Warga Manfaatkan Belerang untuk Sabun Kesehatan

SENIN, 15 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Foto: Henk Widi 

LAMPUNG — Sumber air panas di Gunung Rajabasa di Desa Kecapi Kecamatan Kalianda Lampung Selatan Provinsi Lampung dimanfaatkan warga sekitar untuk pembuatan sabun belerang serta bubuk belerang untuk penyembuhan berbagai penyakit kulit.
Basroni sedang mengumpulkan serbuk belerang
Warga Desa Kecapi, Basroni (36) menyebutkan, usaha mengumpulkan belerang dilakoninya sejak belasan tahun lalu, meneruskan usaha sang ayah yang menekuni usaha yang sama. Tingginya permintaan untuk mengobati penyakit kulit diantaranya gatal gatal, panu, eksim serta keluhan penyakit kulit lainnya menjadikan lahan usaha masyarakat.
“Beberapa pesanan bahkan dari pengusaha produk kosmetik yang meminta dalam jumlah banyak sehingga kami melakukan pengambilan belerang setiap hari di lokasi ini,”ujar Basroni seraya meletakkan bilah bambu di aliran air saat ditemui Cendana News. Senin (15/2/2016).
Proses mendapatkan bubuk belerang yang awalnya basah tersebut memerlukan waktu beberapa hari, mulai dari pemasangan bilah bambu di aliran air panas, mengumpulkan lumpur, menjemur dan mencetak. 
Basroni mengungkapkan, belerang berupa lumpur tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu untuk memperoleh bubuk kering. Warga pengrajin pembuatan sabun belerang bahkan harus menginap di sekitar aliran air panas tersebut dengan membuat gubuk gubuk sebagai tempat tinggal.
Penjual serbuk berlerang
Belerang basah yang diambil dari bilah bilah bambu awalnya dikumpulkan dalam karung sebelum dikeringkan. Proses tersebut membutuhkan ketahanan fisik cukup tinggi karena ia harus selalu berada di atas aliran uap air yang panas dengan suhu rata rata 45-50 derajat celcius pada sumber utama, sementara pada aliran sesudahnya suhu air bisa lebih turun dikisaran 30-20 derajat celcius. Aliran air panas tersebut menurut Basroni sudah ada sejak berpuluh puluh tahun lalu dan dimanfaatkan warga sebagai sumber mendapatkan air panas dan sumber air kesehatan. Meski demikian di sebelah aliran air panas tersebut masih tersedia sumber air tawar yang dimanfaatkan warga untuk kebutuhan air bersih.
“Pembeli biasanya membeli bubuk belerang yang sudah kering untuk dibawa pulang ke rumah tapi sebagian lebih memilih mandi dan berendam di sini selama beberapa hari untuk memperoleh kesembuhan sempurna,”ujar Basroni.
Belerang yang sudah dikeringkan selanjutnya dicetak menyerupai kotak kotak kecil dan sebagian menggunakan bekas botol plastik air mineral. Satu bungkus kecil bubuk belerang dengan isi sekitar 150 gram dijual dengan harga Rp.5ribu, sementara ukuran besar bisa mencapai Rp.10ribu. 
Selama sepekan dan dalam kondisi ramai pengunjung, ia mampu memperoleh penghasilan sebesar Rp.500ribu. Selain pbentuk cetakan penjualan air belerang dengan harga Rp.2ribu per botol masih dilayani untuk pengunjung yang ingin mendapatkan kesembuhan beragam penyakit kulit.
Selain dijual di lokasi Way Belerang Kecapi, beberapa kuintal belerang yang sudah dikumpulkan oleh Basroni sebagian dikirim ke lokasi pemanidan air panas Desa Sukamandi Kecamatan Kalianda. Way Belerang Sukamandi merupakan salah satu titik sumber air panas lain yang ada di Lampung Selatan namun tidak mengeluarkan kadar belerang tinggi seperti yang ada di Desa Kecapi. Menurut Basroni, ia bekerjasama dengan warga lain untuk menjual belerang yang digunakan sebagai bedak saat mandi di aliran air panas yang diakini bisa menyembuhkan penyakit kulit.
“Saya pernah mendapat tawaran untuk sebuah pabrik kosmetik namun permintaan cukup tinggi nyaris satu ton perbulan tapi tidak bisa saya penuhi akibat sumber belerang yang masih diambil secara manual,”ungkap Basroni.
Beberapa warga masyarakat, ungkap Basroni memanfaatkan pembuatan sabun belerang dengan cara lebih modern diantaranya untuk industri rumah tangga diantaranya dengan bahan pembuatan sabun pada umumnya. Ia menjelaskan proses pembuatan sabun belerang cukup sederhana dengan bahan utama belerang.
Bahan-bahan :
a.  Tepung belerang : 250 gr
b.  Minyak gemuk kelapa sawit : 1 kg
c.  Minyak kelapa : 3 liter
d.  Larutan kostik soda : 2 liter
e.  Air bersih : 1 liter
f.  Tartrazine (gincu kuning) : secukupnya
Tepung Belerang
Cara pembuatan :
Bahan tepung belerang, minyak gemuk kelapa sawit, minyak kelapa dipanaskan hingga hancur dan menyatu. Selanjutnya bahan bahan tersebut diaduk perlahan sambil dimasukkan bahan larutan kostik soda lalu masukkan air bersih. Aduk terus hingga mengental dan baru masukkan bahan tatrazine. Kemudian adonan dimasukkan ke dalam cetakan yang telah disediakan sehingga terbentuk sabun belerang.
Basroni mengakui, meski potensi air belerang dan belerang kering sangat tinggi namun sebagian masyarakat masih belum banyak yang memanfaatkan karena fokus pada usaha pengolahan lahan perkebunan di lereng pegunungan Rajabasa. Selain itu potensi wisata yang ada di Way Belerang Kecapi atau dikenal dengan Way Belerang Simpur saat ini lebih banyak dimanfaatkan warga untuk kawasan wisata sehingga bisa menambah pendapatan ekonomi masyarakat pedesaan di lereng Gunung Rajabasa tersebut. Ia mengakui saat ini beberapa warga yang memanfaatkan belerang untuk pembuatan sabun diantaranya Maimunah, Ahmad serta warga lain yang sehari hari tinggal di sekitar area air panas tersebut.
Lihat juga...