Geliat Masyarakat Dolly Pasca 2 Tahun Penutupan

SELASA, 14 JUNI 2016

SURABAYA — Setelah dilakukan penutupan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, Dolly pada 18 Juni 2014 lalu oleh Walikota Surabaya, kini masyarakat Dolly mulai menata hidupnya.
Salah satunya pabrik pembuatan sepatu oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB) Masyarakat Mandiri Putat Jaya (Mampu Jaya). Dimana pabrik ini dibangun dari keinginan perubahan nasib warganya pasca penutupan lokalisasi terbesar ini.
Ketua kelompok usaha, Atik Tri Ningsih (34 tahun) menjelaskan, usaha ini berawal dari setelah penutupan lokalisasi dirinya bersama 20 orang rekannya mendapatkan pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Surabaya selama 14 hari pada tahun 2015.
“Selama 14 hari itu kita dapat uang, yang 2 hari kami tidak ambil itu jadi modal kami bersama 10 orang untuk buka usaha ini,” jelasnya saat ditemui Cendana News di gedung Kupang Gunung Timur Gang Utama, Selasa (14/6/2016).
Dari hasil patungan tersebut terkumpul dana sebesar Rp 1 juta, itulah modal awal saat produksi pertama kali. 
“Dengan sisa bahan saat pelatihan dan uang modal itu, kami memproduksi sepatu lalu kami jual ke kelurahan, kecamatan berkembang hingga sekarang,” cakapnya.
Saking terkenalnya akibat dipakai para pemangku jabatan hingga akhirnya saat pelantikan Walikota untuk kedua kalinya, Risma sapaan akrab Tri Rismaharini pun memakai sepatu buatan warga Dolly.
“Dari situ semakin banyak yang pesan, terutama dinas-dinas,” tandas wanita yang juga berprofesi sebagai seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Dalam satu bulan, KUB ini mampu memproduksi 10 pasang sepatu baik kulit maupun sintetis. Untuk harga sepatu bahan kulit pria mulai dari Rp 150 – Rp 300 ribu, sedangkan wanita mulai dari Rp 100 – Rp 250 ribu. Untuk harga sepatu bahan sintetis pria mulai dari Rp 100 – Rp 200 ribu sedangkan wanita mulai dari Rp 75 – Rp 150 ribu tergantung model dan ukuran.
Pemesan mendapatkan keuntungan bisa memilih model, ukuran dan warna sesuai selera. Hanya saja waktu pengerjaannya memakan waktu lebih lama sekitar 2 minggu. Omzet penjualan sendiri per bulan bisa mencapai Rp 4 – 5 juta.
Usaha ini pun juga tak lepas dari permasalahan, semula ada 39 orang yang tergabung. Namun seiring berjalannya waktu kini tinggal 8 orang saja. “Banyak yang mengeluh disini kurang menjanjikan uangnya sehingga keluar,” tukasnya.
Atik dan kawan-kawan hingga kini tetap optimis usaha ini suatu saat bisa berjalan lancar. Meski sekarang gajian menunggu orderan dari pemesan. “Kami sudah difasilitasi gedung, mesin jahit, air dan listrik secara gratis. Masa tidak dimanfaatkan kan sayang. Selain itu uang hasil dari sini meskipun sedikit namun membawa berkah,” pungkasnya.
[Charolin Pebrianti]
Lihat juga...