Warga Sleman Membuat Alat Pembeku yang Tahan Selama Tiga Hari

SENIN, 15 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto : Koko Triarko

YOGYAKARTA—Bermula dari pengalaman pahit menjual daging yang cepat basi akibat alat pendingin portable yang tidak maksimal, Riyanto (46), warga Desa Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta, bertekad untuk membuat alat pendingin portable sendiri. Setelah 5 tahun bereksperimen, akhirnya ia bersama tiga rekannya mampu membuat alat pendingin yang mampu mengawetkan daging dan beragam makanan selama  empat hari.

Riyanto


Alat pembeku dan pendingin portable sudah familier bagi para pedagang daging atau ikan. Alat itu dibutuhkan sebagai pembeku, pendingin dan pengawet makanan dalam sebuah kotak yang bisa dibawa ke mana-mana. Namun, sayangnya alat pembeku portable itu tidak mampu bertahan lama. Hanya sekitar 3-4 jam dan itu pun harganya mahal, serta hanya bisa dipakai berkali-kali selama satu tahun. Setidaknya, itulah pengalaman Riyanto, mantan pedagang daging ayam kampung yang mengalami pengalaman pahit menggunakan pembeku portable. 
“Dengan hanya mampu beku selama 3 jam, saya kesulitan untuk mengawetkan dagangan saya yang biasanya butuh dua-tiga hari penyimpanan dan tetap segar”, kata Riyanto, saat ditemui di rumahnya, Senin (15/2/2016).
Akibat dari alat pembeku portable yang tidak maksimal itu, Riyanto pernah dimarahi konsumen karena daging yang dikirimkannya tidak segar lagi karena alat pembeku portable yang digunakannya tidak bisa maksimal. Dan berangkat dari pengalaman itu, Riyanto kemudian bertekad untuk membuat alat pembeku portable sendiri yang kemampuannya jauh lebih sempurna dari alat pembeku portable yang selama ini dijual di pasaran.

Lalu, sejak tahun 2010, bersama ketiga rekannya, Bangkit Dadang, Agus Widarba dan Gaga, Riyanto mulai bereksperimen. Pertama kali yang dilakukan adalah membongkar alat pembeku portable buatan asing yang ternyata hanya berisi jell dan air. Dari kondisi itu, Riyanto dan ketiga rekannya mulai mengembangkan alat pembeku portable. Selama 5 tahun lamanya bereksperimen, akhirnya Riyanto menemukan formula khusus untuk alat pembeku portablenya yang terdiri dari 7 bahan kimia. Antara lain, tapioka, NH4CL dan sebagainya. Dengan formula 7 bahan kimia itu, alat pembeku portable buatan Riyanto mampu bertahan selama 24 jam di tempat terbuka, dan mampu bertahan selama 4 hari di tempat yang tertutup.
Dengan alat pembeku portable itu, Riyanto dan ketiga rekannya yakin, para pedagang daging, ikan, es dan buah serta minuman akan sangat terbantu dengan alat pembeku portabel buatannya. Dan, rencananya, pekan depan Riyanto akan memproduksi massal alat pembeku portable buatannya itu yang akan diperuntukkan bagi para pedagang ikan di Pantai Depok, Bantul, Yogyakarta. Alat pembeku portable buatan Riyanto itu rencananya akan diberi nama Maslaha Jell 99. Maslaha artinya maslahat bersama dan angka 99 itu, menurutnya karena semua tidak ada yang 100 Persen sempurna.
Riyanto mengatakan, alat pembeku portable buatannya mampu mencapai tingkat dingin 27 Derajat Celcius. Setelah digunakan, alat itu hanya perlu dibekukan lagi di dalam kulkas pendingin selama 8 jam. Begitu seterusnya dan mampu digunakan berkali-kali selama 3 tahun. Selain itu, meski menggunakan bahan kimia, alat pembeku portabel buatan Riyanto  terbukti aman. Bahkan, sudah mengantongi hak paten dalam negeri, dan saat ini sedang dalam proses pengurusan hak paten internasional.
“Jadi, keunggulann alat pembeku portable ini adalah jauh lebih tahan lama yaitu mampu bertahan selama 3 hari, sedangkan alat serupa lainnya hanya mampu bertahan selama 4-6 jam. Harganya hanya Rp. 15-20.000 perbuah, jauh lebih murah dengan alat serupa buatan pabrik yang biasanya bisa seharga Rp. 40.000 perbuahnya”, pungkas Riyanto. 
Lihat juga...