Rahasia Cinta Pak Harto kepada Muhammadiyah

SENIN, 15 FEBRUARI 2016
Penulis: Thowaf Zuharon / Editor: Gani Khair

CATATAN KHUSUS—Seringkali, guratan sketsa pada lukisan lebih membekas dalam benak daripada lukisan dengan komposisi yang tegas dan warna yang solid. Serangkaian garis penuh makna, acapkali lebih mengabadi dan menjadi kenangan yang terus memanjang. Apalagi tanda cinta, lebih terasa manis ketika disampaikan melalui pertanda-pertanda, sketsa-sketsa.  

Sumber foto : Galeri Pusat Data Jenderal Besar HM. Soeharto
Kepada Muhammadiyah, Pak Harto selalu memberikan rasa cinta yang jarang terlihat, tersamar, dan tak diperlihatkan di muka umum. Seringkali, Pak Harto menyampaikan rasa cintanya kepada Muhammadiyah dengan cara yang rahasia.

Bentuk perhatian cinta Pak Harto yang rahasia ini, memberikan kemanfaatan yang terus menerus bagi organisasi massa Islam yang cukup besar di Indonesia ini. Banyak saksi yang mencatat, dalam dinamika perjalanan perjuangan dakwah Muhammadiyah, Pak Harto memiliki amal kesalihan di Muhammadiyah yang tiada pernah putus. Seringkali, dalam amal kesalihannya, Pak Harto tidak mau banyak orang mengetahui.

Pada kenyataannya, selama hidup, Pak Harto tidak pernah tercatat memiliki nomor baku Muhammadiyah (NBM) sebagai tanda keanggotaan secara resmi. 

Namun, Riwayat hidup Pak Harto tak pernah bisa dilepaskan dari Muhammadiyah. Tak ayal, Presiden Soeharto, boleh dikatakan sebagai calon kader Muhammadiyah.

Rahasia Cinta Pak Harto sebagai Kader Muhammadiyah

Sketsa cinta yang pertama, yaitu ketika dalam banyak kesempatan, Pak Harto memberikan harapan dan doa untuk kebesaran Muhammadiyah. Hal itu antara lain dinyatakan pada saat membuka Muktamar Muhammadiyah ke-41 (Desember 1985) di Surakarta. “Sebagai orang yang pernah mengecap pendidikan Muhammadiyah, saya ikut mengharapkan agar Muhammadiyah tumbuh makin besar, makin kuat, dan makin banyak amalnya dalam bidang-bidang yang amat luas,” ungkap Pak Harto.

Pernyataan yang kurang lebih sama diungkapkan kembali pada saat membuka Muktamar ke-42 (1990) di Yogyakarta.

Bahkan, Presiden Soeharto pada pembukaan Muktamar di Banda Aceh pada 1995, membuktikan tanda cintanya dengan membuat pengakuan yang menggemparkan. Sehingga, Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-43 di Banda Aceh, menetapkan Pak Harto sebagai salah satu kader Muhammadiyah, karena dalam sejarah hidupnya, pernah mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah.

“Tanpa tedheng aling-aling, saya ini bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia. Alhamdulillah, saya memperoleh kepercayaan masyarakat Indonesia untuk memimpin pembangunan nasional. Semoga apa yang saya lakukan ini tidak mengecewakan warga Muhammadiyah,” ungkap Pak Harto (Suara Muhammadiyah No. 15, Th. ke 100).

Tanda kecintaan Pak Harto kepada Muhammadiyah, bukan hanya dalam ucapan. Berlarik-larik bantuan Pak Harto secara moril maupun materiil kepada Muhammadiyah dalam berbagai bentuk, terus mengalir tiada henti.

Rahasia Cinta Pak Harto Kepada PKU Muhammadiyah

Misalnya, pada 21 Februari 1979, Presiden Soeharto menyerahkan sumbangan Untuk RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta sebesar Rp Rp l2.750.000. Sumbangan yang diserahkan Presiden melalui Walikota Yogyakarta ini dipergunakan untuk membiayai pembangunan zaal kelas IV untuk pasien yang kurang mampu.

