![]() |
| Titiek Soeharto saat panen raya di Lombok Barat |
Tren
- Enam Bulan BoP Gaza
- Tiga Setengah Abad atau Kurang, Kenapa Jadi Polemik?
- Dominasi Pengelola SPPG vs Keadilan Sosial
- KDMP: Pangan, Transmigrasi dan Daerah 3T
- MBG Watch: Platform Pengawasan Digital
- KDMP: Offtaker dan Penggilingan Padi
- MBS Yogyakarta Gelar Ta’aruf Akbar, Perkenalkan Potensi Pesantren dan Santri dari Seluruh Indonesia
- Kasus Jaksa Febri: Cukup Dua Alat Bukti atau Wajib Diperiksa?
- KDMP & Centralized Financial Reporting System
- Eks Jampidsus Febri, Cacat Kewenangan dan Sprindik Baru
SENIN, 21 MARET 2016
Jurnalis : Turmuzi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Turmuzi
LOMBOK — Pada zaman Presiden Soeharto, keberadaan Badan Urusan Logistik (Bulog) betul – betul difungsikan secara maksimal untuk melakukan pembelian dan penyerapan gabah petani, tidak heran pada masa itu, petani tidak pernah merasa dirugikan.
“Saya minta kepada pemerintah supaya mengembalikan Bulog pada fungsinya sebagai stabilisator dan dinamisator harga,” kata Putri Almarhum Presiden kedua RI, Titiek Soeharto di acara panen raya padi, Desa Gapuk, Kabupaten Lombok Barat, Senin (21/3/2016)
Karena itulah, sebagai wakil rakyat yang membidangi pertanian, kelautan dan kehutanan, bersama anggota komisi lain, di hadapan Gubernur NTB dan petani yang ikut menghadiri panen raya padi, Titiek berjanji akan menyampaikan apa yang menjadi aspirasi masyarakat petani NTB kepada pemerintah, termasuk melalui UU.
Dalam kesempatan tersebut ia juga meminta kepada Bulog, supaya tahun ini bisa membeli gabah petani NTB seratus persen dengan harga pokok pembelian bahkan kalau bisa lebih, supaya masyarakat bisa menikmatk kesejahteraan.
“Bulog tidak boleh mencari profit serta bisa memainkan peran secara maksimal dengan banyak turun berdialog dengan petani, serta bagaimana bisa memainkan peran untuk menstabilkan harga dan membantu petani kita,” tutupnya.
Lihat juga...