SABTU 16 APRIL 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Agus Nurchaliq
MALANG — Meskipun di jaman sekarang permainan tradisional tidak lagi banyak di minati oleh kalangan anak-anak karena semakin banyaknya permainan modern yang bermunculan, namun nyatanya hal tersebut tidak menyurutkan keinginan Yadi untuk terus membuat dan menjual mainan tradisional. Yadi, warga Gunung Kidul Yogyakarta ini adalah salah satu pembuat sekaligus penjual mainan tradisional dari bambu yang masih bertahan hingga sekarang.
![]() |
| Pedagang mainan tradisional |
Berbekal belajar dari para pegrajin mainan tradisional di daerahnya, sejak empat tahun yang lalu Yadi memutuskan untuk memproduksi mainan tradisional untuk kemudian dijualnya sendiri. Yadi memilih kota Malang untuk menjual mainan tradisionalnya tersebut karena di daerah asalnya (Yogyakarta) sudah banyak pengrajin yang menjual mainan tradisional sama seperti yang ia buat.
“Di Yogyakarta sudah banyak penjual mainan bambu. Jadi ya mau tidak mau saya harus berjualan diluar Yogyakarta agar mainan saya laku,”ujarnya.
Yadi mengatakan bahwa dirinya datang ke Malang tidak sendirian, ia datang bersama beberapa orang temannya yang juga berprofesi sama dengannya. Di Malang, Yadi berjualan dengan cara memikul barang dagangannya dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan berjalan kaki.
“Saya biasanya berjualan di Pasar Besar, pasar Burung atau di tempat-tempat keramaian lainnya,”ucapnya.
Ia juga mengatakan bahwa tidak hanya di Malang, teman-temannya yang berprofesi sebagai penjual mainan tradisonal dari bambu juga sudah menyebar di berbagai kota.
“Hampir semua kota yang ada di Jawa Timur sudah ada penjual mainan bambu, bahkan ada yang sampai ke Kalimantan. Setiap kota biasanya ada 3-4 penjual mainan tradisional bambu yang berasal dari daerah Gunung Kidul,” ungkap Ayah dari dua orang anak ini.
Yadi sendiri sudah berjualan di Malang selama satu tahun setelah sebelumnya sempat berjualan di beberapa kota lain. Mainan tradisional dari bambu yang dijual Yadi diantaranya Gasing bambu, seruling bambu, othok-othok dan peluit bersuara burung. Ia mematok harga yang sama untuk semua jenis mainan yaitu Rp.10.000.
“Mainan-mainan ini terbuat dari Bambu Uluh yang berukuran kecil tapi memiliki ruas yang panjang sehingga lebih awet dan tidak mudah pecah,”jelasnya.
Menurutnya meskipun harganya cukup terjangkau, namun ia mengaku peminat mainan tradisional semakin berkurang. Kebanyakan anak-anak lebih memilih mainan modern daripada mainan tradisional.
Sementara itu Yadi mengatakan dengan berjualan di luar kota seperti ini, otomatis ia jarang berkumpul dengan keluarganya di Gunung Kidul. Ia biasanya baru pulang jika stok mainannya sudah menipis.
“Saya biasanya baru bisa pulang kalau stok mainan sudah menipis. Pulang bertemu keluarga sekalian membuat mainan lagi untuk di jual,”pungkasnya.