Menurut kesaksian Pak Sukriyanto AR (putra dari Almarhum KH AR Fachrudin, Pemimpim Umum Muhammadiyah periode 1971-1990), Pak Harto selalu memberikan bantuan dana kepada Muhammadiyah dengan dana pribadi, berulang kali, dalam berbagai kesempatan. Itulah diantara tanda cinta Pak Harto kepada Muhammadiyah.

Pernah suatu ketika, Pak AR sebagai Pemimpin Umum Muhammadiyah saat itu, menuliskan surat kepada Pak Harto dalam bahasa Jawa yang sangat halus. Surat itu ditulis, karena Muhammadiyah kesulitan untuk memperluas lahan Rumah Sakit PKU Yogyakarta, sehingga butuh bantuan dana kepada Pak Harto agar Muhammadiyah bisa membeli tanah di samping bangunan PKU lama.

“Karena harga tanah saat itu adalah 250 juta rupiah, Pak Harto memberi shodaqoh pribadi kepada Muhammadiyah sebesar 250 Juta rupiah, sesuai harga tanah, dan tidak pernah diumumkan di koran,” ujar Pak Sukri, yang kini sedang menyusun buku autobografi tentang ayahnya.

Rahasia Cinta Pak Harto untuk UMY

Di kesempatan lain, menurut Pak Sukriyanto, pada 1989, Pak Dasron Hamid sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menawar tanah seluas 25 hektar di daerah Kasihan, Bantul, DIY, dengan harga per meter nya adalah Rp2.500. Sehingga, total kebutuhan uang untuk membeli tanah tersebut adalah Rp625.000.000.

Pak Dasron tidak sadar bahwa Muhammadiyah sedang kekurangan uang dan tidak punya uang sebanyak itu. Hal ini membuat pusing seluruh pengurus Muhammadiyah saat itu. Tak terkecuali KH AR Fachrudin sebagai Pemimpin Umum.

Setelah pusing tujuh keliling dan menemui kebuntuan, dengan berat hati, KH AR Fachrudin menulis surat dengan bahasa jawa halus kepada Pak Harto. Isi suratnya, Muhammadiyah “pinjam uang” sejumlah angka tersebut kepada Pak Harto. Surat itu dititipkan kepada Ali Affandi, yang bertugas di kesekretariatan Negara saat itu.

Seminggu sesudahnya, Pak Ali Affandi mengirimkan kabar jawaban dari Pak Harto. “Kalau pinjam, Pak Harto tidak berkenan. Tapi, kalau memberi bantuan, Pak Harto memberikan bantuan secara pribadi sebesar 500 juta rupiah untuk pembelian tanah UMY di Kasihan, Bantul,” kata Pak Ali Affandi saat itu.

Mendengar jawaban Pak Harto melalui Ali Affandi, Pak Dasron Hamid dan seluruh pengurus Muhammadiyah melakukan sujud syukur bersama-sama. Kekurangan uang untuk pembelian tanah tersebut diambilkan dari berbagai pihak di Muhammadiyah. Akhirnya bisa terbeli.

Di atas tanah tersebut, saat ini berdiri megah gedung Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Padahal, pada 2015 lalu, tanah di sekitar kampus UMY tersebut sudah berada di kisaran angka lebih dari lima juta rupiah. Misalnya dikalikan 25 hektar (250.000 meter persegi), maka mencapai 125 milyar rupiah.

“Itu baru beberapa cuil kisah kecintaan, pengorbanan, dan dedikasi Pak Harto kepada Muhammadiyah. Jika mau kita daftar satu persatu, masih banyak sekali bantuan Pak Harto kepada Muhammadiyah yang tidak sempat diceritakan,” ujar Pak Sukriyanto, dengan agak  terharu, mengenang keluhuran budi Pak Harto.

