SELASA, 14 JUNI 2016
SURABAYA — Ditutupnya lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, Dolly ternyata masih menyisakan cerita sedih. Bukan dari para pelaku penjaja seks, tapi dari warga asli Putat Jaya yang terdampak. Seperti yang dialami oleh seorang ibu bernama Ida Ariani (47 tahun) yang sekarang bekerja sebagai salah satu penjahit pembuat sepatu Dolly.

Tiap kali dirinya berangkat ke gedung tempat pembuatan sepatu Kelompok Usaha Bersama (KUB) Masyarakat Mandiri Putat Jaya (Mampu Jaya) selalu dipandang sebelah mata oleh warga lain. Seperti ‘Oh, masih jalan ya pabriknya’ atau ‘Bukannya tutup ya? Kan sepi orderan’.
Namun cemoohan seperti itu tak membuat, Ida sapaan akrab Ida Ariani berkecil hati. Justru melecutnya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh agar KUB ini tidak berhenti berproduksi.
“Daripada termenung di rumah, jadi belajar cara membuat sepatu, selain itu juga senang ada ilmu dan kesibukan,” jelasnya saat ditemui Cendana News di Gedung Kupang Gunung Timur Gang Utama, Selasa (14/6/2016).
Menurut ibu yang rajin berolahraga ini, sayang jika bangunan seperti ini kosong jadi perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Apalagi masih gratis, jadi saat proses produksi sepatu tidak dipungut biaya untuk sewa lahan, bayar air dan listrik.
“Jadi ada order berapapun kami terima, asal usaha kami jalan, kalau sampai KUB ini ditutup pasti banyak yang akan mencibir kami,” ujarnya.
Ida bercerita awalnya ia ikut bergabung dalam KUB ingin merubah nasib, meski perlahan namun pasti usaha ini terbukti masih ada sejak awal dibuka pada tahun 2015.
“Ya meskipun kami mendapatkan upah setelah mendapatkan order. Kalau tidak ya sepi, tapi ini rejeki halal kami bersyukur,” cakapnya.
Tak hanya menunggu orderan, kelompok ini juga mengikuti berbagai pelatihan guna mengasah kemampuan sekaligus ikut dalam pameran untuk pengenalan produk. “Nanti tanggal 17 Juni 2016 pameran ‘Bazar Ramadhan’ di Dukuh Kupang,” pungkasnya.
[Charolin Pebrianti]