KAMIS, 26 MEI 2016
BALI—Rencana pembangunan Bandar Udara (Bandara) di Kubutambahan, Kabupaten Buleleng yang tengah digodok oleh Pemerintah Provinsi Bali akan dibangun dengan mengusung konsep ramah lingkungan. Menggandeng konsultan asal Kanada yakni Kanada Airport Kinesis Consultant, bandara dengan dengan luas lahan 1.400 hektar tersebut nantinya diharapkan tidak hanya bisa menghasilkan listrik sendiri yang berasal dari arus laut, namun juga akan menghasilkan air bersih melalui proses desalinasi. Juga akan disediakan tempat khusus bagi para nelayan untuk tetap bisa memiliki mata pencaharian. Keberadaan bandara ini juga tidak akan menghilangkan ataupun mengganggu keberadaan sekitar 400–600 hektar sawah yang berada di sekitar areal bandar udara tersebut.

“Areal persawahan itu jangan diganggu, biar sawah jadi atraksi Bali yang pulaunya kecil, alamnya harus tetap lestari,” demikian disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam wawancaranya dengan awak media seusai memimpin rapat rencana pembangunan airport dan pendukungnya di Bali Utara di Ruang Praja Sabha Kantor Gubernur Bali Kamis 26 Mei 2016.
Lebih lanjut Pastika memaparkan, kehadiran bandara ini memegang peran yang amat penting. Di samping dalam upaya menyeimbangkan pertumbuhan pembangunan Bali bagian utara dan Bali bagian selatan, juga untuk menyikapi kondisi dari Bandara I Gusti Ngurah Rai yang saat ini sudah sangat padat, sehingga berakibat pada lalu lintas penerbangan.
Selain itu juga untuk mengakomodir permintaan dari sejumlah keinginan maskapai penerbangan asing untuk membuka jalur penerbangan langsung ke Bali. Sehingga, bandara ini sangat strategis dalam upaya memberi pelayanan transportasi yang nyaman bagi wisatawan, terlebih prospek pariwisata di Bali utara ke depannya sangat menjanjikan. Dalam kesempatan tersebut Pastika meminta agar nantinya jika bandara tersebut sudah mulai beroperasi agar menempatkan para tenaga kerja lokal untuk dipekerjakan. Untuk itu, Pastika meminta agar pihak AKC juga memberikan spesifikasi kecakapan tenaga kerja yang nantinya dibutuhkan, sehingga pemprov bisa mempersiapkan para tenaga kerja sesuai kebutuhannya.
“Beri kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan, nanti kita akan persiapkan tenaga kerjanya,” imbuhnya. Ia juga menegaskan bahwa pendanaan pembangunan yang mencapai Rp50 triliun tidak akan bersumber dari APBD maupun dari dana APBN, melainkan akan berasl dari dana investor dan masih dalam proses penjajakan. Dalam kesempatan tersebut, orang nomor satu di Bali ini juga menyayangkan belum turunnya rekomendasi tentang lokasi dari Bupati Buleleng. Padahal, dirinya sudah mengeluarkan rekomendasi lokasi pembangunan bandara tersebut pada bulan April yang lalu. “Mari kita kerja keras bersama-sama. Dukungan pemerintah pusat sudah ada. Kita akselerasi pekerjaan kita, sehingga rencana pembangunan bandara ini berjalan sesuai perencanaan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Tim dari AKC, DR Made Mangku menyampaikan bahwasanya pihaknya sudah sangat serius dan mempersiapkan dengan matang tentang rencana pembangunan bandara di Bali utara tersebut. Selain bandara didesain dengan teknologi canggih dengan pemikiran 50 tahun ke depan, bandara ini akan dibangun dengan konsep airport city yang dilengkapi dengan sarana olahraga, pusat perbelanjaan, danau buatan, teater serta fasilitas pendukung lainnya, sehingga bandara ini akan menjadi bandara yang canggih dan lengkap.
Ahli lingkungan hidup ini juga memaparkan bahwasanya bandara ini rencananya akan dibangun dengan dua run away dengan panjang run away masing masing 7 kilometer lebih, sehingga pesawat komersial besar bisa mendarat di bandara tersebut serta bandara akan memiliki landasan pacu yang mengapung di laut. Di samping itu, bandara juga akan dilengkapi dengan jalur kereta api yang akan berfungsi untuk mengangkut penumpang dari parkir kendaraan menuju landasan pesawat terbang, sehingga bandara akan tertata rapi dan semua sarana transportasi memilki jalurnya masing masing. Menanggapi permintaan Gubernur Bali akan penggunaan tenaga kerja lokal di bandara tersebut, Made Mangku menegaskan pihaknya sudah memikirkan tentang hal tersebut dan hal ini dibuktikan dengan disediakannya tempat bagi para nelayan untuk tetap bisa melaut sehingga penduduk setempat jangan sampai kehilangan mata pencariannya.(Bobby Andalan)