KAMIS, 9 JUNI 2016
LAMPUNG — Selama Ramadhan, Puluhan santri di Pesantren Miftahul Huda Desa Pasuruan dan siswa TPA mendalami berbagai ilmu agama, diantaranya Tauhid, Fiqih, Akidah, kitab kuning, hingga hafalan.

Kepala Pondok Pesantren Miftahul Huda, H.Kusnadi Ahmad (40) mengungkapkan bulan suci Ramadhan sengaja digunakan pesantren untuk semakin menambah ilmu spiritual bagi seluruh santrinya selain memperdalam pelajaran pelajaran sekolah lainnya.
Salah satu pesantren yang merupakan cabang dari Pesantren Miftahul Huda di Tasikmalaya Jawa Barat ini pun terlihat memanfaatkan momen Ramadhan dengan aktifitas yang lebih intensif dibanding hari biasanya dalam menimba keilmuan Islam.
H. Kusnadi Ahmad mengungkapkan, sebagai bulan suci, para santri di pondok pesantren tersebut secara lebih giat lagi mendalami nilai nilai Islami dan juga keilmuan yang dilakukan melalui diklat yang diikuti oleh para santri serta warga di luar pesantren.
“Kita memang secara khusus melakukan program selama Ramadhan dengan membuat diklat yang diikuti oleh para santri sejak pagi hingga siang serta diikuti oleh warga lain dari luar pesantren,”ungkap H. Kusnadi Ahmad kepada Cendana News saat ditemui di pesantren Miftahul Huda 1041, Kamis (9/6/2016).
Kusnadi mengungkapkan, program khatam Quran dilakukan 165 santri dengan menghapalkan satu juz Alquran setiap hari sehingga dalam sebulan nantinya akan dites hapalan tersebut. Program yang juga disebut one day one juz tersebut dimaksudkan agar para santri lebih khusuk dalam menghapal Quran dan diakhir bulan Ramadhan mereka bisa hapal.
Selain itu pelajaran yang dilakukan setiap hari diantaranya para guru memberi pelajaran tambahan akidah Islamiah yang dilakukan bertahap dari siang hingga sore, praktek sholat bagi santri santri yang masih berusia sekolah dasar, pengenalan Tauhid, yang dimulai dari pukul 09:00 WIB sampai pukul 11:00 WIB. Selain itu pelajaran kitab kitab kuning pun diajarkan selama bulan Ramadhan.
“Bulan puasa memang dimanfaatkan sebaik baiknya untuk lebih mengintensifkan belajar nilai nilai Islami ya meskipun pada hari biasa kita tetap belajar seperti itu tapi intensitasnya kita tingkatkan lagi,”ungkap Kusnadi.
Pesantren yang memiliki sekitar 28 lokal tersebut ujar Kusnadi selain mengajarkan nilai nilai keislaman selama bulan Ramadhan bagi para santri juga memberi kesempatan kepada warga luar pesantren untuk mendalami nilai Islami.
Selain berasal dari pesantren selama bulan Ramadhan kegiatan yang dilakukan di pesantren tersebut diantaranya setiap pagi hari sekitar 50 ibu ibu mengikuti pendalaman nilai islami di sini dengan pengajian.
Ia mengaku berkah bulan Ramadhan selain dirasakan oleh para santri diharapkan juga lebih bisa dirasakan dan dihayati oleh warga sekitar pesantren. Tujuannya agar makna bulan puasa Ramadhan bisa lebih dirasakan diantaranya dengan memberi kesempatan bagi warga luar pesantren untuk belajar.
“Kalau para santri memang sudah rutin ada aktifitas di sini dan kita tidak libur selama bulan Ramadhan karena kita tidak mengikuti kurikulum pemerintah, baru tanggal 20 Ramadhan kita libur selama 20 hari,”ungkap Kusnadi.
Selain aktifitas para santri yang lebih intensif selama bulan Ramadhan, Kusnadi menuturkan pada hari biasa, para santri selain dibekali keilmuan Islam Kusnadi para santri pun dibekali dengan keterampilan lain yang akan digunakan untuk membekali siswa agar bisa mandiri.
Saat ini pesantren tersebut juga memiliki bangunan baru yang digunakan untuk Lembaga Kesejahteraan Anak bagi anak anak Yatim Piatu. Keberadaan lembaga kesejahteraan anak yang biasa disebut Panti Asuhan juga dikelola oleh Ponpes Miftahul Huda.
Sebagai salah satu cabang pondok Pesantren yang didirikan tanggal 7 Agustus 1967 oleh almarhum KH. Choer Afandi (dikenal dengan julukan UWA Ajengan) bin Raden Mas Haji Abdullah, yang terlahir pada tanggal 12 September 1921 M, beserta istri (Hj. Siti Shofiyyah) pesantren Miftahul Huda Pasuruan pun ingin mendidik santrinya lebih mandiri.
“Kita memiliki semacam toko yang menjual keperluan warga sekitar mulai dari sembako dan kebutuhan lain, selain mengajarkan santri berwirausaha kita juga mendapat pemasukan bagi pesantren,”ujar Kusnadi.

Satu jam menjelang waktu berbuka puasa seluruh santri juga diwajibkan berada di masjid untuk menghapalkan alquran dan mendengarkan tausiah dari salah satu guru. Setelah kegiatan tersebut kegiatan rutin sholat Tarawih dilakukan di masjid yang ada di dalam pesantren.
[Henk Widi]