RABU, 8 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Guna mencegah kelangkaan yang seringkali memicu tingginya harga cabe, Pemerintah Kabupaten Sleman membuka lahan khusus komoditas cabe melalui program pendampingan dan pemberian fasilitas kepada petani. Dengan luas lahan 115 Hektar, hasil budidaya cabe tersebut nantinya diperuntukkan bagi pengamanan persediaan cabe di masyarakat.
![]() |
| Petani cabe di Sleman |
Tak hanya membudidaya saja, Pemkab Sleman melalui Dinas Pertanian bahkan juga menggandeng Bank Indonesia sebagai mitra kerja yang akan berperan sebagai fasilitator untuk mendatangkan pembeli skala besar. Dengan menerapkan pola dagang bebas dan kemitraan, dipastikan harga cabe nantinya lebih stabil dan tidak lagi mengalami kenaikan drastis seperti yang selama ini sering terjadi.
![]() |
| Widi Sutikno, Kadinas Pertanian Perikanan Kehutanan Sleman |
Hal demikian diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Widi Sutikno, saat ditemui Rabu (8/6/2016). Dijelaskannya, program khusus budidaya cabe itu merupakan program pendampingan dari Kementerian Pertanian dan sudah dimulai sejak akhir Mei 2016. Ditargetkan budidaya cabe itu akan panen pada bulan September mendatang. Dengan luas lahan 115 Hektar tersebar di beberapa kecamatan, budidaya cabe melalui program khusus tersebut terbagi dalam dua jenis. Yaitu, cabe rawit seluas 75 Hektar dan cabe keriting seluas 40 Hektar. Adapun estimasi produktifitas cabe diperkirakan berkisar antara 6 hingga 8 Ton Per Hektar.
![]() |
| Lahan Cabe |
Widi mengakui, selama ini yang sering terjadi adalah ketika panen melimpah, harga jual komoditas justru menurun yang berdampak kerugian besar bagi para petani. Karenanya, perlu dibangun kemitraan agar setiap masa panen harga jual komoditas khususnya cabe tetap stabil. Untuk itu, kata Widi, beberapa langkah untuk mensiasati hal itu kini sedang dikaji. “Bisa saja nantinya kita mendatangkan pembeli dari luar setiap musim petik cabe tiba dengan pembayaran tunai seperti yang dilakukan Bulog dengan programnya serap gabah itu”, ujarnya.
Pada intinya, lanjut Widi, budidaya cabe dengan luas lahan yang terhitung besar dan melalui pendampingan itu tentu juga akan disertai dengan mekanisme perdagangannya untuk melindungi petani. “Kita akan mendatangkan pembeli dari luar setiapkali waktu penen, salah satunya dengan menggandeng Bank Indonesia sebagai fasilitator”, pungkasnya. (koko)

