SELASA, 14 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Buku karya Bung Karno berjudul Sarinah, mengungkap betapa pentingnya peran perempuan dalam masyarakat. Perannya bersama laki-laki diibaratkan sebagai sayap yang harus seimbang agar bisa terbang. Sarinah yang menjadi judul buku tersebut, adalah nama seorang emban yang mengasuh Bung Karno sejak kecil hingga dewasa.

Melalui buku berjudul Sarinah, Bung Karno menceritakan berbagai persoalan perempuan yang sebenarnya juga merupakan masalah di masyarakat yang tidak bisa diselesaikan hanya oleh perempuan saja. Ketika manusia masih hidup berkoloni dengan cara berburu, perempuan juga ikut berburu di hutan-hutan. Namun, seiring dengan waktu, mereka mengalami persoalan berkurangnya jumlah koloni karena mati diterkam binatang dan usia. Maka, perempuan kemudian ditempatkan di suatu tempat agar bisa melahirkan keturunan untuk menambah jumlah koloni.
Namun, kondisi tersebut telah membuat perempuan menjadi lemah. Seringnya melahirkan anak membuat perempuan menjadi tak lagi perkasa dan tak bisa turut berburu. Maka, mereka kemudian mulai menetap. Seiring dengan waktu, binatang perburuan pun mengalami kelangkaan. Mulailah mereka hidup bercocok tanam. Laki-laki dan perempuan saling berbagi tugas hingga kemudian dikenal sistem perdagangan.
Bung Karno kemudian juga mengisahkan dalam buku yang sama, tentang peran perempuan yang tak kalah penting dalam perjuangan dan mengisi kemerdekaan. Dan, melalui berbagai kisah dalam Buku Sarinah itu, Bung Karno ingin menunjukkan peran perempuan dan laki-laki itu harus seimbang. Ibarat sayap seekor burung yang harus seimbang agar bisa terbang. “Jika salah satunya tidak berfungsi, maka burung tidak akan bisa terbang. Maka, perlu ada relasi yang seimbang dan pembagian tugas yang adil antara perempuan dan laki-laki”, jelas Yuni Satya Rahayu, saat ditemui di sela pelaksanaan kursus kader politik perempuan Partai Demokrasi Indonesia, Selasa (14/6/2016).
Yuni mengatakan, Buku Sarinah dibedah dalam kursus kader politik perempuan, agar bisa menjadi insipirasi bagi kaum perempuan untuk kemudian bisa turut berkiprah memajukan bangsa. Kursus kader politik khusus perempuan itu, kata Yuni, merupakan yang pertamakali digelar dan diharapkan bisa menjadi contoh dalam upaya lebih memberdayakan kaum perempuan.
Yuni juga menegaskan, kursus kader politik khusus perempuan itu tidak hanya untuk memenuhi kuota 30 Persen dalam Pemilihan Umum 2019, namun jauh lebih penting dari itu adalah pemberdayaan peran perempuan di bidang politik yang hingga kini masih sangat minim. (koko)