposium Mengamankan Pancasila pada hari pertama, Rabu (1/5/2016) namun karena kebetulan waktunya bertepatan dengan peringatan Hari Lahirnya Pancasila di Bandung, Jawa Barat, maka mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) tersebut berhalangan hadir.
Dalam pidatonya Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan “terkait dengan permasalahan korban Partai Komunis Indonesia 1948 dan 1965, Indonesia ini khan negara yang besar, ngapain kita harus meminta maaf kepada PKI, lagian juga siapa yang bilang negara Indonesia akan meminta maaf kepada PKI, kemudian terkait dengan adanya ancaman kebangkitan PKI di Indonesia, kita harus tetap mewaspadainya, namun kita tidak perlu takut akan hal tersebut, karena negara menjamin ketertiban dan keamanan bagi seluruh rakyat Indonesia” kata mantan KSAD tersebut.
“Saya kira sikap kita sebagai Pemerintah jelas dan tegas, sesuai dengan ketetapan MPRS No. 25 Tahun 1966, PKI dan Underbouwnya sampai detik ini tetap dinyatakan sebagai organisasi terlarang dan tidak diperbolehkan ada di Indonesia selama-lamanya, maka dengan dasar itulah semua bentuk atribut yang berhubungan dengan PKI dilarang untuk selama-lamanya, negara tidak boleh kalah dan tidak perlu gentar tethadap ancaman dari PKI beserta antek-anteknya” demikian dikatakan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Kamis (2/6/2016).
Pantauan Cendana News di Ruang Raffles, Ryamizard Ryacudu tampak terlihat keluar meninggalkan ruangan sekitar pukul 10:30 WIB, bersamaan dengan itu, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jendral TNI Gatot Nurmantyo beserta rombongan datang dan memasuki Ruang Raffles Balai Kartini.
Hingga berita ini ditulis, Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo saat ini sedang menyampaikan pidatonya pada acara Simposium Nasional Mengamankan Pancasila Dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain.(Eko Sulestyono)