Bahkan, Pak Sukriyanto pernah mendengar langsung dari Pak Ali Affandi, Pak Harto selalu berpesan kepada Pak Ali dengan sangat tandas. “Jika ada permintaan bantuan dari Muhammadiyah kepada saya secara pribadi, jangan ditolak. Langsung serahkan kepada saya suratnya,” ujar Pak Harto saat itu.

Tak heran ketika kurang lebih dua pekan sebelum Soeharto wafat, puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah di Surabaya mendoakan kesembuhan Presiden Soeharto yang saat itu masih terbaring sakit di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Anak-anak yang masih polos itu tak peduli dengan kecaman banyak pihak terhadap Presiden Soeharto.

Bahkan, pimpinan sekolah itu pun, karena khawatir ikut dikecam, tak mengakui kalau anak didiknya berdoa khusus buat Soeharto. Cuma, diakui bahwa doa untuk Soeharto dilakukan sebagai bentuk kilas-balik perjalanan Soeharto. 

Keluhuran budi Pak Harto di masa lalu, telah membuat Amien Rais mengajak rakyat Indonesia untuk memaafkan kesalahan Presiden Soeharto pada 2008 lalu. Meskipun ajakan ini dikecam sebagian aktivis, tidak sedikit dari tokoh utama Muhammadiyah yang mengamini ajakan Amien Rais.

Berbagai tanda cinta Pak Harto kepada Muhammadiyah tersebut, menegaskan kepada kita, bahwa cinta yang tulus akan tetap berakhir sebagai kebaikan yang abadi. Banyak insan tentu setuju, sosok Pak Harto adalah sosok hamba Allah yang amal kebaikannya tak pernah putus. Segala bantuan dan perhatian Pak Harto kepada Muhammadiyah, telah menjadi amal kesalihan yang kemanfaatannya akan terus dirasakan oleh anak cucu kita.

Bagaimanapun, pada berbagai melankolia kisah ini, dari sudut kita melihat kedermawanannya kepada Muhammadiyah, Pak Harto telah menjadi sketsa tanda cinta dan kebaikan yang mengatasi ruang dan waktu. Kebaikan akan senantiasa indah, ketika terus menjadi rahasia.


Kebaikan sejati adalah kebaikan yang tanpa citra maupun pencitraan. 

Kita sendiri tak bisa menyangkal, Sang Pencipta Yang Maha Rahasia, selalu memberikan berbagai rahasia alam semesta, sehingga kita terus bisa merasakan keindahan kehidupan ini. Jangan-jangan, tidak pernah bisa kita menyangkal, sebagai rahasia atau tidak, Pak Harto adalah Sketsa yang Indah bagi Muhammadiyah.

THOWAF ZUHARON
Penulis Buku Ayat Ayat yang Disembelih
Lahir di Klaten, pada September 1982. Ibunya adalah keluarga santri Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Babat Klaten, sedangkah ayahnya dari keluarga santri Muhammadiyah Kauman Yogyakarta. Sejak kecil, telinganya telah mendengar kisah nyata dari Nenek dan Ibunya tentang kejamnya para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Banyak kerabat dekat kakek-neneknya dari kalangan NU yang gugur, dibunuh dengan keji oleh para PKI, beberapa waktu sebelum meletus peristiwa Gestapu 1965. Kakeknya yang ada di Klaten, sebenarnya juga menjadi target pembunuhan para PKI sebelum 1965, tapi berhasil lolos. Buku ini (Ayat Ayat yang Disembelih) adalah dedikasinya untuk para keluarganya yang gugur dibunuh PKI. Sejak masih SMA, Thowaf Zuharon banyak berkecimpung di dunia riset, organisasi sosial, penulisan, dan bisnis. Ia banyak menulis Jurnalistik, Sastra, Artikel, dan berbagai genre penulisan lain di berbagai media dan buku. Berbagai penghargaan kepenulisan tingkat nasional pernah ia raih. Thowaf Zuharon berumah di facebook.com/thowafzuharon.
Lihat juga...